KLASIS BOJONEGORO

BACK

GKI BLIMBING



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
(Tempat Kebaktian Sementara)
Kapel SATI (Gandum Mas)
Jalan Raya Karanglo 94-103
Malang

ALAMAT KESEKRETARIATAN
Jalan Kerapu 10 Malang
Telp. (0341) 472172,
Email: gkiblimbing014@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07:00
Kebaktian Umum II pk.09.00


PENDETA
Pdt. Kuswanto
Jalan Ikan Layur I/17
Malang 65142
Email: kussy@telkom.net


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Berbicara GKI Blimbing tidak bisa lepas dengan dan dari para tokoh seniornya di jaman itu sekitar  tahun 1967. Trio tokoh utama adalah Alm. Bp. Abdi Maseh dengan sepeda “sundap koplingnya” yang dipakai setiap hari untuk mencari domba-dombanya. Alm. Bp. Cornelius Handriyo dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi. Dan Alm. Bp. Haditanojo yang sangat disiplin dalam memegang dan mengendalikan keuangan pada saat itu.

Ketika masih berstatus  Pos PI (sekarang Pos Jem), GKI Blimbing yang beralamat di Jl. A. Yani Utara No. 29 Kelurahan Purwodadi Kecamatan Blimbing ada tema yang terpampang di atas mimbar kecil saat itu “KARENA ITU PERGILAH, JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURIDKU DAN BAPTISLAH MEREKA DALAM NAMA BAPA DAN ANAK DAN ROH KUDUS” (Matius 28:19)

Dibawah asuhan dan pendampingan oleh Alm. Pdt. Gamaliel, Pdt. Hananiel dan  dengan dasar Tema yang terambil dari Firman Tuhan tersebut Pos  PI GKI Blimbing akan semakin tumbuh dan GKI Tumapel  Malang (saat itu GKI Malang) sebagai induknya sangat bersyukur mempunyai Pos PI Blimbing yang begitu potensial baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya yang terus berkembang. Kegiatan Katekisasi, Pemahaman Alkitab dan Latihan Paduan Suara diselenggarakan secara rutine sedangkan  Kebaktian umum diselenggarakan pada hari Minggu dengan Kebaktian hanya satu kali pada sore hari dengan jumlah jemaat ketika masih Pos PI diantara 58 – 80 orang.

Tgl. 20 Juli 1976 Pos PI Blimbing diteguhkan untuk menjadi Gereja Cabang GKI Tumapel  Malang, (sekarang Bajem)  dengan beralamat ditempat yang baru di Jl. Candi Kalasan No. 34 Kelurahan Blimbing Kecamatan Blimbing Kota Malang.

Adapun susunan pengurusnya ketika itu antara lain: Pengasuh/Pendamping  Almarhum  Ibu Pdt.  Lydia Zakaria Penasehat Alm. Bp. Abdi Masih, Ketua Alm. Bp. C. Handriyo, sekretaris Bp. Suwadji, dan anggota Almarhum Bp. Budiyatno dan Bp. Soeratman. “Berakar, bertumbuh dan Berbuah” sebagai tema pada saat itu. GKI Cab. Blimbing terus berkembang dengan kondisi jemaat yang sangat guyub, tingkat kekeluargaan sangat dijunjung tinggi dan dilandasi dengan kasih Kristus merupakan modal utama sehingga Berkat Tuhan senantiasa mengalir dan Tuhan mau mendengar Doa – Doa para hambanya dan JemaatNya yang berseru-seru kepadaNya. Akhirnya GKI. Cab. Blimbing dapat membeli rumah yang dibelakangnya seluas ± 250m2. Sehingga asset luas tanah dan bangunan  GKI Cabang Blimbing menjadi sejumlah 500 m2 dan tentunya jumlah jemaatnyapun juga bertambah menjadi  80 – 127 orang pada setiap kebaktian.

Berkat Tuhan Yesus begitu luar biasa dalam memakai hambanya yaitu bapak  Pdt. Budiono A.Wibowo yang tidak pernah lelah dan  putus asa dengan kesabaran dan ketekunannya dari beliau ini dan didampingi para panitia pendewasaan maka pada Tgl. 16 Januari 1992 GKI.Cab Blimbing  di Teguhkan  menjadi Gereja yang Dewasa-Mandiri dan tentunya lepas dari induknya, GKI Tumapel  Malang.

Sebagai Majelis Jemaatnya yang  mula-mula antara lain Almarhum Bp.C. Handriyo, Bp. Suwadji, Alm. Bp. Ys. Haditanoyo, Bp. Tjipto Yudiono, Bp. Yohanes Tarigan, Ibu Sherli, Ibu Dwi Astuti, Bp. Nico Wibowo, Ibu Emilia.

Oleh karena sudah Dewasa, maka GKI Blimbing senantiasa terus berproses bersama dengan para Majelis Jemaatnya dan didukung oleh para Komisi-Komisi  yang ada.  Satu tahun kemudian setelah menjadi jemaat yang dewasa, tepatnya pada Senin Tgl. 07 Juni  1993, GKI Blimbing melaksanakan kebaktian Pentahbisan Pendeta atas diri Bp Yohanes Bambang Mulyono S.Th.

GKI Blimbing sejak didewasakan terdaftar sebagai  salah satu anggota Klasis Madiun dan kemudian beralaih ke Klasis Banyuwangi demi keseimbangan Potensi yang ada di tingkat Klasis.

Di tingkat lokal kita juga menjalin kerjasama dengan gereja-gereja di Malang, begitu juga Sebagai wujud pemenuhan kewajiban dan hak ditingkat RT/RW/KELURAHAN, GKI Blimbing juga  senantiasaikut berpartisipasi dalam berbagai hal yang diperlukan oleh warga setempat hidup rukun damai dan harmonis. Jumlah Jemaat meningkat dengan pesat, kebaktian diadakan pada hari minggu dua kali jam 07.00 pagi jumlah jemaat yang hadir rata-rata sekitar 170 jiwa dan jam 17. 00 sore yang hadir rata-rata 120 jiwa.

Oleh karena perkembangan jemaat yang sangat signifikan sehingga gedung Gereja kurang bisa menampumg maka diputuskanlah melalui keputusan Rapat Majelis untuk di RENOVASI. Berbagai usaha dan upaya serta cara telah ditempuh oleh panitia pembangunan sehingga terbitlah IMB pembangunan dari pemerintah Kota Malang.  Pembangunan gedung Gereja telah dilaksanakan sampai sekitar 60% selesai dan kebaktian tetap berjalan dengan lancar. Namun disisi lain bagi pihak warga yang terusik dan memang ada provokatornya, sehingga bisa menggalang kekuatan dari warga masyarakat yang sangat tidak setuju dengan adanya pembangunan gedung Gereja tersebut. Sehingga munculah dua kubu antara pihak gereja dengan pihak warga masyarakat yang menolak pembangunan gedung gereja tersebut. Perselisihan ini sampai dilanjutkan di tingkat PTUN (Pengadilan Tata Usaha  Negara) bahkan sampai di tingkat MA (Mahkamah Agung). Yang sampai sekarang belum ada putusan akhir sementara ini di pihak gereja ditingkatkan sampai di tingkat Peninjauan Kembali (PK), kesemuanya ini kita telah ditangani oleh Pengacara dari Pihak Gereja Bp. Rahmat Tengadi, SH.

Oleh karena itu sesuai dengan Surat Keputusan Walikota dan surat keputusan yang dikeluarkan oleh Putusan Hakim yang dari PTUN serta pengerahan massa ketika itu sehingga pada tgl 14 Juli 2002, Jemaat GKI Blimbing tidak diperbolehkan lagi beribadah di Jl. Candi Kalasan. Lalu selanjutnya kebaktian dilaksanakan di rumah salah satu Penatua, kemudian karena tidak tertampungnya jemaat yang beribadah, maka pada tanggal 21 Juli 2002 diputuskan untuk beribadah dengan menyewa di Rumah Makan Jane Internasional, Jl. Letjen S. Parman 104. Walaupun sudah pindah di tempat yang dianggap representative, warga sekitar Jl. Candi Kalasan yang sudah sangat anti tetap tidak menyukainya dengan melempar batu pada saat kebaktian di rumah makan tersebut.

Dengan adanya kejadian tersebut, maka Persidangan Majelis Jemaat memutuskan untuk mencari dan menyewa tempat yang lebih aman. Sehingga pada tgl 08 des 2002, jemaat GKI Blimbing mulai beribadah di STT SATYA BAKTI, Jl Raya Karanglo 93-104 Malang. 

Pada Juni 2004i, Pdt Yohanes Bamabang Mulyono S.Th, menerima panggilan ke GKI Perniagaan Jakarta, untuk menggantikan beliau yang mutasi ke Jakarta, Majelis Jemaat GKI Blimbing memanggil untuk perkenalan atas diri Sdr. Kuswanto. Proses perkenalan dan masa Orientasi  Sdr. Kuswanto berlangsung kurang lebih 2 tahun, tepatnya pada Senin 06 Nopember 2006 Pnt. Kuswanto di tahbiskan menjadi Pendeta dalam kebaktian Penahbisan Pendeta yang dipimpin oleh Pdt. Andreas Agus Susanto sebagai Pendeta Konsulen bagi jemaat Blimbing.

Ketika GKI Sinwil Jatim berulang tahun ke 77, GKI Blimbing keluar dari Gereja di Jl. Candi Kalasan 33 (dari tahun 2002) sudah berjalan 9 tahun lebih.

Sungguh kami menyadari bahwa sebagai Jemaat kami mengalami pasang surut perjalanan, bagaimanapun juga “Gereja” yang tidak memiliki “gedung Gereja” yang permanen tentu mengalami kendala-kendala dalam pertumbuhannya. Tetapi kami tidak pantang menyerah dan kami akan terus berusaha dan berjuang.

Inilah tonggak-tonggak sejarah secara ringkas  perjalanan Jemaat  GKI Blimbing, apabila ada nama-nama para aktifis dan para partisipan yang tidak kami sebutkan disini kami mohon maaf dan Tuhan sang Kepala Gerja tidak mungkin akan melupakan segala apa yang sudah diperbuatnya untuk perkembangan, pembangunan GKI. Blimbing.

Kedepan kami tetap optimis dan percaya bahwa Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja mempunyai rencana yang indah bagi Jemaat-GerejaNya

 

Soli Deo Gloria.

GKI BONDOWOSO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
Jalan Yos Sudarso 147 B
Bondowoso 68212


ALAMAT KESEKRETARIATAN
Jalan Letnan Sudiono 19/23
Bondowoso 68211
Telp. (0332) 421287;
Fax. (0332) 427001
Email: gkibondowoso@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk. 06.00
Kebaktian Umum II pk. 16.30
Kebaktian Pemuda dan Remaja pk. 09.00


PENDETA
Pdt. Martin K. Nugroho
Jalan Letnan Sudiono 19/23

Bondowoso 68211
Email: martin.irma@gmail.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Awalnya Jemaat  Bondowoso pada Tahun 1932 dilayani oleh Jv/d Blinh, sebagai Hoofd Onderwijzer Christelijke Hollandse Chinese School (chr HCS Bondowoso). Dengan 7 orang anggota / Jemaat yang dilayani baptisan dewasa dan sidi sejak tahun 1928-1932, baik oleh Pdt. H.W. Vd Berg di Bondowoso, Pdt. Kisbri Gereja Pantekosta Situbondo. 7 jemaat itu adalah, Tjan Kian Ho, Tjan Kian Pa, Oh Ping Nio, Tjan Djie Liang, Ong Tiam Nio, Tjan Hong An dan Tjan Hong Twan putra Bpk. Tjan Djie Liang.

Kemudian datang  W.A. v/d Hors pengganti J v/d Blinh dari Netherland membawa sebuah orgel merk LINDHOLM pembungkus orgel tersebut dibuat dari peti triplek yang pada akhirnya dibuat mimbar. Pemain orgel saat itu, Bapak M.J. Paulana. Kemudian datang D.S. HAC Hildering dari Surabaya bersama Pendeta Oei Soei Tiong dari Bangil ke Bondowoso. Sebulan satu kali Pendeta Oei Soei Tiong datang untuk melayani Khotbah di Jemaat Bondowoso. Pada tanggal 26 Agustus 1933, lima orang pemuda-pemudi di baptis oleh Pendeta Oei Soei Tiong. Dengan nomor Induk Anggota dari no. 8-12, Kelima jemaat itu adalah, Gan Tjing Hien (Timotius Harsono Gandawidjaja) yang berusia 92 th (saat sejarah ini dituliskan), Gan Tjing Hian (Thomas Rumijanto  Ganda widjaja), Gan Tjing Twan, Oei  Tiong Sien ( Hoo Gwan – Eddy ), Oei Tiong Nio ( Maria Wijono )

Setelah bertambahnya 5 orang anggota maka, tanggal 9 September 1933 dibentuklah sebuah gereja yang diberi nama Djoemaat Kristen Tiong Hwa Bondowoso, sebelum terbentuknya Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee ( THKTKH ).

Terbentuknya Jemaat Kristen Tiong Hwa di Bondowoso ini juga hasil perjuangan dari bapak Tjan Kian Pa yang lahir di Bondowoso pada tanggal 12 Desember 1906. Jumlah anggota Jemaat Baptis Sidi sampai akhir tahun 1933 sebanyak 12 orang, Kebaktian berlangsung dan pelayanan saat itu dibantu oleh rekan-rekan GKDW (Geredja Kristen Djawi Wetan  sekarang GKJW) dan GPIB Bondowoso: Yosafat Paulana (GKDW), E. Karimin (GKDW), M. Nugroho (GKDW), Debora Paulana (GPIB), Mbak Koba (GPIB), M. Paulamahuni (GPIB), dan Pdt. P. Wanay (GPIB)

Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee diresmikan  pada tgl. 28 Februari 1934 di Bangil. di bawah Khoe Hwee yang berkedudukan di Surabaya, yang terdiri dari 7 Jemaat kecil di Malang, Probolinggo, Kraksaan, Mojokerto, Bondowoso, Jatiroto,  Mojosari dan Bangil. Dengan Ketua adalah Bapak The Tjik Kie dan sebagai Sekretaris Bapak Chen Ie Lie. Utusan Bondowoso ke persidangan / peresmian Vergadering pendirian Road Gredja Besar Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Oost Java. pada hari Kamis tanggal 22 Februari 1934 di Bangil adalah Tjan Kian Pa, Tjan Kian Hoo, Tjan Kiem Tjoan, Tio Swie Gwan dan Gan Tjing Hien.

Akhirnya perkembangan pekabaran Injil di Bondowoso berjalan  pesat. Pada peringatan Tjap Go Mee tahun 1934, dengan mengendarai sepeda, 4 orang yakni Tjan Kian Pa, M.J. Paulana, Nugroho dan E. Karimun.  mengadakan Pekabaran Injil ke Pakisan, yang disambut oleh 20 orang yang akhirnya diadakan kebaktian pada setiap hari Sabtu pukul. 16.00, kemudian disepakati untuk  membangun rumah ibadah sederhana oleh Bapak Koo Kiem Tjhan.

Sangat disayangkan, pada bulan Nopember 1947 terjadi kerusuhan di Pakisan termasuk di Maesan, rumah ibadah ini dihancurkan termasuk isinya, para jemaat mengungsi.

Mulai  1 Juni 1937 rumah Ibadah pindah di sebelah RSU Bondowoso dan kehadiran Jemaat pada tahun 1937 kurang lebih 70 orang. Pada tahun 1939 J.B. Suitela  dari Jember pindah ke Bondowoso sebagai Onwanger Slankas (konsulen). Bapak J.B. Suitela melayani 3 gereja di Bondowoso Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee ( THKTKH ), Greja Kristen Djawi Wetan ( GKDW ) dan  Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat ( GPIB ).  Bapak J.B. Suitela Meninggal pada tanggal 21 April 1948 pkl. 12.30 di Rumah Sakit Malang dan dikebumikan pada tanggal 22 April 1948 pukul 15.30.

Kebaktian umum yang biasanya dilaksanakan di Christelijke Hollandse Chinese School (Chr HCS), sejak tanggal 2 Februari 1934 pindah kerumah Bapak Tjan Kian Paa di Blindungan dilaksanakan tiap minggu malam. Dirumah Bapak Tjan Kian Paa ini disediakan 72 buah kursi lipat bekas kursi bioskop, hasil dari tukar mobil taksi Cevrolet Turing milik pribadi Bapak Tjan Kian Paa. Tanggal 7 Desember 1939 THKTKH – Khu Hwee Oost Java diakui sebagai Gereja yang berbadan hukum menurut Besluit Gouverneur Generaal no. 17  ( staatsblad no. 694 ) sampai sekarang digunakan oleh  Gereja Kristus Tuhan. Perkembangan Sinode GKI Jawa Timur tahun 1941 ada 8 Jemaat:  Bangil (terdiri dari Besuki, Jatiroto, Lumajang, Kraksaan, Porong, Lawang, Krian, Tuban, Gresik, Gudo, Babad dan Jombang), Bondowoso (terdiri dari  Pakisan, Maesan, Wonosari, Jember, Tanggul, Banyuwangi), Malang, Mojokerto, Mojosari, Surabaya – (Sambongan), Surabaya- (Jl. Johar) dan Madiun (terdiri dari Kediri, Ponorogo, Ngawi, Baron, Kertosono, Gurah, Sarangan dan Ngerong).

Dalam  tahun 1947 Pendeta Thio Kiong Djien seorang hamba Tuhan berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan datang ke Jawa Timur melayani di Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee  Johar Surabaya dan dalam  tahun 1951 melayani di Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee  Bondowoso sampai dengan tahun 1960. Beliau tinggal di rumah yang disewa Bapak Tjan Kian Hoo Jalan Olah raga ( Let. Sudiono ) 19 Bondowoso, juga berfungsi sebagai tempat ibadah. Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Bondowoso berkembang pesat sehingga banyak yang tidak mendapat tempat duduk dalam kebaktian, pada tanggal 1 April 1952 diputuskan untuk sewa tempat ibadah di GPIB Immanuel Bondowoso.

Pada tanggal 31 Oktober 1960 Majelis Gereja GKI Bondowoso menyewa sebidang tanah dan rumah dari Bapak Mas Katjungkamari di jalan olah raga ( sekarang Jalan Letnan Sudiono ) harga sewa tanah setahun Rp 600,- (enam ratus rupiah) Selama 30 tahun dibayar lunas sebesar Rp. 18.000,- ( delapan belas ribu rupiah ) perjanjian sewa tanah ini didepan Notaris Tjan Gwan Kwie Djember.

GKI Bondowoso dikatakan unik karena salah satu gereja di Jawa Timur yang dilayani langsung oleh Pendeta Oei Soei Tiong dan D.S. H.A.C. Hildering, dan tanah untuk membangun gedung gereja diberi oleh seorang Haji jaitu Bpk. Haji Atmodiwirijo dengan surat nomor : 389/XIII.a/62 pada tgl. 2 Oktober 1962. Karena surat penyerahan tersebut diatas hilang, kemudian dibuat surat kedua oleh Bpk. Haji Atmodiwirjo pada tanggal 21 Januari 1969 yang ikut menandatangani kedua orang anak dari Bapak Haji Atmodiwirjo yaitu Bapak Ariefien dan ibu  Asriono. Sejak kehadiran Pendeta kedua yaitu Pdt. T.J. Lintang (Lie Tie Yong) pada tahun 1961 maka setahun kemudian beliaulah yang meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan sebuah gedung gereja di Jl. Cemara (Yos Sudarso) yang diresmikan pada tanggal 02 Desember  1964. Dalam perkembangan lebih lanjut maka gedung ini mengalami perombakan 26 September 1984 – selesai 17 Maret 1985 dengan biaya Rp. 3.868.235,- khususnya pada bagian depan.

Surat hibah tersebut menjadi satu-satunya pegangan sampai pada tahun 2007 ketika di mulainya upaya untuk mendapatkan sertifikat hak milik selama bertahun-tahun. Gedung gereja ini belum memiliki SHM yang menjadi tanda kepemilikan GKI, namun atas berkat dan doa dari segenap jemaat maka pada 11 September  2008 – SHM gedung ini sudah diterbitkan. Sejak sertifikat tersebut diterbitkan maka kami berbesar hati untuk memulai renovasi yang menyeluruh mengingat usia bangunan dan sarana ibadah. Proses renovasi dimulai pada tanggal 30 Agustus 2010 mengingat telah dikeluarkannya keputusan Bupati Bondowoso berupa IMB renovasi gedung no: 188.45/572/430.42/2010 pada tanggal 1 Agustus 2010 dan selesai pada 18 April 2011.

Tanah sewa di Jalan Olahraga ( sekarang Jl. Let. Sudiono 19 ) ini akhirnya dibeli pada tgl. 24 April 1973. Kemudian dibangun pada tgl. 24 September 1977, peletakan batu pertama gedung Balai Pertemuan GKI Bondowoso oleh Pendeta Wiede Benaja, S. Th ( Kwee Tjhing Swie )  di PTK-kan  20 Nopember 1971 dan ditahbiskan di GKI  Bondowoso tgl. 21 Juli 1973 (– Pebruari 1981) sebagai pendeta ketiga. Selain pendeta-pendeta yang sudah disebut sebelumnya maka berikut ini adalah nama-nama pendeta konsulen di GKI Bondowoso; Pdt. Kwee Tik Hok (1960-1961), Pdt. MAM Sasabone (1971-1973), Pdt. MAM Sasabone (1979- 1979), Pdt.  Samuel Tjahjadi, S.Th (1981-1984), Pdt.Maria Gamaliel, S.Th (1989-1991), Pdt. Setyahadi, S. Th (1995-2000), Pdt.Djusianto, S.Th (2003-2006) dan Pdt B.J. Siswanto, S. Th (2006-2011). Dan berikut ini adalah nama-nama pendeta jemaat GKI Bondowoso ke-4 sampai ke-7; Pdt. Timotius Istanto, Sm.Th (Tan Hwie Liang, 1984-1989), Pdt.Budianto Puspahadi, S.Th dari GKI Tulungagung (1991-1995), Pdt. Edy Sumartono, S.Th, ditahbiskan di GKI  Bondowoso pada tanggal 17 April 2000 (2000–2004). Pendeta  ke 7 adalah, Pdt. Martin Krisanto Nugroho, M.Div yang ditahbiskan di GKI  Bondowoso pada tanggal 18 April 2011.

Berikut adalah Persidangan-persidangan yang pernah terjadi di Bondowoso; Persidangan Sinode III (24 – 26 November 1954), Persidangan Sinode VII (24 – 27 November 1958), Persidangan Sinode XXXIII (25 – 28 Agustus 1980), Persidangan Sinode XVIV (11 – 14 Juni 1990), Persidangan Majelis Klasis X (28 – 30 Juni 1999), Persidangan Majelis Klasis XX (16 – 18 Juni 2008) dan Persidangan Majelis Sinode Wilayah (10 – 13 September 2008).

GKI DENPASAR



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Raya Puputan 156
Niti Mandala, Renon - Denpasar
Telp/Fax. (0361) 264508 / 226869
Email: sekretariat@gki-denpasar.org

 

BAKAL POS JEMAAT:

Hotel ASTON Lantai 1 Blok G16
Jln. Gatot Subroto Barat No.283
Denpasar Utara - Bali 80231


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.30 WITA
Kebaktian Umum II pk.10.00 WITA

Kebaktian Umum III pk.18.00 WITA

Kebaktian Umum Bapos pk.09.00 WITA
Kebaktian Remaja pk.10.00 WITA


PENDETA

Pdt. Yoel Ang

Jln. Tukad Badung XIII / 8
Denpasar - Bali
yoelang@gmail.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Latar Belakang

Perkembangan perekonomian di Bali, krisis nasional multi-dimensi serta berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia khususnya disekitar tahun 1997-1998; telah melatar belakangi perpindahan sejumlah keluarga anggota jemaat GKI dalam lingkup Sinode Wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat ke Denpasar Bali.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, ternyata mereka juga merindukan suatu kesempatan bersekutu dan beribadah bersama dalam nuansa dan naungan ajaran GKI.Seiring dengan kenyataan tersebut, adalah idealisme   Pdt. Em. Abdi Widhyadi (berbekal pengalamannya dari penjemaatan GKI di Batam);

Yang setelah melihat sepintas budaya dan tradisi masyarakat Bali, ingin menghadirkan GKI di Bali dengan konsep “Pantai Damai”. Suatu konsep yang isinya akan menantang kesanggupan seluruh warga GKI; yakni jikalau kelak persekutuannya mau hadir di Bali haruslah mampu berperan dan berpenampilan beda dari pada GKI dimanapun saja.

“Pantai Damai”

Selain GKI harus dapat menjadi pusat perjumpaan budaya, jugadapat menjadi wadah bagi orang yang mau berkontem plasi dan bermeditasi, bukan hanya untuk warga GKI dari Indonesia belaka, tetapi bagi siapa saja yang mau mencari pendamaian jiwa. Sebab itu GKI di Bali juga harus bisa berada dan terwujud di suatu tempat yang dekat pantai, dilembah perbukitan, dekat persawahan dan jika perlu dekat pegunungan. Sebuah tempat yang menyatukan, suatu wadah perjumpaan dari alam, dan jikalau ada juga manusia yang berada disana, maka terjadilah secara utuh perjumpaan seluruh ciptaan Allah.

“Paguyuban Warga GKI”

Memperhatikan kerinduan anggota jemaat dari pelbagai GKI yang sedang bermukim di Bali, serta merespon gagasan “Pantai Damai” tersebut; maka diawal tahun 1999 dengan pimpinan Tuhan Yesus Kristus, Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman Surabaya (GKI Ressud) berinisiatif dan menyatakan komitmennya untuk mewujudkan kehadiran jemaaat GKI di Bali, yang nantinya juga diharapkan dapatlah berperan menjadi mandataris GKI dalam melaksanakan misi-misi itu.

Ditentukanlah kota Denpasar sebagai tempat pusat kegiatan dari pelayanan tersebut. Penatua Sudibiah M.P diutus bersama Pdt. Em. Abdi Widhyadi untuk bertemu dengan Bp. Leo Emmas (anggota GKI Ressud yang menetap di Denpasar). Dalam rangka penjajakan dan peninjauan di Bali. Pada tanggal 27 Februari 1999 terjadilah pertemuan para simpatisan GKI di rumah Bp. Leo Emmas. Pada saat itu pulalah terbentuk Paguyuban Warga GKI Di Bali yang kemudian ditandai dengan kebaktian rumah tangga perdana di rumah tersebut pada hari Jumat, 12 Maret 1999 dihadiri 23 warga GKI.

“Pos PKP”

Pertemuan perdana itu membuahkan pertemuan kedua di rumah Keluarga Yopie Moningka berupa kebaktian pengucapan syukur HUT pernikahannya tanggal 8 April 1999; pada saat itulah dibentuk pengurus Paguyuban Warga GKI di Denpasar.

Rapat pertama diadakan di rumah Bapak Angky di jalan Gatot Subroto 264B Denpasar, yang dilanjutkan dengan rapat kedua pada tanggal 17 April di rumah Bapak Toni (Alm) di jalan Hayam Wuruk 98D, sebuah toko milik PT. Citra Mandiri.

Melalui Bapak Toni (Alm) salah seorang pengurus inilah, Paguyuban Warga GKI di Denpasar mendapat pinjaman dari Bapak Indrijo Laksmono tempat untuk beribadah mingguan; dilantai dua dari toko PT. Citra Mandiri tersebut. Setelah ruangan di lantai dua ruko itu direnovasi (nyaman sebagai tempat ibadah), maka pada tanggal 22 April 1999 jam 19.00 wita, dilakukanlah Kebaktian Pembukaan sarana ibadah tersebut yang dihadiri oleh 30 warga GKI.

Selanjutnya sejak tanggal           9 Mei 1999 diselenggarakan Kebaktian Hari Minggu secara teratur di tempat ini, sementara segala kegiatanpun diberkatiNya hingga berjalan lancar dan gencar. Nama Paguyuban Warga GKI di Bali lambat laun pudar dan berganti dengan Pos Persekutuan, Kesaksian, Pelayanan Gereja Kristen Indonesia Residen Sudirman.

Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman kemudian mengaktifkan tempat ini sebagai Pos PKPnya di Denpasar – Bali dengan menugaskan penggagasnya yakni: Pdt. (Em) Abdi Widhyadi sebagai tenaga perintis serta pembinanya. Sebagai koordinator pengurus Pos PKP di Denpasar ini diangkatlah Bapak Budi Harianto dan sebagai Majelis jemaat yang mewakili gereja induknya ditugaskanlah Ibu Pnt. Mery dan Bapak Pnt. Leo Emmas.

Sejalan dengan waktu setahun, ruang berkapasitas maksimum 40 orang ini semakin tidak mampu menampung pertambahan jumlah pengunjung kebaktian. Sehingga pada tanggal 4 Juni 2000, kebaktian hari Minggu dipindahkan ke ruang serba guna di Gedung Grapari Telkomsel lantai 3, jalan Raya Puputan, Renon – Denpasar ; yang berdaya tampung lebih besar dan mampu menampung hadirin yang rata-rata setiap Minggu berjumlah 70 orang.

Di gedung inilah kebaktian Anak dan Remaja mulai dapat dilaksanakan; talenta-talenta yang dimiliki jemaat yang tekun hadir; pun mulai tampak pula. Kerjasama sambil saling melayani dengan gereja-gereja seazas lainnya di Bali mulai terjalin dan kehadiran GKI di Denpasar pun mulai diketahui oleh lebih banyak mantan anggota GKI yang tinggal di Bali.

Pengangkatan tiga Majelis baru guna peningkatan pelayanan jemaat juga dilakukan disini. Adapun penatua yang diteguhkan adalah Pnt. Djinaldi Gosana, Pnt. Gunawan Santoso dan Pnt. Naniek W Moningka.

Namun sayang, belumlah genap setahun sewa tempat tersebut tidak dapat diperpanjang, maka Pos PKP terpaksa harus dipindahkan lagi ke lantai 2 sebuah gedung kontrakan; yang kini dikenal sebagai gedung GKI, di jalan Raya Puputan 108 (kawasan Nitimandala – Renon) Denpasar.

Semenjak tanggal 6 Mei 2001 hingga kini, Kebaktian Minggu serta kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan dengan penuh suka-cita di tempat yang serbaguna ini.

Mengingat ruang serbaguna yang akan digunakan sekarang tersebut masih berstatus kontrak, dan belum jelas sampai kapan bisa dipergunakan, maka ada sebuah kebutuhan yang cukup mendesak untuk mengupayakan agar Pos PKP GKI di Denpasar memiliki sendiri sebuah fasilitas yang mampu menampung semua potensi kegiatannya, baik sekarang maupun di masa depan.

“GKI FCC”

Untuk menunjang baik pertumbuhan jemaat, kebaktian maupun dalam mewujudkan “Pantai Damai” pada akhirnya; maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja (PPGG) yang berpusat di Surabaya, serta didukung oleh anggota jemaat dari GKI: Emaus, Merisi Indah, Manyar, Kutisari Indah, Darmo Satelit, GMS dan GKI Ressud sendiri.

Adapun harapan yang ingin dicapai terlebih dahulu dari PPGG ini adalah sebuah “GKI – Fellowship dan Community Care Center” (GKI FCC) yakni suatu sarana Pusat Persekutuan dan Kepedulian kepada Masyarakat yang dikelola oleh Gereja Kristen Indonesia.

Perlu dicatat, bahwa sebenarnya sejak awal perintisannya, Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman sangat berharap dan telah mengusulkan agar “Proyek Bali” ini bukan hanya memiliki sebuah jemaat setempat, melainkan dapat menjadi milik bersama dan untuk dikembangkan bersama pula oleh seluruh jemaat Gereja Kristen Indonesia, baik yang berada dalam lingkup Sinode (Wilayah) Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Sebagaimana teruraikan pada “Latar Belakang”, adalah dua alasan utama yang melandasi harapan dan usulan tersebut diatas yakni:

  1. Para anggota jemaat yang dilayani di Denpasar ternyata berasal dari berbagi jemaat GKI dari ketiga sinode wilayah
  2. Visi keberadaan dan pelayanan GKI di Denpasar tidak hanya terbatas pada melahirkan sebuah jemaat baru GKI, tetapi seyogyanya dikembangkan sebagai wadah bagi perwujudan kepedulian warga GKI kepada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, terutama di sekitar Denpasar, Bali.

 

“Bakal Jemaat”

Setelah melalui beberapa kali pertemuan antara GKI Residen Sudirman dengan Klasis Banyuwangi, diputuskanlah dalam sidang Kalis Banyuwangi bahwa dengan rahmat Tuhan Yesus Kristus; maka pada tanggal 10 Oktober 2001, Pos PKP GKI Residen Sudirman di Denpasar diresmikan menjadi Bakal Jemaat GKI Residen Sudirman di Denpasar.

Bakal Jemaat (Bajem) yang baru lahir ini terus termotivasi, baik oleh pendeta pembinanya maupun oleh induknya: Majelis Jemaat GKI Ressud. Kian hari kian dilatih untuk terus mandiri sehingga kemudian pengelolaan persekutuan, kegiatan-kegiatan dan pengelolaan keuangannya pun akhirnya diotonomkan penuh kepada Panitia Bajem Denpasar, untuk memper tanggungjawabkan segala sesuatunya setara dengan jemaat yang telah dewasa.

Pada saat itulah Panitia dan para aktivis di Bakal Jemaat GKI Denpasar ini mencanangkan harapannya bersama Pdt. Em. Abdi Widhyadi selaku perintis; bahwa jika Tuhan berkenan, Bakal Jemaat ini dapat menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri tidak lebih dari dua tahun setelah pembajeman ini.

“Pelembagaan GKI Denpasar”

Ujian dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi Bajem GKI di Denpasar pun makin bervariasi dan kian meningkat seiring dengan pemberitahuan Majelis GKI Residen Sudriman (yang disampaikannya secara resmi setelah hari Pembajeman tersebut); bawasannya masa penugasan Pdt. Em. Abdi Widhyadi akan berakhir setelah tiga tahun penuh mengabdi dan berkarya di Bali, tepatnya pada tanggal 30 September 2002.

Walaupun belum ada pendeta yang ditunjuk Majelis GKI Ressud untuk menggantikan peran Pdt. Em. Abdi Widhyadi; Panitia Bajem GKI di Denpasar bersama warganya tetap tegar melangkah maju, percaya dan terus berkarya demi keinginannya tumbuh menjadi dewasa, menuju jemaat yang mandiri. Kebaktian Minggu rata-rata dihadiri 120 warga GKI.

Setelah beberap kali Panitia Bajem berkonsultasi dengan induknya: GKI Ressud – Surabaya, tentang potensi kemandirian GKI di Denpasar, dan ditindaklanjuti dengan Pelawatan Khusus-nya BPMK Banyuwangi pada tanggal 30 Juli 2002.

Persidangan Klasis Banyuwangi Khusus tanggal 10-11 September 2002 di YWI Batu, menghasilkan keputusannya untuk mendewasakan Bakal Jemaat GKI Residen Sudriman Surabaya di Denpasar, dan melembagakannya menjadi Gereja Kristen Indonesia di Denpasar dalam waktu enam bulan semenjak keputusan ini ditetapkan.

Puji Tuhan, Gereja Kristen Indonesia di Denpasar kini terwujud dan menjadi jemaat dewasa yang ditetapkan dalam Kebaktian Pelembagaan Jemaat pada 20 Maret 2003.



media



Keterangan


Location/Map



GKI JEMURSARI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Jemursari Selatan VII/ 8-10
Surabaya 60237
Telp. (031) 8415002
Fax. (031) 8421422
Email : gkijemur@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.08.00
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Remaja pk.09.00
Kebaktian Pemuda pk.09.00


PENDETA
Pdt. Ariel Aditya Susanto
Jalan Jemur Andayani XX/6
Surabaya 60237
Email: susantoariel@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Berawal pada tahun 1974 dengan terselesaikannya pembangunan Rumah Usiawan Panti Surya yang dapat dibangun berkat sumbangan dari “Vereniging Het Zonneheuis”  Nederland. Terbukalah kesempatan bagi GKI Diponegoro untuk membuka Pos Pekabaran InjiI (Pos PI) di Panti Surya yang terletak di daerah Jemur Andayani. Setelah mendapatkan persetujuan dari pengurus Panti Surya, maka GKI Diponegoro-pun mulai membuka Pos PI Jemur Andayani dengan mengadakan kebaktian pagi pada hari Minggu jam 06.00 WIB di Panti Surya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, maka Pos PI Jemur Andayani tersebut makin berkembang pula sehingga pada tanggal 4 November 1979 jam kebaktian ditambah dengan Kebaktian Remaja pada pukul 07.15 WIB dan Kebaktian Anak pada pukul 08.30 WIB yang bertempat di STM (Sekolah Teknik Menengah) Petra. Dalam perkembangannya semakin terasa kebutuhan akan sebuah gedung gereja sendiri sehingga pada tanggal 9 November 1981 Tuhan menganugerahkan sebidang tanah seluas 1.200 m2 di daerah Jemur Wonosari.

Pada tanggal 13 November 1983 jam kebaktian ditambah lagi dengan Kebaktian Sore pukul 16.30 WIB untuk melengkapi kebaktian-kebaktian yang sudah ada sebelumnya.

Tahun 1986 GKI Diponegoro meningkatkan Pos Pekabaran Injil Jemur Wonosari menjadi Cabang Jemur Andayani dengan Komisi dan Panitia yang ada yaitu:

- Komisi Pekabaran Injil
- Komisi Wanita
- Komisi Pemuda Remaja
- Komisi Anak
- Komisi Musik Gerejawi dengan
- Paduan Suara Imanuel
- Panitia Pembangunan Gedung Gereja

Majelis Jemaat juga mulai membentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja Jemur Wonosari sehingga pada tanggal 24 Oktober 1987 Ijin Prinsip Kotamadya Surabaya berhasil didapatkan. Dengan demikian pembangunan gedung gereja Jemur Wonosari dapat dimulai. Kebaktian Perletakkan Batu Pertama diadakan pada tanggal 17 Juli 1988. Pembangunan gedung induk selesai pada tanggal 24 Desember 1989. Pada saat itu diadakan Kebaktian Natal di gedung gereja yang baru. Kebaktian selanjutnya dipindahkan dari Rumah Usiawan Panti Surya ke gedung gereja yang baru di Jalan Jemursari Selatan VII/8-10, yang kemudian diresmikan pada tanggal 31 Mei 1990.

Dengan pertimbangan semakin bertambahnya Jemaat Cabang Jemur Wonosari dan semakin banyak anggota jemaat yang menjadi Tua-Tua, Diaken dan terlibat dalam komisi-komisi serta kemampuan finansial yang makin meningkat pula, maka Jemaat Cabang Jemur Wonosari ditingkatkan menjadi jemaat yang dewasa. Akhirnya pada tanggal 8 Oktober 1990 Jemaat GKI Cabang Jemursari didewasakan menjadi Jemaat GKI Jemursari. Dengan demikian GKI Jemursari menjadi Gereja Setempat yang ke-24 dalam lingkup Sinode GKI Jatim.

Sebelum memiliki pendeta yang berbasis pelayanan di GKI Jemursari, GKI Jemursari dilayani oleh pendeta konsulen. Almarhum Pdt. Em. Jahja Kumala adalah pendeta konsulen pertama yang melayani di GKI Jemursari, kemudian dilanjutkan oleh Almarhum Pdt. John Ch. Nenobais.

Pada tahun tanggal 7 Desember 1992, Pdt. Dr. Sardius Kuntjara, M.Th. ditahbiskan sebagai pendeta GKI dengan basis pelayanan di GKI Jemursari. Dengan demikian beliau adalah pendeta pertama di GKI Jemursari. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Pada tahun 1999 Pdt. Sardius terkena serangan stroke sehingga pelayanan beliau dibantu oleh pendeta konsulen yaitu Pdt. Samuel Tjahjadi. Tahun 2003 Pdt. Dr. Sardius Kuntjara, M.Th. memasuki masa emeritus, dengan demikian Pdt. Dr. Sardius Kuntjara telah melayani di GKI Jemursari selama 11 Tahun.

 Selanjutnya pendeta konsulen yang melayani GKI Jemursari adalah Pdt. Djoko Sugiarto, yaitu mulai tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Pendeta konsulen terakhir dalam masa penantian akan hadirnya pendeta kedua di GKI Jemursari adalah Pdt. Ruth Retno Nuswantari, yang telah melayani dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2008.

Pada tanggal 18 Juni 2008 Majelis Jemaat GKI Jemursari bekerjasama dengan GKI Pondok Tjandra Indah dan GKI Sidoarjo telah mengadakan Persekutuan Doa Gabungan dalam rangka penyatuan jemaat di sekitar Sektor Waru untuk mempersiapkan Pos PI. Berbagai kendala telah dihadapi Majelis Jemaat tersebut untuk mendapatkan tempat ibadah yang tetap di lokasi tersebut, hal ini masih menjadi pergumulan hingga saat ini.

 Pada tanggal 17 November 2008, Pnt. Ariel Aditya Susanto, S.Si. Teol ditahbiskan sebagai pendeta GKI dengan basis pelayanan di GKI Jemursari. Dengan demikian Pdt. Ariel Aditya Susanto, S.Si. Teol adalah pendeta kedua yang melayani GKI Jemursari hingga sekarang.

Jumlah rata-rata kehadiran jemaat dan simpatisan perminggu pada GKI Jemursari sampai dengan saat ini adalah sebesar 800 orang. Yaitu terbagi pada Kebaktian Umum I pukul 06.00, Kebaktian Umum II pukul 08.00, kebaktian Remaja Pukul 08.00, Kebaktian Anak (Sekolah Minggu) pukul 08.00, Kebaktian Pemuda pukul 10.00, dan Kebaktian Umum III pukul 17.00.

Demikianlah sekilas sejarah GKI Jemursari yang senantiasa telah diberkati dan dipelihara Tuhan.

GKI LEBAK JAYA



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
Jalan Lebak Jaya III/ 41-43
Surabaya 60134
Telp/Fax. (031) 3820916
Email: gkilebakjaya@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk. 07.30
Kebaktian Umum II pk.10.00


PENDETA
Pdt. Yudhi Kristanto
Jalan Lebak Jaya III Utara /43
Surabaya
Email: kadtant230171@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Lahirnya GKI Lebak Jaya tidak lepas dari  program sektorisasi yang dicanangkan oleh Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman sejak Tahun 1974. Berawal dari persekutuan sektor VI yang meliputi daerah Kapas Krampung, Karang Empat dan daerah Lebak yang kepengurusannya disahkan pada tanggal 18 Juni 1976. Kemudian pada tahun 1977 terjadi penggabungan antara sektor V yang meliputi daerah Tambaksari dan sekitarnya dengan sektor VI, sehingga disebutlah Sektor V/VI. Persekutuan Sektor V/VI diadakan dirumah jemaat secara bergantian, sebagai pengurus Sektor saat itu: alm. Bpk. Darsono, Bapak J. Rachmat, Ibu Elly Gitawati dan bapak Herman Budiharjo.

Pada tahun 1988 persekutuan Sektor V/VI difokuskan hanya di dua tempat, yaitu di Jln. Karang Empat XI/25 dan Jln. Karangasem IV/112 Surabaya.

Dengan bertambahnya anggota yang hadir, Ibu Giam (alm) yang cinta Tuhan tergerak hatinya untuk memberikan gedung di Jl. Lebak Jaya III/43, Surabaya, untuk Kebaktian dan kegiatan jemaat Sektor V & VI GKI Residen Sudirman tersebut.

Bertepatan Kebaktian Pentakosta hari Minggu tanggal 14 Mei 1989, Sektor V/VI secara resmi diubah statusnya menjadi Pos PI Lebak Jaya.

Dalam waktu yang tidak lama pada tanggal 18 Juni 1989 dilaksanakan peresmian penggunaan gedung  gereja dan sekaligus dilaksanakan kebaktian perdana dilayani oleh Pdt. Soetjipto yang menandai Pos PI Lebak Jaya ditingkatkan statusnya menjadi GKI Residen Sudirman Cabang Lebak Jaya. Dengan diberlakukannya tata gereja GKI yang baru maka sebutan Cabang Lebak Jaya diganti menjadi Bakal Jemaat (Bajem) Lebak Jaya. Panitia Bajem Lebak Jaya saat itu adalah Ibu Elly Gitawati, alm. Bpk. Darsono, Bpk. J. Rachmat, Bpk. Herman Budiharjo, Ibu Budiharto Wibowo, Bpk. Saulus Pakpahang dan Sdr. Bambang.

Selama 15 tahun banyak tantangan yang dialami. Kurangnya anggota jemaat yang mau aktif merupakan hambatan untuk maju. Namun bersyukur karena kasihNya beberapa orang aktifis dan anggota jemaat  bergabung dalam pelayanan dan kepanitiaan di Bajem Lebak Jaya. Demikian juga GKI Residen Sudirman menetapkan Pdt. Djusianto, S.Th sebagai pendeta pendamping Bajem Lebak Jaya. Kehadirannya telah mendorong Panitia Bajem untuk semakin maju, dengan bermodalkan satu tekad: “Merubah Tantangan Menjadi Peluang”.

Dengan kerjasama yang baik serta terciptanya suasana yang damai sejahtera saling mengasihi dalam melayani, maka kegiatan-kegiatan Bajem Lebak Jaya makin mantap. Meskipun dengan kepanitiaan yang sedikit, Bajem Lebak Jaya tetap eksis dan bergerak maju. Di sisi lain panitia Bajem tetap berharap bahwa di dalam perjalanan akan semakin banyak anggota jemaat yang berperan serta dalam pelayanan. Segala pelayanan mulai dapat tertata dengan baik dan jumlah jemaat serta keterlibatan jemaat didalam pelayanan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, disamping itu Tuhan juga mengirim seorang pembina yaitu Sdri. Licu Mulyatan S.Th..

Dengan makin banyaknya kegiatan, tahun 2003 Panitia Bajem Lebak Jaya membeli sebidang tanah di seberang gereja di Jl. Lebak Jaya III/44 untuk dijadikan Gedung Serba Guna (GSG). Dengan pimpinan Tuhan, Bajem Lebak Jaya membulatkan tekad untuk dilembagakan menjadi Jemaat GKI Lebak Jaya. Tekad ini sangat didukung oleh Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman dan akhirnya mendapat respon Majelis Klasis GKI Klasis Banyuwangi.

Akhirnya Persidangan Majelis Klasis GKI Klasis Banyuwangi tanggal 21-23 Juni 2004 menyetujui pelembagaan GKI Lebak Jaya.  Menindak lanjuti keputusan tersebut maka dengan penuh rasa syukur pada hari Senin, tanggal 4 Oktober 2004 pukul 17.00 WIB diresmikanlah Bakal Jemaat GKI Lebak Jaya Surabaya menjadi Jemaat GKI Lebak Jaya Surabaya dalam Kebaktian Pelembagaan yang dilayani oleh Pdt. Djusianto dengan tema “Gereja  Yang Dewasa Gereja Yang Misioner”. Peresmian ini juga ditandai dengan penyerahan Piagam Pelembagaan oleh Pdt. Triatmoko Adipramono  selaku Sekretaris BPMSW Jatim dan pemukulan Gong oleh Pdt. Lazarus H. Purwanto sebagai wakil BPMS GKI disaksikan sebanyak 350 orang terdiri dari jemaat, para utusan GKI dan gereja lain. Dalam Kebaktian Pelembagaan ini juga dihadiri oleh para pemuka agama lain. Dalam Kebaktian ini diteguhkan 11 orang penatua sebagai Majelis pertama GKI Lebak

Pnt. Anggiyatno, Pnt. Elly Gitawati, Pnt. Limawati, Pnt. Agung Sriswastoadi, Pnt. Tan Sindhunata, Pnt. Lily Wijaya, Pnt. Triwidiyani, Pnt. Djasmadi, Pnt. Licu Mulyatan, Pnt. J. Rachmat dan Pnt. Ali Nugroho.

Karena belum memiliki seorang pendeta GKI Lebak Jaya dibimbing oleh Pendeta Konsulen yaitu Pdt. Agustina Manik selama 2 tahun kemudian Pdt. Budianto Puspohadi dan digantikan oleh Pdt. Untung Irwanto.

Selama kurun waktu 4 tahun dalam pergumulan untuk memiliki seorang Pendeta akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan GKI Lebak Jaya dan mengirimkan Pdt. Yudhi Kristanto yang diteguhkan pada tanggal 12 Mei 2008

 

 

 

GKI JEMBER



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Sentot Prawirodirdjo 18
Jember 68133
Telp/Fax. (0331) 482624
Email: gkijember@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06:30
Kebaktian Umum II pk.09.00


PENDETA (Konsulen)
Pdt. Djusianto
Jalan Wisma Permai Tengah 11
Blok DD no. 5, Surabaya
Email : djusianto@yahoo.com

CALON PENDETA
Pnt. Michael Santoso Wijaya


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Pada awal tahun 1950 anggota jemaat Kristen di Jember merupakan gabungan antara warga keturunan Tionghoa dan totok yang berada dalam naungan Gereja Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee. Hamba-hamba Tuhan yang melayani datang dari Surabaya, Malang dan Bondowoso secara berkala. Bertolak dari penggunaan bahasa dalam kebaktian, maka terdapat perbedaan di mana pada kelompok yang satu menginginkan berbahasa Mandarin dan diterjemahkan bahasa Indonesia, sedang kelompok lainnya berharap seluruh kebaktian disampaikan dalam bahasa Indonesia. Maka pada tahun 1954 terjadi pemisahan dari jemaat Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee Jatim antara yang berbahasa Mandarin dan yang berbahasa Indonesia, di mana pemisahan ini di sahkan pada tanggal 17 April 1956 dan kemudian yang berbahasa Indonesia menjadi jemaat GKI sedang yang berbahasa Mandarin menjadi jemaat GKT.

Pdt. T.J. Lintang (Lie Tie Jong) melayani di GKI Bondowoso sejak tanggal 29 Juli 1961 sampai tanggal 17 April 1972. Disamping beliau melayani Bondowoso, jemaat di Jember juga mendapatkan pemeliharaan iman dalam bentuk kunjungan rutin. Seiring berjalannya waktu, pelayanan di Jember menunjukkan buah pelayanan berupa peningkatan jumlah jemaat dan pada tanggal 16 Desember 1966 jemaat Jember diresmikan menjadi GKI Jatim Bondowoso cabang Jember dengan pengasuhan oleh majelis GKI Jatim Bondowoso.

Oleh anugerah Tuhan, jemaat Jember mengalami perkembangan dalam hal peningkatan jumlah anggota jemaat dan kemandirian pengurus dalam mengelola jemaat. Pada tanggal 27 Juli 1969 jemaat Jember diresmikan pendewasaannya sebagai GKI Jatim Jember dalam kebaktian yang dilayani oleh Pdt. T.J. Lintang di gedung GPIB (Getsemani), Jl. Mohammad Seroedji no. 06 Jember pada pukul 16.30 WIB. Adapun para majelis pertama yang diteguhkan adalah sebagai berikut: Sdr. Bambang Prayogo, Sdr. Sumarno Widjaya, Sdr. Djunaedi Djauhari, Ny. C. Brail, Ny. Y. Oendianto, Ny. Tjandrawinata. Jemaat GKI Jatim Jember mengadakan kebaktian meminjam gedung GPIB selama 13 tahun hingga akhirnya dengan anugerah Tuhan jemaat dimampukan untuk memiliki gedung gereja di Jl. Sentot Prawirodirjo Jember.

Tuhan menganugerahkan pendeta pertama GKI Jatim Jember yaitu Sdr. MAM Sasabone. Beliau lulusan Sekolah Theologi Ujung Pandang dan ditahbiskan pada tanggal 15 April 1970 sebagai Pendeta GKI Jatim Jember dalam kebaktian yang di layani oleh Pdt. T.J. Lintang. Keberadaan Pdt. MAM Sasabone mampu memelihara dan mengembangkan potensi jemaat. Menjelang emiritas Pdt. T.J. Lintang dan kepindahan pelayanan beliau di GKI Jatim Emaus Surabaya, pada tanggal 22 Juli 1971 jemaat GKI Jatim Jember menerima pelimpahan GKI cabang Banyuwangi yang semula adalah cabang GKI Bondowoso, kemudian dipercayakan menjadi GKI Jatim cabang Jember.

Tuhan mengutus hambanya untuk pemeliharaan iman bagi jemaat GKI Jatim Jember cabang Banyuwangi dalam diri Sdri. Maria Gamaliel S.Th dimana sejak tahun 1977 beliau tinggal di tengah jemaat Banyuwangi. Setelah melalui tahapan-tahapan dalam proses pemendetaan sesuai tata gereja maka pada tanggal 30 Mei 1979 dilakukan ibadah penahbisan Sdri. Maria M. Gamaliel, S.Th ke dalam jabatan Pendeta yang dilayani oleh Pdt. MAM Sasabone bertempat di GPIB Getsemani Jember untuk tugas khusus bagi jemaat GKI Jatim Jember Cabang Banyuwangi. Kemudian sejak tahun 1984 melayani penuh sebagai Pdt. GKI Jatim Jember, sedang Pdt. MAM Sasabone 4 September 1979 menerima panggilan sebagai Pdt GKI Jabar Jalan Guntur 36 Bandung. Sementara dengan kasih karunia Tuhan, Majelis Jemaat GKI Jatim Jember diperkenan mendewasakan GKI Jatim cabang Banyuwangi menjadi GKI Jatim Banyuwangi pada 26 September 1984.

Guna memenuhi kebutuhan pelayanan yang lebih luas dan seiring perkembangan jemaat, maka Tuhan menganugerahkan 5 bidang tanah (seluas 1.213 m) di jalan Sentot Prawirodirjo untuk dibangun sebuah gedung gereja. Adapun peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 19 Oktober 1978 oleh Bapak Bupati KDH TK II Kabupaten Jember dan bangunan ini selesai pembangunannya serta mulai digunakan sejak tanggal 14 Desember 1980.

Pada tahun 1987 jemaat merasakan adanya kebutuhan pendeta kedua. Setelah masa penantian kurang lebih 2 tahun, maka pada tanggal 14 Desember 1989 Sdr. Susanto, S.Th ditahbiskan menjadi pendeta ketiga GKI Jatim Jember. Kebaktian penahbisan ini dilayani oleh Pdt. Maria M. Gamaliel, S.Th dan bertempat di gedung gereja GKI Jalan Sentot Prawirodirjo 18 Jember. Selama masa pelayanan berpasangan Pdt. Maria M.G dan Pdt. Susanto terdapat pengembangan pelayanan seperti dibukanya pos PI di Kemuningsari pada tahun 1990 dan merintis kebaktian persekutuan dan kebaktian anak di SDK Cahaya Kebonsari pada Minggu sore pukul 17.00. Kelas katekesasi juga dibuka seusai kebaktian sore dan dapat menjaring belasan jiwa pada tahun yang sama. Setelah menjalani masa pelayanan kurang lebih 5 tahun Pdt. Susanto berkesempatan studi di bidang pastoral konseling di Jakarta dan kemudian lebih memilih pelayanan di Yayasan Gloria Yogyakarta seusai studi. Guna memenuhi kekosongan pendeta kedua maka Sdr. Kristianto Basuki, S.Si hadir di tengah-tengah jemaat selaku penatua untuk masa pelayanan kurang lebih 4 tahun dan berakhir pada tahun 2003 dan beliau kini melayani sebagai pendeta GKI Tuban.

Pada tahun 1991 Tuhan kembali menganugerahkan 2 bidang tanah seluas 240 m untuk memperluas gedung gereja yang terletak tepat dibelakang gedung gereja.

Mengingat kebutuhan ruang kelas Sekolah Minggu, Ruang Pdt.tamu, Ruang Kerja Pendeta dan Ruang Perpustakaan maka pada tahun 2002 dibangun sebuah gedung yang terletak di atas lahan belakang gereja. Bangunan 2 lantai seluas 760 m yang diresmikan pada hari raya Paskah 20 April 2003 dan gedung tersebut diberi nama Gedung Serba Guna “Siloam”.

Guna memperbaiki atap gedung gereja yang telah berusia 25 tahun dimana mengalami banyak kelapukan, juga keinginan memperluas ruang kebaktian maka gedung gereja direnovasi dengan peletakan batu pertama pada tanggal 16 Nopember 2006. Selanjutnya, gedung mulai digunakan pertama kali pada Kebaktian Natal pada tanggal 24 Desember 2007.

Serah terima dari pemborong kepada Panitia Pembangunan gedung gereja yang masih memerlukan penyempurnaan sarana tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2008   Gedung gereja tiga lantai seluas kurang lebih 1.250 m2, dengan Ruang Kebaktian yang dapat menampung + 600 jemaat. benar-benar sudah siap digunakan pada tanggal 16 Desember 2009.

 

GKI PASURUAN



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Panglima Sudirman 23
Pasuruan 67115
Telp/Fax. (0343) 421971
Email: gkipasuruan@yahoo.com

BAPOSJEM
Probolinggo (Bekerja sama dengan GKI Residen Sudirman)


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum  pk.09.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.07.00


PENDETA
Pdt. Untung Irwanto
Jalan Panglima Sudirman 23
Pasuruan 67115
Email : u_irwanto@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

# Tahun 1952

Telah tercapai suatu persetujuan bersama secara informal antara GPIB, GKJW, dan GKI Jatim Malang Pos PI Pasuruan untuk mengadakan kebaktian bersama. Mengingat bahwa GPIB yang mempunyai gedung, GKJW mempunyai banyak anggota, maka kita yang mengusahakan pengkhotbah.

# Tahun 1953

Baptisan sulung GKI Jatim Malang Pos PI Pasuruan ialah 3 orang dewasa dan dilayani oleh Pdt. Hwan Ting Kiong.

# Tahun 1954

Dalam tahun ini mulai lebih giat dalam organisasi, dengan membentuk pengurus secara informal, terdiri dari Ny. Oei Tik Tjhiang, Ny. Tan Yan Khing, Bpk. Djie Siong Hien dan tenaga-tenaga dari GKI Malang, yaitu Pdt. Hwan Ting Kiong dan Bpk. Tan Giok Lam.

# Tahun 1960

Pembangunan Pastori dipandang perlu, dan didirikan di belakang Gereja Protestant, Jl. Anjasmoro No. 6. Biaya pembangunan ini dipikul oleh 3 Gereja yaitu :

  1. GKI (Gereja Kristen Indonesia)
  2. GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat)
  3. GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan).

#  Tahun 1967

Untuk memperluas pekerjaan Gereja, dilaksanakan persembahan bulanan. Stamboek gereja dikerjakan oleh Bpk. Tan Giok Lam. Dalam tahun ini mulai diadakan Sekolah Minggu. Komisi Remaja juga dibentuk dalam tahun ini juga, dengan anggotanya yang berjumlah 8 orang. Kebaktian Remaja diadakan di Jl. Hasanudin 12 Pasuruan. Buku baptis mulai diterbitkan. Tahun ini adalah tahun penerbitan dan pengorganisasian GKI Jatim Malang Cabang Pasuruan.

Tahun 1971

Capen pertama yang membantu dalam pelayanan adalah Sdri. Maria Theofilus, B.Th. Diadakan pengkaderan-pengkaderan yang dipimpin oleh Pdt. M. H. R. Jones dari OMF (Overseas Missionary Fellowship). Diadakan pelajaran agama di sekolah Pancasila oleh Capen Maria.

Tahun 1972

Capen yang pertama diganti oleh Capen Susana Susilowati, B.Th dan melayani jemaat GKI Jatim Malang Cabang Pasuruan sampai tahun 1976.

# Tahun 1973

Komisi Pemuda mulai didirikan. Pengurus yang pertama diteguhkan pada tanggal 8 Juli 1973.

# Tahun 1974

Kebaktian Pemuda mulai dihadiri oleh orang-orang dewasa, yang tidak dapat datang pada kebaktian pagi harinya. Perjamuan Kudus mulai diadakan pada sore hari.

# Tahun 1976

Gedung Pertemuan di Jl. Panglima Sudirman 23 Pasuruan telah selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 31 Maret 1976 oleh Bapak Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Pasuruan Drs. Harjono. Capen Samuel Tjahjadi, S.Th menggantikan Capen Susana Susilowati, B.Th.

# Tahun 1977

Pembangunan pastori telah selesai dan diresmikan pada tanggal 25 Desember 1977.

# Tahun 1978

Pendewasaan Gereja Kristen Indonesia Jatim Pasuruan. Kebaktian pendewasaan dilayani oleh Pdt. Daud Adiprasetya dari GKI Jatim Malang, pada tanggal 23 Agustus 1978, dalam kebaktian itu telah diteguhkan Panitia Gereja menjadi Majelis Gereja.

Sebuah peristiwa yang sangat mengesankan adalah pentahbisan Capen Samuel Tjahjadi, S.Th menjadi Pendeta GKI Jatim Pasuruan. Upacara yang meriah ini diadakan dalam kebaktian khusus pada tanggal 15 November 1978 dan dilayani oleh Pdt. Daud Adiprasetya.

Rapat Majelis Gereja Persekutuan dalam bulan Oktober 1978 dan Januari 1979, memutuskan demi perkembangan masing-masing gereja, maka mulai tanggal 7 Februari 1979 ditiadakan pembagian jam-jam kebaktian karena kebaktian dilaksanakan di gereja masing-masing.

# Tahun 1979

GKI Pasuruan mendirikan YPK Elkana (Yayasan Pendidikan Kristen Elkana), yang menangani TK-SD-SMP sebagai bagian dari pelayanan dan kesaksian gereja.

Pendeta-pendeta yang pernah memimpin GKI Pasuruan:

  1. Pdt. Hwan Ting Kiong   (tahun  1953)
  2. Bpk. Tan Giok Lam   (tahun 1954-1967)
  3. Capen Sdri. Maria Theofilus, B.Th  (tahun 1971-1972)
  4. Capen Sdri. Susana Susilowati, B.Th  (tahun 1972-1976)
  5. Pdt. Daud Adiprasetya  (tahun 1977-1978)
  6. Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th   (tahun 1978-1998)
  7. Konsulen Pdt. DR. Sardius Kuntjara, M.Th  (Februari 1998 - Juli 1999)
  8. Pdt. Andi Yohanes, S.Th  (Agustus1999 - Februari 2003)
  9. Konsulen Pdt. Samuel Tjahjadi, S.th  (Agustus 2003-juli 2005)
  10. Pdt. Untung Irwanto, S.th  (Juli 2005 – sekarang )

 

 

 

GKI NGAGEL



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Ngagel Jaya Utara 81
Surabaya 60246
Telp. (031) 5028829, 5053302
Fax. (031) 5028828
Email: gkingagel@yahoo.com

BAPOSJEM :
Jalan Tjilik Riwut Km.3 No.9
Palangkaraya
Email: palangkarayagki@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.08.00
Kebaktian Umum III pk.10.00
Kebaktian Umum IV pk.16.30
Kebaktian Pemuda pk.18.30
Kebaktian Remaja pk.08.00

Baposjem Palangkaraya
Kebaktian Umum pk. 08.00


PENDETA

Pdt. Wahyu Pramudya
Jalan Klampis Indah VII/10
Surabaya 60283
Email : charisthea@gmail.com

Pdt. Florida Rambu
Jalan Ngagel Tama Utara III/9,
Surabaya
Email : f_rambu@yahoo.com

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Dalam Lintasan Sejarah

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel terletak di Jl. Ngagel Jaya Utara 81 Surabaya.  Gedung gereja, gedung pertemuan, kantor gereja, perpustakaan, dan ruang pendeta terletak dalam sebidang tanah seluas +  950 meter persegi.   Gedung Serba Guna (GSG), sebuah gedung dengan 4 lantai,  secara rutin digunakan untuk  ruang-ruang kelas sekolah minggu terletak dua rumah di samping gedung gereja.

Gedung gereja dengan kapasitas yang terbatas, yakni 252 orang, menyebabkan Kebaktian Minggu harus berlangsung dalam lima jam kebaktian : 06.00, 08.00, 10.00, 16.30 dan 18.30.  Kebaktian Anak berlangsung di Gedung Serba Guna pada pk 08.00 dan 10.00, sementara Kebaktian Remaja dan Pra Remaja berlangsung di Gedung Pertemuan pada pk 08.00 dan 10.00.  Semua aktivitas sehari-hari dan khususnya pada  hari Minggu dapat berjalan dengan relatif lancar mengingat adanya bantaran sungai yang dapat difungsikan menjadi tempat parkir bagi mobil anggota jemaat dan simpatisan.

 

Dari Pucang Anom Timur ke Ngagel Jaya Utara

GKI Ngagel dimulai dengan pembukaan pos kebaktian di  rumah keluarga Kho Kiem Boen Jl. Pucang Anom Timur II/31 Surabaya dalam Kebaktian Minggu, 14 Juli 1963 pk 07.30 dilayani oleh Bp. Oei Sioe Sien (Widigda MP) yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Majelis GKI Djatim Kota Besar Surabaya.  Pos kebaktian ini berada di bawah pengelolaan GKI Diponegoro Surabaya.   Mengapa berada di bawah pengelolaan GKI Diponegoro?  Kita perlu memahami pada waktu itu terdapat  Penetapan  dan Penerapan Peraturan Organisasi Gereja (POR) GKI Jatim Gereja Setempat Surabaya yang membagi pelayanan di Surabaya menjadi empat daerah : Diponegoro, Embong Malang, Residen Sudirman dan Sulung.  GKI Diponegoro membuka pos kebaktian ini untuk mengakomodasi anggota GKI Diponegoro yang bertempat tinggal di daerah Ngagel.  Pada masa itu ketersediaan transportasi tidaklah semurah dan semudah sekarang ini.   Pada kurun waktu 1963 sd 1969 jumlah rata-rata pengunjung kebaktian adalah sekitar 40 orang.

Dalam perkembangan selanjutnya, dirasakan perlunya membangun sebuah gedung gereja yang lebih memadai untuk pelaksanaan ibadah , pelayanan dan kesaksian.  Pada 1 Januari 1966 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja di Jl. Ngagel Jaya Utara 81 Surabaya.  Peletakan batu pertama ini dipimpin oleh Kepala Bimbingan Masyarakat Kristen, Bapak R. Rasyid Padmosoediro. Pdt. Han Bin Kong dari GKI Jatim Surabaya, daerah Diponegoro, sebagai pendeta pengasuh daerah Ngagel memimpin Kebaktian Peletakan Batu Pertama ini.

Bersyukur pada Tuhan karena kemurahan-Nya sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar.  Kurang dari setahun sejak peletakan batu pertama itu, gedung gereja telah selesai dibangun.  Kebaktian Peresmian Gedung Gereja  Jl. Ngagel Jaya Utara 81 ini berlangsung pada 13 Desember 1966, pk 16.30 dipimpin oleh Pdt. Han Bin Kong dengan nas khotbah berdasarkan 1Raja-raja 8:29 yang berbunyi  “Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.”  Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa Tuhan telah mendengarkan seruan hamba-Nya ini.   Kebaktian Minggu pertama di gedung gereja yang baru ini berlangsung pada 18 Desember 1966 dengan satu jam kebaktian, yakni pk 06.00.  Pada tahun 2011 ini, di gedung gereja yang bangunannya tidak banyak mengalami perubahan, berlangsung lima kali Kebaktian Minggu.  Dari rata-rata kehadiran 40 orang pada tiap kebaktian minggu pada tahun 1966, pada tahun 1980 menjadi  427 dalam tiga kali kebaktian di Hari Minggu,  kini menjadi  rata-rata 990 dalam lima kali kebaktian di hari Minggu.

 

Tuhan Memperlengkapi, Tuhan Mengutus

Dalam sejarah perkembangan GKI Ngagel, nampak peran nyata dari kaum awam.  Mulai dengan keluarga Kho Kiem Boen yang bukan hanya menyediakan rumahnya bagi pelaksanaan kebaktian pos Pucang, namun juga menyediakan dan membuat sendiri perlengkapan bangku-bangku untuk pengunjung kebaktian minggu, bangku untuk Sekolah Minggu  dan mimbar pendeta.  Bapak Kho Kiem Boen adalah seorang pengusaha kayu.  Bukan

Di tengah keterbasan jumlah pendeta yang melayani di lingkup GKI pada sekitar tahun 1960-an itu, Tuhan juga memperlengkapi gereja-Nya dengan kaum awam yang melayani sebagai pengkhotbah di Kebaktian Minggu.  Dalam kurun waktu tiga tahun, antara 1963 sampai dengan 1966 telah berlangsung sebanyak 179 khotbah di hari Minggu.  Sejumlah 142 kali dari 179 pewartaan firman Tuhan itu dilakukan oleh orang-orang awam, bukan pendeta, baik anggota Majelis Jemaat maupun aktivis gereja.  Tuhan memperlengkapi gereja dengan menggerakkan umat-Nya untuk melayani.

Pada tahun 3 April 1974dilaksanakan Kebaktian Pengembangbiakan GKI Jatim Surabaya dari satu gereja setempat menjadi lima gereja : Diponegoro, Embong Malang, Residen Sudirman, Sulung dan Ngagel.  Salah satu dampak dari pengembangbiakan ini adalah penyerahan Bakal Jemaat Krian ke dalam tanggung jawab GKI Ngagel.  Tuhan memperlengkapi gereja-Nya dengan tanggung jawab yang baru.  Bakal Jemaat Krian ini akhirnya diresmikan menjadi GKI Krian pada tahun 2001.

Tuhan yang memperlengkapi gereja-Nya juga adalah IA yang mengutus umat-Nya.  Pelayanan anak berkembang ke wilayah Pondok Tjandra Indah bertempat di Keluarga Budyo Asmoro (anggota GKJW).  Pada tahun 1985, Majelis Jemaat memutuskan untuk menjajaki pembelian tannah di perumahan Pondok Tjandra Indah (PTI) untuk pembangunan gereja.  Tuhan yang mengutus juga adalah Tuhan yang mencukupkan.  Bapak Tjandra Sugiarto (Developer PTI) tergerak

untukmempersembahkan lahan seluas 1000 meter persegi di Jl. Taman Asri Utara untuk pembangunan gereja.  Ketersediaan lahan ini masih diikuti dengan kesediaan Bapak Eka Tjipta Widjaja (mertua dari Bp. Tjandara Sugiarto) untuk membangun gedung gereja di tanah yang dipersembahkan itu. 

Pembangunan dapat berjalan lancar sehingga setelah peletakan batu pertama pada 15 Agustus 1986, kebaktian perdana dapat berlangsung pada 6 September 1987.  Pendewasaan jemaat menjadi GKI Pondok Tjandra Indah terjadi pada tahun 1992.

 

Menatap Masa Depan

Salah satu aspek yang tak terpisahkan dari kehidupan bergereja adalah kehadiran pendeta

Di dalam perjalanan sejarah GKI Ngagel, beberapa pendeta telah, sedang dan akan mengambil bagian dalam perjalanan umat Tuhan.  Mulai dari Pdt. Pranata Gunawan yang melayani dalam periode 1971-1978,Pdt. Sutedjo yang melayani mulai 1977 hingga emeritasinya pada tahun 2006 dan kini terus melayani,  Pdt. John Nenobais pada tahun 1982- 2000, Pdt. Simon Filantropha pada tahun 1989-2001, Pdt. Sutrisno pada tahun 1995 sampai 2002 dan kemudian diteguhkan sebagai pendeta di GKI Krian. 

Pada tahun 2005, Pdt. Wahyu Pramudya ditahbiskan sebagai pendeta.; dan pada tahun 2009, Pdt. Florida Rambu Bangi Roni ditahbiskan sebagai pendeta.

Hadirnya pendeta jemaat yang silih berganti ini menjadi tanda bahwa generasi terus berganti, menyajikan tantangan yang baru. Berbekal kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan di masa lalu, GKI Ngagel siap menatap masa depan.

 

GKI MANYAR



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Manyar Tirtoasri VII/ 2
Surabaya 60126
Telp. (031) 5940669, 5920917
Fax. (031) 5920917
Email: gkimyr@gmail.com

BAPOSJEM
Araya
Jalan Galaxy Permai F7/3AF
Surabaya


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.09.30
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Umum IV pk.19.00
Kebaktian Pemuda pk.07.30
Kebaktian Remaja pk.09.30

Baposjem Araya
Kebaktian Umum pk. 09.00


PENDETA

Pdt. Lindawati Mismanto
Jalan Manyar Tirtoasri VII/10
Surabaya
Email : lindawatimismanto@yahoo.co.id

Calon Pendeta:
Pnt. Aditya Christo Saputro


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Bila mengingat perjalanan sebuah gereja, maka kita memulainya dengan pengakuan:
“….. Sungguh tak terselami jalan-jalanNya" ( Roma 11: 33 ).

 

Berawal dari semangat PDRT.

Lahirnya GKI Manyar dimulai dengan Persekutuan Doa Rumah Tangga ( PDRT ) oleh 20 orang anggota Gereja Gereformeerd Surabaya - GGS ( sekarang GKI Pregolan Bunder, Surabaya ) yang bertempat tinggal di kawasan Manyar, kompleks Tompotika.

Pada 20 Maret 1983 daerah Manyar-Tompotika ditetapkan sebagai Cabang dari GGS dalam sebuah kebaktian yang dipimpin oleh Pdt.Liem Ie Tjiauw. Dengan meminjam ruang kelas SMA Kristen Petra 2, jln Manyar Tirtoasri 1 – 3 diadakanlah kebaktian minggu pada setiap jam 7 pagi. Sedang untuk menampung aktifitas jemaat di luar hari minggu dikontraklah rumah di jln Manyar Tirtoasri 8 / 8 selama dua tahun sejak 14 Feb.1984.

Kerinduan untuk memiliki gedung gereja mengerucut di dalam retreat di Prigen pada 9 Mei 1983. Tekad untuk pengadaan sebuah gedung gereja dimulai dengan pengumpulan dana sebesar Rp.2.370.000 di saat retreat tsb. Akhirnya terbelilah lahan di jalan Manyar Tirtoasri 7 / 2 seluas 440 m2.

Pada 25 Mei 1985 Ijin Prinsip dari Walikota (SPW ) benar-benar turun.

 

Pembangunan Gedung Gereja.

Kebaktian Peletakan Batu pertama dipimpin oleh Pdt. Sumardiyanto, SmTh pada 6 Oktober 1985 untuk sebuah gedung gereja yang berkapasitas 250 orang. Setelah Gedung Gereja terbangun maka pada 13 Juni 1987 diadakanlah kebaktian

Peresmian Gedung Gereja GKI Manyar dipimpin oleh Pdt. Liem Ie Tjiauw.

 

Pendewasaan GKI Manyar.

Persidangan Sinode GKI Jatim ke XLIII memutuskan bahwa GKI Pregbun Cabang Manyar layak untuk didewasakan sebagai GKI Manyar yang berkedudukan di Jln.Manyar Tirtoasri 7 / 2, Surabaya.

Diadakanlah kebaktian pendewasaan GKI Manyar pada 29 September 1989 dipimpin oleh Pdt.Liem Ie Tjiauw. Tercatatlah 265 orang dewasa sebagai anggota GKI Manyar.

 

Pemanggilan Pendeta.

Mulai bulan Juni 199, Majelis Klasis GKI Klasis Banyuwangi dalam Sidangnya memutuskan Pdt Djoko Sugiarto dari GKI Ressud- Surabaya untuk menjadi konsulen di GKI Manyar selama dua tahun.

Setelah melewati masa konsulen maka Majelis Jemaat GKI Manyar memanggil Pdt.Djoko Sugiarto sebagai pendeta pertama di GKI Manyar. Kebaktian Peneguhannya diadakan pada 23 Agustus 1993 yang dipimpin oleh Pdt Sutejo.

Seiring dengan pertumbuhan jemaat maka Majelis Jemaat memanggil Pnt. Lindawati Mismanto,S.Th untuk menjadi pendeta kedua. Penahbisanya dilakukan pada 22 Agustus 2005 dalam kebaktian yang dipimpin oleh Pdt Djoko Sugiarto.

 

Pembangunan Jemaat.

Setelah memiliki pendeta maka Majelis Jemaat menetapkan Visi GKI Manyar yaitu menjadi gereja missioner. Untuk mencapai Visi itu makadidirikanlah School of Christian Ministry ( S.C.M. )yang diketuai langsung oleh Pdt DjokoSugiarto. SCM sebagai wadah pendidikan pelayanan Kristiani bagi jemaat. Pendidikan ini diminati oleh banyak jemaat. Sehingga pelayanan makin bertumbuh seiring dengan pertumbuhan iman jemaat. Rasanya ruang-ruang yang ada setiap hari selalu terisi oleh kegiatan seluruh Komisi. Bahkan terasa kurang waktu dan kurang ruang. Baik itu Komisi Kespel, Komisi Pemuda Remaja, Komisi Muger, Komisi Wanita, Komisi Anak, Komisi KUK, Komisi Pendidikan, Tim-tim Doa, Sektor-sektor mempunyai program-program pelayanan yang menunjang terciptanya gereja missioner. Gereja yang mampu menjadi berkat dan menyatakan berkat Allah baik kepada anggotanya maupun kepada masyarakat sekitarnya.

Sebagai tindak lanjut dari SCM maka pada 11 Agustus 1999 Majelis Jemaat mengutus Tim Misi melaksanakan misi untuk menghadirkan syalom Kerajaan Allah kepada masyarakat di Pulau Sumba. Dan di kemudian hari ke Luwuk, Toili, Balantak, pulau Banggai, pulau Peleng, dan sekitarnya.

Untuk menampung semangat pelayanan yang sudah bertumbuh maka Majelis Jemaat pada 23 Mei 1999 membuka Pos Jemaat di Medokan Ayu I / O 54 ( rumah kel Bapak Alex Istanto ). Kebaktian pembukaan Pos Jemaat dilayani oleh Pdt. Andreas Agus Susanto. Untuk keperluan pertumbuhan jemaat di Medokan Ayu maka dibelilah rumah di Rungkut Asri Timur 16 Surabaya untuk dijadikan tempat ibadah tetap. Kebaktian perdana di Rungkut Asri Timur dimulai pada 29 Juni 2009 pada jam 8 pagi dengan dipimpin oleh Pdt.Djoko Sugiarto.

Tanpa diduga Tuhan memberi anugerah sehingga tempat ini mendapatkan ijin resmi dari Pemkot Kota Madya Surabaya sebagai Gedung Gereja. Dan dalam Raker Sinode GKI pada bulan Februari 2011 di Surabaya diputuskan bahwa Bajem Rungkut Asri Timur layak dilembagakan menjadi GKI Rungkut Asri Timur. Kebaktian pelembagaan diadakan pada 13 Juni 2011 dipimpin oleh Pdt. Eddy Sumartono mewakili BPMS GKI.

Karena banyaknya aktivitas di GKI Manyar maka perlu pula dibangun Gedung Penunjang Aktifitas Gereja. Pembangunannya dimulai pada 29 September 2009 tepat di usia ke 20 GKI Manyar. Proyek besar ini diketuai oleh Bpk Harijanto Tejo serta Ir. Jimmy Priatman M.Arc sebagai arsiteknya. Kebaktian perdana di Gedung Penunjang Aktifitas Gereja diadakan 20-11-2011 selanjutnya dipakai sebagai tempat ibadah pada setiap hari Minggu menggantikan tempat ibadah yang lama. Tempat ibadah yang lama tetap ada dan difungsikan untuk tempat kebaktian Pemuda dan Remaja.

Selagi jemaat menggarap pembangunan Gedung penunjang Aktifitas gereja. Tuhan mengaruniakan kepada jemaat GKI Manyar sebidang tanah dengan luas 1711m2 di Galaxy Bumi Permai Blok F7/3AF melalui kel Bapak D.Rudianto. Lengkap dengan ijin, gambar bangunan bahkan sejumlah besar dana untuk dibangun sebuah Gereja. Setelah pembangunan selesai maka pada 10-10-2010 pukul 5 sore diadakanlah kebaktian perdana dengan dipimpin oleh Pdt.Djoko Sugiarto. Gedung Gereja ini telah mendapatkan ijin dari Pemkot Kota Madya Surabaya sebagai Gedung Gereja GKI Araya. Sekarang pengunjung kebaktian di GKI Araya telah rata-rata mencapai 125 orang. Banyak penghuni di sekitar gereja yang ikut beribadah di sana.

Tantangan ke depan masih banyak, tugas ke depan lebih berat. Tapi sebagaimana Tuhan telah memberkati pada masa lalu. Maka IA akan terus memberkati pula untuk masa ke depan. Ke depan Majelis Jemaat telah menetapkan sebuah Visi yaitu: “Menjadi keluarga besar Allah yang harmonis, bertumbuh dalam iman dan mampu berbagi diri dengan lingkungan”. Untuk itu telah dibentuk Tim yang solid untuk menguraikan dan mengimplementasikan serta mewujudnyatakan Visi tsb ke dalam program kerja tahunan dari seluruh perangkat gereja di GKI Manyar.

 

 

Soli Deo Gloria,

Segala kemuliaan hanya untuk Tuhan

 

GKI MERISI INDAH



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
Jalan Taman Bendul Merisi Selatan
B-2/ 10-12, Surabaya 60239
Telp. (031) 8432665
Email: gkimerisiindah@yahoo.com

ALAMAT KESEKRETARIATAN
Sekretariat:
Jalan Taman Bendul Merisi Selatan 24,
Surabaya
Telp. (031) 8431168
Fax. (031) 8482541


JAM KEBAKTIAN

Kebaktian Anak pk. 07.30
Kebaktian Remaja pk.07.30
Kebaktian Umum I pk.07.30
Kebaktian Umum II/Pemuda pk.17.00


PENDETA

Pdt. Gunadi
Jalan Sidosermo Airdas VI/G.Kav.140
Surabaya 60239
Email : gunadisth@hotmail.com


Pdt. Erlinda Suryani Zebua
Jalan Taman Bendul Merisi Selatan 24
Surabaya
Email:erlindazebua@yahoo.co.id

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Kala itu, di tahun delapan puluhan dimulai dari sebuah persekutuan jemaat kecil gabungan jemaat GKI Diponegoro dan Jemaat GGS( Gereja Gereformeed Surabaya) Jl. Pregolan Bunder, yang berdomisili di wilayah Kendangsari dan sekitarnya dengan berpindah – pindah dari rumah ke rumah.

Dengan adanya sebuah rumah kosong yang ditawarkan untuk dipakai secara cuma-cuma dari Bp. Ir. Winata, M.Arch, Semarang, maka Majelis Gereja GGS memprakarsai untuk mengadakan Kebaktian pertama Minggu, 01 Januari 1982 yang dipimpin oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th. dan terbentuknya Panitia GGS Cabang Kendangsari sebagai Cabang IV (Cab. I GKI Gresik, Cab. II Darmo Satelit dan Cab. III GKI Manyar).

Dalam keterbatasan dan kesederhanaannya GGS Cabang Kendangsari tersebut bertumbuh dan berkembang, hingga tibalah saatnya Tuhan menghendaki, bahwa Jemaat GGS Cabang Kendangsari segera mempunyai Gedung Gereja yang Representatif dengan caraNya.

Suatu ketika akhir tahun 1984, Majelis Jemaat Gereja GGS yang ditunjuk Tt. Subaru Martodisastro melayani Cabang  Kendangsari dipanggil oleh Kelurahan setempat dan Pejabat Muspika tersebut melarang Jemaat untuk beribadah menggunakan sebuah rumah tinggal, yaitu tempat yang bukan diperuntukkan untuk tempat ibadah. Sehingga mau tidak mau, Jemaat harus segera mencari tempat ibadah baru yang memenuhi bpersyaratan sebagai tempat ibadah antara lain dengan mendatangi Yayasan Kas Pembangunan (YKP).

Dalam pergumulannya, Panitia Cabang mendapat tawaran dari Bpk. Prawiro Maruto (Alm.), Pemilik Real Estate Ready Indah, sebidang tanah yang terletak dikawasan Bendul Merisi Selatan Surabaya, yang boleh digunakan untuk membangun Gereja. Oleh karena pada saat itu perijinan membangun Gereja Tuhan sangatlah sulit, maka Bpk. Prawiro Maruto (alm.) menyarankan Ibu Lely Tedjakusuma bersama Pdt. Liem Ie Tjiauw, yang saat itu sebagai pendeta GGS, untuk mengurus perijinannya terlebih dahulu, baru setelah Ijin keluar, tanah yang ditawarkan boleh mulai diangsur pembayarannya.

Dalam suatu perjuangan yang berat dan lama, Panitia Pembangunan Gereja yang diketuai Bpk. J.W. Bierhuijs, bersama-sama Ibu Lely Tedjakusuma dan Bpk. Alex Polin, tidak henti-hentinya berhadapan dengan pejabat-pejabat Pemerintah Kotamadya, untuk mengurus Permohonan ijin peruntukkan Gereja dari Walikota serta IMB dengan bekal sebuah gambar karya rancangan seorang arsitek Bpk. Ir. Yahya Winata M.Arch. dan dibantu oleh Bpk. Ir. Sunarto Djajasaputra sebagai konstruktornya.

Setelah segala sesuatunya siap, maka pada 8 April 1988 bertepatan dengan kebaktian Hari Raya Paskah maka acara peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan dengan didahului ibadah pengucapan syukur yang dipimpin oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th., (Pembimbing Jemaat Cabang) dilaksanakan. Walaupun segala perijinan dari pemerintah kota telah ada, pembangunan Gedung Gereja tersebut sempat dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan, dengan dalih ada ”sekelompok orang” yang merasa keberatan dengan berdirinya Gedung Gereja ini. Dalam keputusasaan dan ketidakpastian, salah seorang Panitia Pembangunan mempunyai gagasan membentuk Persekutuan Doa Pembangunan yang bersekutu setiap hari Kamis di rumah keluarga Bpk. Budisetyono Tedjakusuma di Jl. Kendangsari Blok L-20. (Persekutuan Doa inilah yang menjadi cikal bakal PDM / Persekutuan Doa Malam, yang diadakan setiap hari Rabu malam).

Pada akhirnya tangan Tuhan bekerja, melalui salah satu pejabat di Gubernuran, yang juga pasien dr. The Swie Liang (seorang jemaat GGS), telah mencairkan penghentian pembangunan Gedung Gereja.

Atas anugerah Tuhan, pada tanggal 14 Maret 1998 diterbitkan Surat Persetujuan Izin Prinsip No. 452/01/411.22/1988 Oleh Walikotamadya Surabaya. Terkabullah segenap permohonan doa yang dinaikkan kepada Tuhan sang Kepala Gereja untuk izin prinsip pendirian rumah ibadah. Hingga akhirnya seluruh pembangunannya dapat diselesaikan pada tanggal 31 Oktober 1990. Sehingga bila dihitung seluruh pembangunannya memakan waktu selama 2,5 tahun. Hal yang menggembirakan peresmian gedung Gereja ini diresmikan sendiri oleh Bpk. Walikota yang saat itu dijabat oleh Bpk. dr. Poernomo Kasidi. Dengan diliputi rasa syukur yang dalam, jemaat cabang GGS benar-benar menyadari bahwa, “ Jikalau Bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mazmur 127:1)

Mulai 1 Januari 1991 diadakan penyesuaian nama Cabang Kendangsari menjadi Cabang Merisi Indah, karena lokasi tempat ibadah tidak lagi berada di daerah Kendangsari, tetapi kini berada di Bendul Merisi Selatan. Setelah diresmikan, Panitia GGS Cabang Kendangsari yang diketuai oleh Ibu Okky Djajasaputra, segera mengajukan permohonan kepada Majelis Jemaat GKI Pregolan Bunder, untuk segera memproses pendewasaan menjadi sebuah Gereja yang seutuhnya dan jemaat yang mandiri. Pdt. Liem Ie Tjiauw dan Pdt. Trees Adinata yang berperan aktif dalam mendukung kemandirian GKI Merisi Indah.

Hingga pada akhirnya, tepat tanggal 21 Oktober 1992, Majelis Jemaat GKI Pregolan Bunder, melepaskan “anak asuhnya” yaitu Cabang IV GGS, menjadi GEREJA yang dewasa yang kita kenal sekarang ini dengan “GKI MERISI INDAH” di Jl. Taman Bendul Merisi Selatan B-2/Kav. 10 – 14, Surabaya. Pada saat itu juga 15 orang Majelis Jemaat pertama diteguhkan oleh Pdt. Liem Ie Tjiauw, sedangkan kotbah pada ibadah oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th. Diawali dengan 264 anggota sidi dan 43 anggota baptisan, Jemaat GKI Merisi Indah dengan tegar melangkah. Sidang Klasis Banyuwangi telah menetapkan Pdt. Simon Filantropha, M.Th., dari GKI Ngagel - Surabaya, sebagai Pendeta Konsulen pertamanya.

Pada tahun 1996 Majelis Jemaat memutuskan untuk memanggil Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., yang saat itu menjadi Pendeta Konsulen GKI Merisi Indah, serta masih menjadi Pendeta Jemaat GKI Pasuruan. Ketika terjadi proses pemanggilan, maka perlu ada penggantian Pendeta Konsulen dari Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., kepada Pdt. Sardius Kuntjara, S.Th., dari GKI Jemursari - Surabaya. Keputusan pemanggilan Pdt. Samuel Tjahjadi pun segera dilaksanakan.

Setelah mengalami perjalanan panjang selama 5 tahun sejak 21 Oktober 1992, maka baru bulan Oktober 1997 Majelis Jemaat menerima jawaban kesediaan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., untuk menjadi Pendeta tetap di Jemaat GKI Merisi Indah yang selama 5 tahun melangkah tanpa seorang pendeta jemaat.

Pada tanggal 16 Februari 1998 diadakan Kebaktian Peneguhan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., menjadi Pendeta Pertama GKI Merisi Indah, dengan tema ”Sebagaimana Bapa mengutus aku“ (Yohanes 17 : 20-26).

Pelayanan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., sampai dengan memasuki masa emeritasi (tanggal 27 Oktober 2008).Sementara menunggu kehadiran Pendeta Kedua, PMK Klasis Banyuwangi menetapkan Pdt. Djusianto, M.Min. dari GKI Residen Sudirman – Surabaya sebagai Pendeta Konsulen.

Setelah melalui proses “ lintas “ GKI Sinode Wilayah Jatim dan Jabar, Pdt. Gunadi, M.Min.( Pendeta Jemaat GKI Halimun - Jakarta ) menerima pemanggilan sebagai Pendeta Kedua GKI Merisi Indah dan diteguhkan dalam Kebaktian Peneguhan pada tanggal 10 Agustus 2009.

 EBENHAEZER

 

GKI PONDOK TJANDRA INDAH



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Raya Taman Asri Utara 1
Pondok Tjandra Indah, Waru
Sidoarjo 60400
Telp. (031) 8664030
Fax. (031)8681748
Email : gki_pti@yahoo.co.id


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.08.00
Kebaktian Umum III pk.18.00
Kebaktian Pemuda pk.17.00
Kebaktian Remaja pk.08.00


PENDETA

Pdt. Budianto Puspahadi
Jalan Nanas VII/ N-673, PTI
Waru-Sidoarjo 60400
Email : budipus1712@gmail.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Menyadari panggilan maka paska pendewasaan itu patut dipahami adanya suatu panggilan baru dalam melaksanakan pembangunan jemaatNya. Dengan demikan maka segenap pimpinan jemaat, para aktivis maupun anggota jemaat patut menyadari perlunya suatu landasan atau penataan berjemaat yang baru lahir secara jelas dan kuat. Kita mesti melihat kebelakang tentang sejarah atau sekilas kisah tentang GKI Pondok Tjandara Indah.

Sejalan dengan perkembangan jaman, di mana banyak penduduk kota Surabaya menjauhi keramaian dan kebisingan kota untuk pindah ke tepi – tepi kota, maka bermunculanlah perumahan-perumahan di tepi kota Surabaya. Dan kawasan Rungkut – Wadung Asri – Tropodo dan sekitarnya di penuhi perumahan – perumahan yang kemudian menjadi kawasan yang semakin ramai dan padat.

GKI Jatim Ngagel yang memiliki jemaat dikawasan tersebut (wilayah -18 ) dimana anak- anak mereka bersekolah di TK-SD PETRA 13 di kawasan Pondok Tjandra Indah kemudian mendirikan sekolah Minggu, yang tempatnya selalu berpindah – pindah; dari rumah pastori GKI Ngagel, Pdt. John Nenobais, S.Th dengan alamat rumah Jl. Jambu VI, pindah lagi ke rumah Jl. Jambu III.

Dengan semakin banyaknya jumlah siswa sekolah Minggu, maka dapat disimpulkan semakin banyak pula warga GKI yang tinggal di kawasan Pondok Tjandra Indah dan sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menjadi pemikiran Majelis Jemaat GKI Ngagel untuk membangun sebuah gereja di kawasan tersebut. Dengan pergumulan dalam doa dan usaha, Majelis GKI Ngagel mencari sebidang tanah untuk pembangunan gedung gereja.

Rupanya maksud dari Majelis Jemaat pun bersambut dengan rencana Develover PT. Pondok Tjandra Indah ( Bp. Tjandra Sugiharto ) membangun sebuah gedung gereja untuk memperlengkapi fasilitas umum kawasan Pondok Tjandra Indah. Dan orang tua dari Bp. Tjandra Sugiharto pun kemudian membangun sebuah gedung gereja yang cukup indah diatas tanah yang telah di sediakan oleh beliau. Lengkaplah sudah karunia Tuhan yang merupakan jawaban dari doa dan pergumulan para Majelis Jemaat GKI Ngagel.

Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tgl. 15 Agustus 1986 dan setahun kemudian pada bulan Agustus 1987 gedung gereja dengan segala perabotnya telah selesai dan siap untuk ditempati.

Problem muncul setelah kita menyadari bahwa calon jemaat untuk GKI disana belum terbentuk sama sekali, (berbeda dengan pembangunan gedung gereja lain yang biasanya didahului terbentuknya calon – calon jemaat berupa kelompok – kelompok Persekutuan Doa dsb, namun gedung gereja GKI – PTI dibangun lebih dulu, barulah mencari jemaat …action dulu.., urusan biar belakangan…). Untuk itulah Pdt. John Ch. Nenobais, S.Th yang bertempat tinggal di pastori Pondok Tjandra Indah bersama beberapa orang antara lain : alm. Bp. Ong Liang Seng mencari informasi mengenai warga – warga GKI yang saat itu tinggal di kawasan GKI pondok Tjandra dan sekitarnya melalui RT-RW-Kelurahan yang saat itupun belum terbentuk secara sempurna, maklumlah perumahan baru dimana penghuninya belum banyak dan letaknya terpencar – pencar. Mereka semua di undang untuk hadir pada Kebaktian Perdana tanggal 06 September 1987.

Kuasa Tuhan memang benar – benar tampak pada Kebaktian Perdana karena melalui beberapa orang, Tuhan telah berkenan mengumpulkan jemaat – jemaatNya untuk hadir pada kebaktian Perdana tersebut : Kebaktian Perdana di hadiri 340 orang, hingga gedung gereja yang semula tampak cukup besar ini menjadi penuh sesak. Satu angka yang benar-benar spektakuler menggingat sebenarnya anggota GKI – cb. PTI ini masih nol bolong. ( belum ada ).

Dan pada kenyataanya pada kebaktian minggu – minggu berikutnya selalu di hadiri lebih dari 150 orang. Gereja yang baru terbentuk ini di kelola oleh GKI Jatim Ngagel sebagai cabang yang ke 2 setelah cabang Krian. Selama beberapa saat (sebelum di bentuk panitia cabang yang personilnya jemaat PTI sendiri), maka pengelolaan sehari – hari dilaksanakan oleh Pdt. John Ch. A. Nenobais, S.Th dibantu 4 orang anggota Majelis Jemaat GKI Ngagel yang berdomisili di Podok Tjandra Indah dan sekitarnya : Pnt. Adiwinoto Sutjahjo ; Pnt. Y. Sudaryanto ; Dkn. Ny Niniek sugianto ; Dkn. Ny. Niniek Mulyono.

Proses terbentuknya Panitia Gereja yang personilnya jemaat GKI – cb. PTI diawali dengan terbentuknya paduan suara Bp/Ibu terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena saat itu anggota gereja satu sama lain belum saling mengenal. Di sini peran Ibu Inge Nenobais SmTh ( isteri Pdt. John Nenobais S.Th ) sangatlah besar. Beliaulah yang menjadi “ibu gereja di saat GKI-PTI masih bayi” yang dengan gesit lari pontang panting mencari dan mengajak para pengunjung gereja untuk mengadakan latihan paduan suara. Sekedar mengisi kebaktian Minggu di gereja. Maka terbentuklah PS. Immanuel – 3 GKI cb. PTI ( angka 3 disini sehubungan di gereja induk / GKI Ngagel sudah ada PS. Immanuel – 1 dan 2 ). Paduan sura inilah merupakan organisasi gerejawi yang lahir pertama kali di lingkungan GKI cb. PTI. Dari anggota PS. Inilah kemudian dipilih beberapa orang (yang dari PS Immanuel -3 inipun kemudian beberapa anggota diajak ibu Inge Nenobias untuk membentuk Komisi Wanita GKI cb. PTI (saat itu disebut Pra Komisi Wanita ) yang saat itu bertugas menyediakan vas bunga di mimbar utama dan meja perjamuan.

Demikianlah gereja ini semakin berkembang hingga pada bulan Maret 1990 di mulai pelaksanaan Kebaktain sore hari disamping pagi hari. Saat-saat menjelang pendewasaan diawali dengan pindahnya Kebaktian Remaja yang semula di SD. Petra 13 (di depan gereja ) ke gedung gereja pk. 06.30 kemudian diadakan ceramah – ceramah pendewasaan serta pindah alih pengelolaan keuangan cabang dari GKI Ngagel ke GKI cb. PTI. Akhirnya Persidangan Klasis GKI Klasis Banyuwangi tahun 1993 memutuskan mengabulkan permohonan GKI-Ngagel untuk mendewasakan GKI cb. PTI. Dan pada tanggal 07 September 1992 GKI cb. PTI didewasakan menjadi GKI Jatim Pondok Tjandra Indah.

Pendewasaan ini juga ditandai dengan peneguhan Penatua GKI Jatim Pondok Tjandra Indah Seluruh jemaat mengisi pendewasan ini dengan makna untuk kebersamaan, baik secara Klasis maupun Sinode sebagai GKI Jawa Timur. Kemudian, pada tanggal 17 September 1995, Pdt. Budianto Puspahadi diteguhkan sebagai Pendeta jemaat GKI Pondok Tjandra Indah.

 

Tuhan Yesus Kristus selaku kepala gereja, mendampingi dan memampukan segenap pelayanan.

 

GKI RUNGKUT ASRI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Rungkut Asri Timur 16
Surabaya
Telp. (031) 8720452
Email: gkirungkutasri@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.08.00
Kebaktian Umum II pk.10.00
Kebaktian Pemuda dan Remaja pk.08.00


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Timotius Wibowo
Jl. Manyar Rejo X/ 65,
Surabaya 60118
Email: timot@sby.centrin.net.id
timot.gki@gmail.com

Calon Pendeta:
Pnt. Theodorus Willem Noya

 


 

 

Location/Map



 

 

 

GKI EMAUS



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Argopuro 17
Surabaya 60251
Telp. (031) 5313919,
Fax. (031) 5460745
Email: kantor@gki_emaus.org

BAKAL JEMAAT:
Ruko Taman Pondok Indah
A-12 Wiyung Surabaya
(kerjasama dengan GKI Pregolan & GKI "DASA")

POS JEMAAT:
Ruko Manukan Tama C/ 6
Tandes - Surabaya
(kerjasama dengan GKI "DASA")


JAM KEBAKTIAN

Jalan Argopuro
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.09.00

Bajem Wiyung
Kebaktian Umum  pk.17.00

Posjem Manukan
Kebaktian Umum pk.17.00

 


PENDETA

Pdt. Timothy Himawan Limanto
Galaxi Bumi Permai H 11,
Surabaya 60119
Email:limanto63@yahoo.co.id

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

(1). Medio 1953 dimulai dengan persekutuan para pemuda yang bertempat di sekolah Petra Jl. Embong Wungu no. 2, Surabaya, yang kemudian berkembang menjadi persekutuan yang dilakukan secara kontinu dan berbentuk kebaktian, dilayani oleh awam (bukan pendeta) dan belum berada dibawah naungan gereja.

(2). 2 Januari 1955 persekutuan/kebaktian itu diambil alih oleh gereja THKTKH Surabaya dan mengadakan KEBAKTIAN PERDANA pukul 07.00 pagi dengan meminjam gedung Gereja Gereformeerd Surabaya, Jl. Pregolan Bunder no. 36, Surabaya.

Tanggal 2 Januari 1955 ini kemudian diperingati sebagai tanggal berdirinya GKI Emaus.

Dalam periode ini pada tanggal 27 November 1958, Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) sesuai dengan keputusan Persidangan Sinode THKTKH Jawa Timur VII di Bondowoso diubah menjadi GEREJA KRISTEN INDONESIA JAWA TIMUR.

(3). 4 November 1962, karena Jemaat GGS akan mempergunakan tempatnya untuk kebaktian pk. 07.00, jemaat ini kemudian pindah tempat kebaktiannya ke Gedung Balai Pertemuan Mahasiswa Universitas Airlangga, Jl. Tegalsari no. 4, Surabaya.

(4). 2 Desember 1962 kebaktian jemaat ini dengan kemurahan hati dari para pengurus YWI yang berkenan meminjamkan salah satu ruangannya dipindahkan lagi ke gedung Panti Asuhan Kristen Yatim Warga Indonesia di Jl. Embong Malang 31, Surabaya. Dari tempat inilah kemudian timbul nama Emma singkatan dari Embong Malang dan Majelis Jemaatnya menggunakan nama GKI “Emaus”.

Sejak 29 Maret 1964 diadakan penambahan kebaktian pukul 09.00 dan mulai 3 Januari 1971 diadakan Kebaktian Remaja pukul 07.30 sedang kebaktian umum pukul 07.00 menjadi pukul 06.00.

(5). PENGEMBANG-BIAKAN GKI SURABAYA

Tanggal 3 April 1974, harus dicatat sebagai kebulatan tekad seluruh jemaat GKI Surabaya. Kebaktian diadakan di Gedung gereja GKI Emaus, Jl. Embong Malang no. 31, Surabaya. Masing-masing Majelis Jemaat akan berdiri sendiri-sendiri dan untuk menjalin kerja sama pelayanan dari gereja setempat yang telah berdiri sendiri, dibentuklah Badan Kerja Sama Gereja-gereja Setempat GKI Jatim Surabaya.

GKI Surabaya setelah pengembang biakan itu menjadi :

GKI Jatim Diponegoro dilayani oleh Pdt. Jahja Kumala dan Penatua Tugas Khusus Sientisia Handayani.

GKI Jatim Emaus (Embong Malang) dilayani oleh Pdt. J. Atmarumeksa

GKI Jatim Ngagel dilayani oleh Pdt. Pranata Gunawan, STh.

GKI Jatim Residen Sudirman dilayani oleh Pdt. B.A. Abednego

GKI Jatim Sulung dilayani oleh Pdt. Petrus Prasetya

 

(6). RENOVASI TEMPAT KEBAKTIAN

Setelah diperoleh kepastian status penggunaan gedung dengan perjanjian dengan pihak YWI selama 25 tahun mulai 1 Januari 1971 s.d. 1 Januari 1996, maka dimulailah rencana renovasi gedung kebaktian dan pada tanggal 27 November 1974 diresmikanlah gedung gereja GKI Emaus Jl. Embong Malang 31, Surabaya. Menyadari bahwa suatu saat jemaat ini tidak dapat lagi beribadah di Jl. Embong Malang 31, maka pada tahun 1984 dibentuklah Panitia Dana dan Pembangunan Gedung Gereja GKI Emaus dengan tugas mencari dana untuk pembelian lahan baru serta merancang pembangunan gedung gereja yang baru.      

 

(7). 1 Januari 1991 karena tempat itu dijual ( sekarang menjadi Hotel Sheraton ), jemaat ini dengan berkat Tuhan pindah lagi ke Jl. Argopuro no. 17, Surabaya suatu lahan seluas 2.200 m2.

Saat pindah ke Jl. Argopuro 17 yang saat itu masih berbentuk rumah tinggal dibentuklah Tim Perencanaan Gedung Gereja GKI Emaus yang bertugas merancang, mencari dana serta membangun gedung gereja GKI Emaus. Tim yang dipimpin oleh Ir. St. Setiadi (alm) bekerja keras merancang suatu kompleks gedung gereja yang terdiri dari

Gedung A adalah Ruang ibadah

Gedung B adalah gedung berlantai 5 yang akan dipakai sebagai ruang-ruang Sekolah Minggu, Ruang Rapat, Ruang Komisi-Komisi serta ruang serbaguna (aula).

Gedung C, di depan dua lantai, yang dipergunakan untuk kantor gereja, ruang rapat dan ruang Pendeta, sedangkan bagian bawah digunakan untuk pelayanan kesehatan. Gedung D adalah menara lift, dimana terdapat ruang     doa pada puncaknya.

(8). Pada bulan Juni 1994 Majelis Jemaat membentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja GKI Emaus. Panitia bahu membahu dengan Tim Perencanaan mulai melakukan pengurusan IMB serta mencari kontraktor melalui lelang terbuka.

Pada tahun 1995 dimulailah pembangunan gedung C dan pada tanggal 7 Januari 1996, Gedung C lantai bawah sudah dapat digunakan untuk pelayanan medis. Penggunaannya ditandai dengan doa syukur bersama diantara Panitia Pembangunan, Majelis dan para pasien serta Pelayan-pelayan medis, baik dokter serta para asisten. Doa syukur ini dipimpin oleh Pdt. Debora Sri Lestari, S.Th.

Tanggal 17 September 1996 dimulailah pembangunan gedung B & D dan begitu pekerjaan struktur telah selesai pada bulan April 1997  dilanjutkan pembangunan gedung A (Ruang Kebaktian). Penyertaan Tuhan sungguh ajaib, karena saat pembangunan hampir selesai terjadilah gejolak moneter (lebih dikenal dengan krismon). Beruntunglah jemaat GKI Emaus, karena lift, air cindition, pekerjaan mechanical dan electrical sebagian besar telah selesai.

Selama proses pembangunan jemaat tidak pindah ke tempat lain, tetapi hanya pindah ruangan kebaktian sampai beberapa kali tetapi tetap di kompleks Jl. Argopuro 17, sehingga jemaat dapat menyaksikan sendiri perkembangan dan proses pembangunannya.

Partisipasi jemaat dan simpatisan sungguh luar biasa. Seluruh anggaran pembangunan dapat ditutup pada waktunya.

Pendeta yang melayani:

  1. Pdt. Jojakim Atmarumeksa 3-4-1974 s/d 1-10-1993

  2. Pdt. Debora Sri Lestari 8-7-1981 s/d 11-6-2001

  3. Pdt. Timothy H. Limanto 8-2-1999 s/d sekarang

  4. Pdt. Deddy G. Satyaputra 9-9-2002 s/d tahun 2015

Pada tanggal 31 Agustus 1998, Gedung Gereja GKI Emaus yang baru, diresmikan di dalam suatu kebaktian Peresmian dan Pengucapan Syukur yang dihadiri seluruh anggota jemaat dan undangan.

 

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
(Mazmur 136:1)

 

GKI PREGOLAN BUNDER



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Pregolan Bunder 36
Surabaya 60262
Telp. (031) 5340023, 5343648
Fax. (031) 5470860
Email sekretariat: cooltiyah@yahoo.com

BAKAL JEMAAT:
Ruko Taman Pondok Indah
A-12 Wiyung Surabaya
(kerjasama dengan GKI "Emaus" & GKI "DASA")

POS JEMAAT:
Pondok Benowo Indah
Blok OO/ 1 Surabaya
Telp. (031) 7408563


JAM KEBAKTIAN

Jalan Pregolan Bunder
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Pemuda pk.18.00
Kebaktian Remaja pk.07.00

Bajem Wiyung
Kebaktian Umum  pk.17.00

Posjem Benowo
Kebaktian Umum pk.08.30

 


PENDETA

Pdt. Yohannes Dharmawan
Jalan Ketintang Baru IV B/30
Surabaya
Email: johannes_dharmawan@yahoo.com

Pdt. Sandi Nugroho
Jalan Wisma Permai Barat V blokOO no 62,
Surabaya
Email: israel_sandi@yahoo.com

Calon Pendeta:
Pnt. Ezra Rinaldi

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Lewat lembaga “de Gereformeerde Kerken in Nederland” dan para utusannya ( missionaries ) inilah lahir gereja – gereja Gereformeerd di Indonesia, termasuk Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya, yang sebelumnya bernama Gereja Gereformeerd Surabaya (GGS). GGS berdiri 11 September 1881, empat tahun setelah Gereja Gereformeerd pertama tumbuh di Jakarta, tepatnya di Kwitang (1877).

Tepat pada hari Minggu, 11 September 1881, usai kebaktian dipimpin Pdt Delfos, sebagian warga jemaat sepakat membentuk Christelijke Gereformeerde Zendingsgemeente (Jemaat Injili Kristen Gereformeerd). Inilah yang nantinya disebut sebagai GGS, dan saat itu menempati gedung sewaan di jalan Kalisosok. Pdt Delfos melayani jemaat hingga th 1887. Sepeninggal Pdt Delfos jemaat dilayani oleh Pdt. A Bolwijn selama sembilan tahun hingga tahun 1896 beliau harus kembali ke Belanda. Pada masa beliau jemaat GGS memiliki gedung sendiri dan memindahkan pusat ibadah mereka ke Jalan Johar. Jemaat GGS harus menanti hingga 4 tahun untuk hadirnya seorang hamba Tuhan baru sepeninggal Pdt. A. Bolwijn. Bertepatan dengan Natal hari kedua (Desember 1900) Pdt W Pera tiba di Surabaya dan mulai melayani jemaat di kebaktian minggu pertama Januari 1901.

Pada tahun 1914, majelis gereja memutuskan memindahkan pusat kegiatan pelayanan ke kawasan tengah kota. Maka dipilihlah kawasan di Jalan Pregolan Bunder. Pastori selesai dibangun pada tahun 1915 dan akhirnya pada tahun 1921 gedung  GGS selesai dibangun. Akan tetapi pada tahun 1920 Pdt Pera harus kembali ke Belanda. Selama 3 tahun jemaat dilayani oleh pendeta konsulen yakni Pdt. D Bakker Sr dari Yogyakarta (1920-1923).

Pada tahun 1923 jemaat GGS mulai dilayani oleh Pdt Ringalda yang kemudian karena adanya pelayanan untuk jemaat berdomisili diluar Surabaya maka dipanggillah satu pendeta baru pada Oktober 1926 yakni Pdt van der Spek. Salah satu jemaat binaan GGS yaitu jemaat Gereformeerd Malang kemudian mengalami pertumbuhan pesat sehingga atas persetujuan Sidang Klasis di Jogjakarta tahun 1931, maka pada 12 Juli 1931, jemaat Gereformeerd di Malang resmi berdiri sendiri (di kemudian hari menjadi GKI Bromo Malang). Kedua pendeta tersebut melayani hingga tahun  1932.

Selanjutnya pada periode 1932 – 1958 beberapa pendeta dari Belanda bergantian melayani jemaat GGS. Setelah pendeta terakhir yakni Pdt Meynen kembali ke Belanda, jemaat GGS dilayani pendeta konsulen dari Sinode GKI Jatim Surabaya, yaitu Pdt Drs Han Bin Kong (dari tahun 1937-1958).

Sepeninggal anak – anak Tuhan ke Negeri Belanda, sesuai dengan nasihat Sinode Gereformeerd di Belanda dan merujuk pada usulan dari klasis Jakarta maka akhirnya jemaat di Bandung, Jakarta, dan Semarang , menggabungkan diri dengan GKI sinode Wilayah Jawa Tengah. Setelah bergabung nama mereka pun berubah menjadi GKI Cibunut Bandung, GKI Kwitang Jakarta dan GKI Kalisari Semarang. Tinggal GGS yang belum bergabung. Itu sebabnya ada harapan agar gereja ini juga menggabungkan diri dengan GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah atau GKI Sinode Wilayah Jawa Timur. Akhirnya setelah mengajukan permohonan bergabung pada sidang Sinode GKI Jatim ke IX pada November 1960 GGS resmi bergabung dengan GKI Sinode Wilayah Jawa Timur. Akan tetapi tidak seperti gereja – gereja Gereformeerd yang lain, yang berubah nama menjadi GKI setelah bergabung dengan GKI Sinode Wilayah Jawa Timur, gereja Pregolan Bunder memilih tetap mempertahankan badan hukum dengan nama GGS.

Setelah sekitar 82 tahun dilayani pendeta dari Belanda dan pendeta konsulen, sejak tahun 1963, GGS memiliki pendeta dari Indonesia. Tanggal 17 Januari 1963, Pdt J Obadja (Oei Liang Bie) diteguhkan sebagai pendeta GGS di lingkungan Sinode GKI Jawa Timur. Beliau melayani hingga 31 Desember 1968. Pada masa pelayanan beliau inilah didirikan Pos Pekabaran Injil di Gresik ( yang dikemudian hari menjadi GKI Gresik ).

Sepeninggal Pdt. Obadja, jemaat GGS kembali tanpa pendeta jemaat. Untuk sementara, sejak Februari 1969 jemaat dilayani pendeta konsulen dari GKI Sinode Wilayah Jatim, yaitu Pdt Tan Kiem Tjoe atau lebih dikenal dengan nama Y Atmarumeksa. Pada Maret 1969 Tuhan berkenan mengutus Pdt Liem Ie Tjiauw memimpin jemaat GGS. Pada tanggal 16 September 1969, Pendeta Liem Ie Tjiauw diteguhkan sebagai pendeta GGS.

Pesatnya perkembangan jumlah jemaat dan kegiatannya membuat majelis gereja perlu memanggil pendeta jemaat yang mendampingi Pdt Liem. Lewat pergumulan dan doa jemaat, akhirnya Tuhan berkenan memberikan Pdt Trees Hidayat Sth ( yang setelah tanggal 31 Mei 1979 menjadi Ny Trees Adinata Sth ) pada bulan Oktober 1973. Pada masa kepemimpinan Pdt Liem berdiri tiga pos PI Kota Satelit, Kendangsari, dan Manyar Tompotika. Ketiga pos ini setelah menjadi cabang GGS, akhirnya bersama – sama cabang Gresik menjadi gereja yang berdiri sendiri, yaitu GKI Gresik, GKI Darmo Satelit, GKI Merisi Indah, dan GKI Manyar. Seiiring dengan pertambahan cabang  gereja maka diperlukan tenaga pendamping lagi. Pilihan jatuh kepada Pdt Sumardyanto yang ditahbiskan pada 11 September 1984.  Akan tetapi Tuhan berkehendak lain atas hambaNya ini. Pada usia yang masih muda yaitu 39 tahun, dipanggil Tuhan pada tanggal 29 April 1992. Pdt Trees Adinata kemudian juga meninggalkan jemaat GGS karena per 1 Agustus 1992 mendapat panggilan menjadi pendeta di GKI Bromo Malang.

Pada ulang tahunnya yang ke 106, yakni tanggal 11 September 1987 GGS secara resmi berubah nama menjadi GKI Pregolan Bunder. Perubahan ini sudah mendapat persetujuan melalui Sidang GKI Sinode Jatim XL tanggal 29 Juni – 3 Juli 1987 di Banyuwangi.

Pdt Agus Surjanto ditahbiskan pada 1 April 1997 untuk selanjutnya mendampingi Pdt. Liem.  Pdt. Liem kemudian memasuki masa emiritasi pada tanggal 16 September 1999. Dengan memasuki masa emiritasi Pdt. Liem maka dipanggillah pendeta baru dalam diri Pdt. Johannes Dharmawan yang saat itu menjadi pendeta GKI Pajajaran Magelang. Selanjutnya pada tanggal 18 April 2001 hamba Tuhan ini diteguhkan menjadi pendeta kedua di GKI Pregolan Bunder. Tak lama kemudian seiiring bertambahnya pelayanan yang harus ditangani maka dipanggillah Pdt. Anni Prihandini Saleh yang ditahbiskan pada 28 Februari 2002. Dan pada akhirnya melengkapi jajaran pendeta yang telah ada ditahbiskanlah Pdt. Sandi Nugroho menjadi pendeta ke 4 GKI Pregolan Bunder pada tanggal 19 Januari 2009.

 

GKI DARMO SATELIT



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Kupang Indah XV/ 11-15
Surabaya 60189
Telp. (031) 7311513,
Fax. (031) 7310695
Email : gkidasa@plasa.com

BAKAL JEMAAT:
Ruko Taman Pondok Indah
A-12 Wiyung Surabaya
(kerjasama dengan GKI "Emaus" & GKI Pregolan)

POS JEMAAT:
Ruko Manukan Tama C/ 6
Tandes (kerjasama dengan GKI “EMAUS”)


JAM KEBAKTIAN

Jalan Kupang Indah
Kebaktian Umum I pk.07.30
Kebaktian Umum II pk.09.30
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Anak pk.07.00 & 09.30 & 17.00
Kebaktian Remaja pk.07.00
Kebaktian Pemuda pk.07.00

Bajem Wiyung
Kebaktian Umum  pk.17.00

Posjem Manukan
Kebaktian Umum pk.17.00

 


PENDETA

Pdt. Andri Purnawan
Jl. Darmo Baru Barat VI/28,
Surabaya
Email: pdtandri@gmailcom


Pdt. Deddy Gunawan Satyaputra
Jl. Kupang Indah XI/19,
Surabaya 60138
Email: deddy23@yahoo.com

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Pembukaan Pos Pekabaran Injil

Pada tanggal 1 Januari 1980 pukul 07.15 dibukalah Pos Pekabaran Injil di kawasan Kota Satelit. Pos ini terletak di Jln. Kupang Indah Raya no. 9 Surabaya, di rumah keluarga Bpk. Herman Sutedja. Kebaktian pembukaan Pos ini dilayani oleh Pdt. Liem Ie Tjiauw. Lokasi Pos ini pada bulan April 1983 pindah ke Jln. Kupang Baru 68 Surabaya. Dan pada tanggal 18 Desember 1988 pindah ke lokasi gereja sekarang.

 

1. Kepanitiaan Cabang

Kepanitiaan Cabang dibentuk pada umumnya sekali dalam setahun. Jumlah tidak selalu pasti, namun berkisar antara 7 hingga 10 orang. Syarat pengang-katan sebagai Anggota Panitia adalah sudah 2 tahun menjadi anggota sidi. Dalam kepanitiaan unsur yang mutlak harus ada ialah Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan yang lainnya sebagai anggota. Selain itu dalam struktur kepanitiaan senantiasa didampingi MG GGS yang disebut Majelis Penghubung. Jumlah Majelis Penghubung pada umumnya berkisar antara 2 – 3 orang. Jabatan mereka pun pada umumnya bergiliran setiap tahunnya.

 

2. Kegiatan Pelayanan Gerejawi

a. Kebaktian Umum

Diadakan setiap hari Minggu pada pukul 07.15 di Jalan Kupang Indah 9 Surabaya. Pengunjungnya dari tahun ke tahun makin bertambah; catatan data tahun 1980 – 1981 rata-rata 60 orang, 1982 ( 80 orang ), 1983 (110 orang ), 1984 – 1985 (120 orang). 1986 – 1988 (125 orang). Berhubung jumlah pengunjung semakin bertambah maka lokasi kebaktian pindah ke Jalan Kupang Baru 68 Surabaya. Setiap usai kebaktian  diadakan acara ramah tamah jemaat secara sederhana.

Kebaktian Perjamuan Kudus diadakan setahun 4 kali seperti yang dilaksanakan di pusat. Rata-rata pengikut Perjamuan Kudus sekitar 70 orang di luar tamu.

Kebaktian Natal dan Paskah juga diadakan di Cabang dan dipimpin oleh  Pendeta dari GGS.

b. Kebaktian Remaja

Diadakan mulai tahun 1983, pada setiap hari Minggu pukul 09.00 di Jalan Kupang Baru 68 Surabaya. Remaja yang mengunjungi kebaktian sekitar 30 orang. Pelayan Kebaktian Remaja dilakukan oleh GSM, Majelis Gereja, dan para Stages.

c. Pemahaman Alkitab

Mula-mula diadakan sekali dalam sebulan, sedangkan temanya kadang berseri.  Lokasi PA bertempat di Jalan Kupang Baru 68 Surabaya. Sejak tahun 1982 diadakan setiap hari Rabu pukul 19.00. Pembicara yang memimpin PA adalah Pendeta GGS secara bergiliran atau Pendeta dari gereja lain. Pengikutnya rata-rata berjum-lah 30 orang.

d. Rapat Panitia Cabang setiap bulan sekali

e. Perkunjungan

f. Kolportage

Kegiatan kolportage diadakan seusai kebaktian hari Minggu. Barang-barang yang dijual a.l. Alkitab, Buku-buku bacaan kristen, dan kaset lagu rohani. Data 1988 mencatat bahwa kegiatan ini di koordinasikan oleh   Ny. Harri S., Ny.Handayatno, dan Ny.Sidik W.

g.Paduan Suara

h. Seksi – seksi

i. Seksi Remaja

j. Seksi Mugrej

k. Seksi Wanita

l. Seksi PAPI - Mengkoordinasikan kegiatan Pemahaman Alkitab dan PDRT

m. Persekutuan Doa Rumah Tangga ( PDR)

- PDRT mulai diadakan pada bulan Desember 1985

- PDRT yang sudah dimulai sejak adanya Pos PI lalu berkembang menjadi 3 kelompok yaitu

  • Kelompok Darmo Permai dikoodinasikan oleh Sdr. Sundoro S.
  • Kelompok Darmo Indah / Harapan dikoordinasikan oleh Sdr. Wadiono Gondo
  • Kelompok Darmo Baru Barat / Sono Indah / Dukuh Kupang dikoordinasikan oleh Sdr. Suwarto.

- PDRT dalam tahun 1987 bertambah 1 kelompok lagi yaitu : Kelompok Sukomanunggal Jaya / Kupang Indah / Kupang Jaya dikoordinasikan oleh Sdr. Handayatno I. dan Sdr. Harri S.                       

- Pembicara dalam PDRT untuk minggu ke 1 dan ke 2 diambil dari kalangan sendiri, untuk pembicara dari luar harus sepengetahuan MG.

- Keempat kelompok PDRT ini pernah mengadakan Perayaan Natal di rumah keluarga Bpk. Suwarto pada tanggal 15 Desember 1987.

n. Katekisasi 

Pelayanan katekisasi untuk umum dilakukan setiap hari Jumat pukul 18.00 di Jalan Kupang Indah XVII/41 Surabaya dipimpin oleh Pdt. Ny.Trees A. Sedangkan katekisasi untuk remaja dilakukan pada hari Senin pukul 16.30 di Jalan Raya Kupang Baru 68 Surabaya dipimpin oleh TT. Petrus Daniel.

 

3. Panitia Pembangunan Gereja

Latar belakang dibentuknya Panitia Pembangunan Gereja karena adanya persembahan sebidang tanah dari Kel. Djajadi Purnomo dan Kiantoro Purnomo. Tanah ini letaknya di Jalan Darmo Permai Selatan (sek. Jalan H.R. Muhamad). Niat membangun di lokasi ini tidak dapat dilaksanakan karena satu dan lain hal. Sehingga tanah tersebut dijual dan dibelikan sebidang tanah lain yang lokasinya yang sekarang digunakan.

Kegiatan Pembangunan gereja di bawah koordinasi Panitia Pembangunan Gedung Gereja. Susunannya sbb :

Ketua : Pnt. Gideon Hadikusuma
Wakil Ketua :    Sdr. Hary S.Listiyo
Penulis I  :    Ny. Tridayat D.
Penulis II  :    Sdr. Djanardi Tantono
Bendahara   :     Sdr. Robiantoro Matalie
Sie dana        :    Sdr. Armawan Suryohadi
Sdr. David Suwandi

Sie Pelaksana Pembangunan : 
Pnt. Kris Hadiprasetya
Pnt. Handayatno Imanjaya
Sdr. Sundoro Sutanto
Sdri. Renny T. Yolanda

Pembangunan dilaksanakan oleh P.T. Caprindo Utama  dilakukan secara bertahap dan dipantau oleh Panitia. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 8 Mei 1986. Tahap I dengan biaya Rp. 13.894.445,- dan tahap II dengan biaya Rp. 27.021.706,-. Pekerjaan tahap II yang selesai pada tanggal 15 Pebruari 1987 adalah pemasangan kerangka baja untuk bangunan gedung dan gereja, menara gereja, pembuatan poer, stoof dan portal baja. Sedangkan untuk tahap III merupakan tahap Finishing. Peresmian gedung gereja ini dilakukan tanggal 22 September 1989.

 

4. Kendala yang dihadapi

Perjalanan sejak dibukanya Pos Pekabaran Injil hingga diresmikannya menjadi Cabang sangat singkat, tepatnya sekitar 10 bulan. Dalam kurun waktu yang begitu singkat tampaknya segala sesuatu dapat berjalan lancar dan mulus walaupun sebenarnya ada juga kendala yang dihadapi. Tetapi lain halnya dengan perjalanan waktu antara Cabang hingga didewasakan menjadi Gereja Setempat (Jemaat). Perjalanan itu ternyata panjang sekali atau tepatnya berlangsung selama 9 tahun 9 bulan dan 20 hari. Timbul pertanyaan di mana letak kendala-kendalanya ? Sedikitnya ada 4 kendala yang dihadapi.

a. Tempat ibadah atau  gedung gereja  

Untuk memiliki gedung gereja yang tetap dan memadai ternyata menghadapi kendala yaitu dalam hal perijinan dan pengadaan sejumlah besar dana. Ditinjau dari sudut GGS ( “ Gereja Induk “ ) hal pengadaan dana bukanlah soal yang terlalu mudah. Karena secara serempak Majelis Gereja patut bersikap arif dan adil terhadap urusan yang senada yaitu niat pendewasaan bagi Cabang Manyar dan Kendangsari.

b. Itu berarti dana pembangunan yang terkumpul dari pengunjung kebaktian lewat kantong I ( istimewa ) maupun aksi pengumpulan dana lainnya tak dapat semuanya diperuntukan bagi pembangunan gereja Cabang Kota Satelit. Aturan main yang diputuskan dan dipegang bersama menggunakan sistem pembagian bahwa Kota Satelit memperoleh 2/5 bagian dari seluruh dana pembangunan yang terkumpul dan bagian yang lainnya diperuntukkan bagi Cabang Manyar dan Kendangsari. 

c. Pemahaman bergereja secara dewasa

Pemahaman seperti yang dimaksud di atas butuh waktu yang tidak sebentar untuk dihayati. Alasan ? Pemahaman bergereja merupakan sesuatu yang membutuhkan penghayatan iman yang mendasar bahwa Yesus Kristus adalah Kepala Gereja dan Jemaat adalah tubuhNya. Hal itu menyangkut semua pihak ; baik para penjabat gerejanya maupun anggota jemaatnya. Mereka patut menyadari secara benar dan serius bahwa sebagai gereja yang mandiri, mereka harus mampu melaksanakan tugas panggilannya secara utuh. Artinya perlu memenuhi kebutuhan internal anggota jemaatnya, maupun secara eksternal dapat menjadi kesaksian yang hidup yang mendatangkan damai sejahtera bagi masyarakat. Agar mampu berbuat seperti yang dimaksudkan di atas butuh kesempatan dan pengalaman. Untuk mencapai maksud tersebut beberapa aktifis yang ada di Cabang Kota Satelit perlu magang dulu dalam kemajelisan GGS untuk suatu waktu agar dapat mengalami dan menimba pengalaman bergereja selaku penjabat gereja yang bakal memimpin jemaat yang dewasa.

d. Pembiasaan diri dalam melayani secara gerejawi.

Pembiasaan diri dalam melayani secara gerejawi berarti sadar bahwa ia melayani bersama dengan orang lain dan bergantung juga pada orang lain. Apa yang seseorang pikirkan dan kehendaki tidak otomatis harus dituruti. Sebab hidup dan pekerjaannya berada dalam suatu wadah kebersamaan yang punya karakter khusus yaitu organisasi gereja. Artinya tidak ada yang secara hirarkis merasa lebih tinggi dan merasa direndahkan. Mereka pun patut membiasakan diri bekerja dalam suatu sistem yang teratur dan berjalan dalam derap kebersamaan. Masing-masing komponen organisasi       (Majelis jemaat – Komisi – Aktifis – Panitia – Unit Pendukung/fasilitas lainnya) patut berkemas diri secara utuh sehingga dapat tampil optimal sesuai tugas masing-masing dalam pelayanannya secara utuh.

e. Pembimbing yang tetap

Kehidupan Cabang Kota Satelit memang menjadi tanggung jawab penuh dari MG GGS. Namun untuk hidup keseharian di Cabang tidak senantiasa dapat ditangani secara cepat dan tepat. Sedangkan Panitia Cabang, mereka semua warga jemaat yang setiap harinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Panitia Cabang sangat merasakan akan kebutuhan adanya seorang pembimbing yang tetap untuk menangani secara langsung untuk semua bentuk pelayanan gerejawi yang makin berkembang. Ibaratnya, mereka butuh motor penggerak yang penuh waktu dan mampu memotivasi warga jemaat untuk melayani dan bekerja sama dalam membangun Cabang. Berbagai usaha telah dicoba dengan mengadakan pendekatan kepada lulusan Pendidikan Theologia, namun tidak berhasil.

    

6. Faktor yang mendukung

Faktor pendukung yang nampak dan sekaligus merupakan faktor yang mampu mengatasi kendala yang dihadapi seperti diuraikan terdahulu adalah tekad bulat yang kuat dari semua pihak yang terkait agar Cabang Kota Satelit menjadi Gereja Setempat/Jemaat Kota Satelit. Dari pihak Majelis Gereja GGS sangat memahami perkembangan yang menggem-birakan dengan kehadiran Cabang GGS di Kota Satelit. Pengunjung kebaktian setiap tahun bertambah banyak. Kegitan gerejawi dari tahun ke tahun semakin beragam dan semakin disambut warga setempat. Karena itu mereka mendorong dan membantu dengan sekuat tenaga untuk memiliki gedung gereja yang memadai. Selain itu mereka pun senantiasa dengan tekun mendampingi Panitia Cabang untuk belajar mandiri dalam berorganisasi dengan menunjuk Majelis Gereja Penghubung. Dan untuk pelayanan jemaat seperti Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, dan Wanita  mereka pun menunjuk pendamping bagi masing-masing Komisi tersebut.

Dari para aktifis dan anggota di Cabang Kota Satelit tampak jelas semangat dan pengurbanan diri, waktu, tenaga, dan dana untuk semakin mandiri dan berjemaat secara dewasa. Kegiatan Komisi Wanita tidak saja ditujukan untuk yang terkait dengan kewanitaan (demo buat kue/masakan) tetapi apapun kegiatannya, tujuannya adalah membantu dana pembangunan jemaat. Demikian pula semangat bertumbuh secara iman dan spiritualitas yang dewasa dalam wujud mengembangkan Persekutuan Doa pagi setiap hari pkl.06.00. Dan Persekutuan Doa Rumah Tangga, dari satu kelompok menjadi empat kelompok. Pengalaman itu membuat keberadaan yang satu dengan yang lainnya makin erat. Diantaranya dengan berlangsungnya peneguhan pernikahan antara Sdr. Kevin Laisianto dengan Sdri. Netti Poernomo yang dilayani oleh Pdt. Liem Ie Tjiauw pada tanggal 12 Agustus 1989 (lihat lampiran 5.a.) Dan dari pembinaan lewat Firman Allah yang disampaikan, mereka pun semakin menyadari akan tugas panggilan dan tanggung jawab sebagai Anggota Jemaat untuk melayani di tengah-tengah jemaatnya. Dari pembinaan itu muncul banyak aktifis yang membantu di segala bidang pelayanan untuk  mengatasi berbagai kebutuhan pelayanan jemaat.

 

7. Pendewasaan Cabang

a. Persiapan

Sebagai persiapan MG untuk pendewasaan Cabang Kota Satelit, maka dibentuk Panitia Persiapan Pendewasaan GKI Pregolan Bunder Cabang Kota Satelit sbb.

Pembimbing  :  Pdt. Sumardiyanto
Adm/Keuangan :  TT. Kosasih  dan TT. Kris Hdan Sdr. Wadiono Gondo
Koord. Komisi  :  TT. Harry S. dan Diaken Chandra Yoceba
Penulisan sejarah  :  TT. Kris Hadiprasetyo  dan TT. Gideon Hadikusuma     

Panitia ini mengadakan rapat-rapat bulanan dalam rangka persiapan pendewasaan Cabang. Di samping itu, MG mengajukan niat pendewasaan Cabang Kota Satelit kepada Moderamen Sinode GKI Jatim. Niat tersebut ditanggapi dengan baik dengan mengadakan Visitasi Khusus ke GGS pada tanggal 26 April 1989. Dan hasil Visitasi Khusus tersebut lalu dilaporkan dan diputuskan setuju dalam persidangan Sinode GKI Jatim ke XLII pada tanggal 12 – 16 Juni 1989 Setelah itu Moderamen Sinode GKI Jatim menetapkan dan memberikan Akta Pendewasaan (lihat lampiran 4). Selain itu juga ditetapkan batas wilayah/rayon yang menjadi bagian pelayanan dari Cabang Kota Satelit yang akan didewasakan sbb.

Sebelah barat Sungai Gunungsari, S.Pulosari, Jln. Mayjen Sungkono, Jln. Bintang Diponggo, S.Banyu Urip, S. Simokalangan, S. Asem Rowo, dan sungai dari tepi Jln. Kraksaan ke utara. (termasuk juga wilayah Surabaya Utara) Semua anggota sidi yang berdomisili di wilayah seperti yang disebutkan di atas dicatat dan terhisab sebagai Anggota Sidi dari Jemaat Kota Satelit saat pendewasaannya. Daftar nama anggota sidi tersebut akan diserahkan oleh MG dalam acara kebaktian Pendewasaan bersama Alat Sakramen dan Alkitab.

b. Kebaktian Pendewasaan

Kebaktian Pendewasaan Cabang Kota Satelit menjadi GKI Darmo Satelit Jln. Kupang Indah XV/9-10 Surabaya dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 September 1989 pkl.18.00 dipimpin oleh Pdt.Sumardiyanto. Nas khotbah diambil dari Kolose  2 : 6 – 7 yang intinya mengajak setiap jemaat menyadari tugas dan tanggung jawab pelayanannya untuk membangun jemaat dalam keakraban, kebersamaan dan loyalitas agar supaya makin bertumbuh.

c. Majelis Darmo Satelit yang perdana Tua-tua  :

1.   Andreas Kristianto
2.   Gideon Hadikusuma
3.   Hary Sudjoko Listiyo
4.   Kris Hadiprasetya
5.   Paulus  Sugianto   Kosasih
6.   Sigit Purbandoro
7.   Sundoro Sutanto
8.   Titus Handayatno Imandjaja
9.   Wadiono Gondo

Diaken :

  1. Ny. H.M  Oka
  2. Ny. L. Moniaga
  3. Ny. S. Krismanhad

d. Pendeta Konsulen                            

Pendeta konsulen untuk Jemaat GKI Darmo Satelit adalah Pdt. Ny. Trees Adinata
(Surat Pengangkatan Moderamen Sinode GKI Jatim No. 296/Mod/XLII/’89  tanggal  23 September 1989).         

e. Anggota Jemaat pada 1989
Anggota Sidi     :
laki-laki (L)=93 orang ;  perempuan (P)=112 orang
Anggota Baptisan: L=22 orang ;   P=36 orang
Jumlah seluruhnya 263 orang.

 

GKI SEPANJANG



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Raya Wonocolo 90
Taman – Sidoarjo 61257
Telp/Fax. (031) 7881682
Email: gkisepanjang@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Anak pk.07.00
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.09.00


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Iwan Sukmono
Jalan Tri Tunggal 49,
Bojonegoro
Email: iwansukmono@yahoo.com

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

GKI “Sepanjang” merupakan perkembangan dan pertumbuhan dari Pos PI Komisi P.A.P.I (Pemahaman Alkitab Pekabaran Injil) GKI Diponegoro Surabaya, yang dibina oleh Tua-tua Adisoebrata dan Tua-tua Kwee Kok Gan.

Pada waktu itu bertempat di rumah mantan Tua-tua Santoso di sebelah utara pasar “Sepanjang” yang lama (sekarang di sebelah utara Masjid Baiturrochim). Setiap hari Rabu malam diselenggarakan persekutuan doa keluarga, dan selanjutnya bergilir ke rumah warga yang lain, dan jumlah keluarga masih sangat sedikit, yaitu ± 6 Kepala Keluarga. Pada tahun 1975 datanglah Bp. Sugimin dari Banyu Urip-Surabaya, beliau adalah juga anggota jemaat GKI Diponegoro, yang terus mencari anggota GKI yang berdomisili di sekitar “Sepanjang”. Persekutuan doa makin lama makin berkembang, kemudian GKI Diponegoro menugaskan TTK (Tua-tua Tugas Khusus) Sien Sriyono untuk melayani jemaat yang ada di wilayah Pos PI “Sepanjang”.

 

GEDUNG GEREJA

Pada ± Tahun 1980 Pos PI “Sepanjang” memberikan masukan kepada GKI Diponegoro untuk membeli gedung Gereja Katolik yang berada di Jl. Raya Wonocolo 90 Taman - Sidoarjo, karena Gereja Katolik sudah membangun gedung gereja baru dan pindah ke Kebraon Gg. I Surabaya. Dengan keputusan Majelis GKI Diponegoro, maka Gedung Gereja Katolik “Santo Yusuf” tersebut dibeli dengan perantaraan Bp. Dwidjo Djarianto (dari Katolik) kepada Bp. Eric Sugianto (dari GKI Diponegoro); yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris Majelis GKI Diponegoro, melalui Akta Hibah  No. 31/TM/1981 Tgl 16 Maret 1981 yang tercatat di sertifikat tanah (karena akta hibah tidak ada tanggal dan nomornya).

 

CABANG “SEPANJANG”

Setelah itu pos PI “Sepanjang” ditingkatkan statusnya menjadi GKI Diponegoro cabang “Sepanjang”, dengan dibentuk panitia yang terdiri dari anggota Majelis GKI Diponegoro yang berdomisili di “Sepanjang” dan jemaat yang lain untuk bersama-sama menyelenggarakan ibadah dan kegiatan lainnya. Anggota Majelis  GKI Diponegoro yang berada di “Sepanjang” pada waktu itu adalah: Tua-tua Soeharno, Tua-tua Wasito Hadi, dan Dkn Ny. Santoso. Perkembangan jemaat makin bertumbuh,  kemudian perlu adanya tambahan Tua-tua, yaitu: Tua-tua N.Atmadji Patriawan, Tua-tua Hari Purnawan, dan seterusnya.

 

PENDEWASAAN GEREJA

Dalam kurun waktu 9 tahun, setelah melalui persiapan yang memadai untuk menyiapkan pemimpin gereja agar dapat mengatur, memimpin dan membiayai dirinya sendiri maka diambil keputusan oleh Majelis GKI Diponegoro untuk mendewasakan cabang “Sepanjang” menjadi GKI “Sepanjang”.Kebaktian pende wasaan gereja dilaksanakan pada 8 Maret 1990 yang dilayani oleh Pdt. Benyamin Gunawan. Dalam  kebaktian pendewasaan tersebut juga diteguhkan 9 orang penatua pertama.

 

TENAGA PELAYAN GEREJA

Pada tahun 1987 TTK Triatmoko Adipramono S.Th. dari GKI Diponegoro ditugaskan ke GKI GKI Diponegoro cabang “Sepanjang”, yang diteguhkan pada tanggal 1 November 1987. Pada 17 Oktober 1990, TTK Triatmoko Adipramono S.Th. ditahbiskan menjadi Pendeta di GKI “Sepanjang”.  Pelayanan Pdt Triatmoko Adipramono di GKI “Sepanjang” hanya sampai 15 Juli 2001 karena memenuhi panggilan sebagai Sekretaris Umum BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Timur.

Setelah tanpa pendeta tetap selama  tiga (3) tahun, dengan pendampingan Pdt. B.J. Siswanto selaku konsulen, akhirnya pada 26 Juli 2004 telah dilakukan peneguhan Pdt. Iswari Setyanti dari GKI Tuban

 

 

 

 


CATATAN SINGKAT SEJARAH NAMA "SEPANJANG"

"Sepanjang" bukanlah nama dusun/desa/kelurahan/kecamatan/nama jalan yang ada di wilayah kecamatan Taman-Sidoarjo, "Sepanjang" tidak lepas dari sejarah Keraton Kartasura. "Sepanjang" ternyata nama Seorang Panglima perang Tangguh, seorang Pejuang Tionghoa yang berjuang melawan VOC ketika Huru hara Orang China tahun 1740 yang terjadi di Batavia. Singkat cerita, dalam Kejaran Belanda, Sang Panglima mundur hingga sampai Kartosuro dan bergabung dengan Pasukan Mataram

 

Nama aslinya Souw Phan Ciang .. yang menurut lidah Orang Jawa adalah Sepanjang.

Beliau bergabung dengan Pasukan Raden Mas Garendi / Sunan Amangkurat V , mengangkat Senjata Melawan VOC .

Raden Mas Garendi / Sunan Amangkurat V , adalah Seorang Pangeran dan salah seorang Cucu dari Sunan

Amangkurat III yang sempat bertahta di singgahsana Mataram di Kartosuro .

Tahun 1743 , adalah batas Akhir pelarian Gabungan Pasukan Raden Mas Garendi dengan Pasukan Kapiten Sepanjang, yang bergerak Mundur ke Sebuah Daerah, yang sekarang abadi bernama Sepanjang .

Dengan berbagai pertimbangan untuk menyudahi Konflik, Akhirnya Pasukan Raden Mas Garendi terbujuk untuk berunding dengan VOC di Surabaya , Oleh VOC kemudian di tangkap dan asingkan ke Ceylon / Sri langka .

Adapun Kapiten Sepanjang yang berhasil Meloloskan diri, meneruskan Perjalanan sampai ke Pulau Bali .

Sementara Konflik Keluarga Pewaris Tahta Mataram yang amat sangat Rumit dan membingungkan, yang terkait dengan Peristiwa ini , telah berakhir tahun 1757 dengan terbelahnya Keraton Mataram menjadi 3 Kerajaan Kecil .

Surakarta Hadiningrat , Kasultanan Jogjakarta dan Puro Mangkunegaran .

Kampung Megare , Tetangga sebelah Barat Kota Sepanjang , adalah Topomim dari nama Mas Garendi / Sunan Amangkurat V . 

Sumber Informasi dikutip dari  Arsip Keraton
Oleh Bp Daradjadi Gondodiprojo (Sentono Dalem Keraton Mangku Negaran).

GKI TUBAN



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Yos Sudarso 4
Tuban 62351
Telp. (0356) 322878
Fax. (0356) 328446
Email : gki_tuban@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.16.30

Kebaktian Anak pk.08.00
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.08.00


PENDETA

Pdt. Kristianto Basuki
Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo,
gg. Mina 135 Tuban
Email: kristiantobasuki@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Pada tahun 1984 dalam usianya yang ke 18 GKI Jatim Bojonegoro mencanangkan visi pengembangan jemaat ke kota terdekat yaitu Tuban. Setelah setahun dilakukan survey dan didoakan pada tahun 1984 – 1985, maka didapatkanlah data tentang beberapa keluarga asal GKI Surabaya dan Malang yang berdomisili di Tuban.

Berdasarkan data tersebut, Majelis Jemaat GKI Jatim Bojonegoro memutuskan untuk memulai persekutuan keluarga dari rumah ke rumah, sebulan sekali secara bergilir setiap minggu pertama dalam setiap bulannya pukul 16.30 Wib.

Persekutuan tersebut dimulai untuk pertama kalinya pada tanggal 5 mei 1985 di rumah keluarga Makturi Siswoharsono, anggota Majelis Jemaat GKI Jatim Bojonegoro yang berdomisili di Tuban, dihadiri 35 orang. Kemudian secara bergilir dari keluarga Makturi S, kel Ny Budi S Teguh dan kel Abraham Niti Santoso. Setelah berjalan +/- 4 bulan, persekutuan keluarga yang dihadiri rata-rata 35 - 40 orang ini dievaluasi, untuk ditingkatkan. Untuk meningkatkan persekutuan ini, Majelis Jemaat memandang perlu adanya tempat permanen yang kelak dapat menjadi tempat ibadah tetap setiap minggu.

Di tengah pergumulan mencari tempat tetap ini, maka kel Sukoco dan kel Ny Budi S Teguh menawarkan meminjamkan tempat di Jl Kawatan IX sedapatnya dipakai tempat pembinaan dan peribadatan sementara dengan catatan Gereja mengubahnya sendiri. Tempat tersebut dapat dipakai sampai dengan GKI Jatim Tuban memiliki sendiri tempat ibadah yang layak. Rumah tersebut dipugar selama 3 bulan dan karena telah ada tempat untuk berkumpul, maka pada tanggal 5 Januari 1986 dimulailah kebaktian minggu secara rutin tiap minggu sore pukul 16.30 Wib. Kebaktian yang pertama itu sekaligus merupakan perayaan Natal 1985 dan kebaktian tahun baru 1986.

Peneguhan panitia Cabang Tuban dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 1986 dalam kebaktian umum pukul 16.30 Wib. Sejak dimulainya pelayanan rutin, jemaat semakin bertambah dan pada akhir tahun 1993 menjadi 135 orang, terdiri dari 97 anggota Sidi dan 38 anggota Baptisan. Berkembangnya jemaat ini mengundang pemikiran sedapatnya memiliki tempat ibadah yang memadai untuk kepentingan peribadatan. Di tengah pergumulan doa untuk tempat ibadah ini Tuhan menyatakan berkatNYA dan menjawab seruan jemaatNYA. Tanah yang semula menjadi tempat peribadatan sementara di Jl Kawatan IX, oleh pemiliknya dipersembahkan kepada GKI Tuban.

Pada tahun 1992 semua urusan mengenai akta Hibah, Ijin Prinsip dan Ijin Mendirikan Bangunan telah diperoleh dari semua instansi terkait. Maka dalam rangkaian HUT ke 26 GKI Jatim Bojonegoro yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 1992, pada tanggal 2 Agustus 1992 dalam kesempatan kebaktian hari minggu dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung GKI Cabang Tuban. Untuk melaksanakan pembangun gedung GKI Cabang Tuban, Majelis Jemaat GKI Bojonegoro mengangkat panitia pelaksana terdiri dari anggota-anggota GKI Jatim Bojonegoro, GKI Cabang Tuban dan beberapa anggota GKI Jatim Surabaya yang berpengalaman dalam membangun gedung gereja dan terbeban untuk melaksanakan pembangunan GKI Tuban. Pembangunan Gedung GKI Tuban dimulai tanggal 5 Januari 1993 bertepatan dengan HUT ke 7 GKI Cabang Tuban dan diselesaikandalam jangka waktu satu tahun.Tepatnya di HUT GKI Cabang Tuban yang ke 8, pada tanggal 05 Januari 1994, Gedung GKI Cabang Tubandiresmikan pemakaiannya dalam kebaktian syukur oleh Bupati KDH TK.II Tuban, Bapak Drs. Sjoekoer Soetomo.

Pada hari kamis, 05 Januari 1995 pukul 16.30 pada HUT GKI Cabang Tuban yang ke 9, oleh kasih kemurahan Tuhan, GKI Jatim Bojonegoro Cabang Tuban di dewasakan menjadi GKI Jatim Tuban.

Seiring dengan pertumbuhan jemaat, maka perlu untuk dipikirkan tenaga pelayan secara tetap bagi GKI Jatim Tuban. Majelis Jemaat GKI berusaha melakakukan pendekatan kepada beberapa orang, sehingga pada akhirnya berkenalan dengan Sdri Iswari Setyanti, S.Th lulusan fakultas theologi Universitas Kristen Duta Wacana Jogjakarta. Dan selama proses pendampingan terhadap Sdri. Iswari Setyanti, Majelis Jemaat GKI Cabang Tuban didampingi oleh pendeta konsulen, secara bergantian, dalam diri Pdt A Hendra Buana (alm) – GKI Darmo Satelit Surabaya dan Pdt Stefanus Semianta, STh dari GKI Bojonegoro.Sdri. Iswari Seyanti, S.Th diteguhkan menjadi penatua khusus dalam kebaktian yang dilayani oleh Pdt A Hendra Buana (alm) dan tgl 4 Mei 1998 ditahbiskan menjadi pendeta GKI Tuban yang dilayani oleh Pdt Triatmoko A P.

Ketika Pdt. Iswari Setyanti, S.Th menerima panggilan pelayanan dan kemudian menjalani mutasi pelayanan ke GKI Sepanjang hingga pada akhirnya diteguhkannya sebagai pendeta GKI Sepanjang tgl 26 Juli 2004, maka terjadi kekosongan pelayanan hamba Tuhan di GKI Tuban. Majelis Jemaat GKI Tuban meminta kepada BPMK GKI Klasis Bojonegoro untuk mencari pendeta konsulen dan diberikan Pdt Stefanus Semianta dari GKI Bojonegoro. Penantian itu tidak berlangsung lama, Tuhan memperkenalkan dengan Sdr Kristianto Basuki S.Si hingga pada tanggal 31 Juli 2006 ditahbiskan menjadi pendeta GKI Tuban sampai saat ini.

Pelayanan semakin berkembang dan kebutuhan akan ruang juga semakin besar, maka dimulailah pembangunan gedung 2 lantai disebelah gedung gereja. Pembangunan ini dilaksanakan mulai tgl 11 Maret 2007 seusai dilaksanakannya Persidangan Majelis Jemaat Diperluas dan selesai dibangun serta diresmikan penggunaannya dalam kebaktian penutupan bulan keluarga GKI Tuban pada tgl 25 Oktober 2008 yang sekaligus peresmian gedung serbaguna di lantai satu dan ruang sekolah minggu di lantai dua, oleh Pdt Kristianto Basuki.

 

Demikianlah perkembangan GKI Tuban. Kiranya Tuhan segala gereja senantiasa dipermuliakan.

 

GKI JOMBANG



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Prof. DR. Buya Hamka 4
Jombang 61415
Telp. (0321) 867541;
Fax. (0321) 864269
Email: gkijombang@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Anak pk.08.30
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.09.00


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Kristianto Basuki
Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo
gg. Mina 135 Tuban
Email: kristiantobasuki@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

ASAL MULA JEMAAT

Dari sejarah singkat GKI Mojokerto, diperoleh data bahwa THKTKH Jombang adalah pos PI dari TKHTKH Mojokerto.

Kebaktian pertama dilaksanakan pada tahun 1943 (jaman pemerintahan jepang), di rumah Ny. Jd. Tjioe Gie Tik, Jl. KH. Wakhid Hasyim 17, dengan nama : “Roemah Koempulan Sembahyang Kristen.”

Dilayani secara bergantian oleh pendeta-pendeta GKJW sbb:

  1. Pdt. Joedokoesoemo   (alm)
  2. Pdt. Iskandar
  3. Pdt. Soesilo Djojosudarmo

PEMBUKAAN GEDUNG GEREJA

Gedung gereja pertama terletak di Jl. Klenteng (Jl. Veteran 39) sekarang Jl. RE. Martadianta

Gereja ini diberi nama Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH). Pembukaan gereja dihadiri utusan Majelis Jemaat THKTKH Johar 4 Surabaya, sebagai peninjau. Adapun nama-nama peninjau adalah sbb:

  1. Pdt. Tio Kiong Djien (alm)
  2. Sdr. Kwee Tjin Kan   (alm)
  3. Sdr. Tan Tong Gwan (alm)
  4. Sdr. Liem Koen Heng (alm)
  5. Sdr. Liem Tik Lok     (alm)

Kebaktian hari Minggu dilayani oleh :
1.     Pdt. Koo Twan Djing (alm)
2.     Pdt. Ie Djien Sien (alm)
3.     Pdt. Hwan Ting Kiong (alm)
4.     Pdt. Soeto Adi Samino (alm)
5.     Sdr. Tan Giok Lam (alm)

 

PERUBAHAN NAMA

Demi kesaksian hidup Gereja pada dunia sekitar, maka nama “Thiong Hoa Kee Tok Kwee” (THKTKH) dalam persidangan Sinode THKTKH VII di Bondowoso, Akta pasal 21, poin 1, diubah menjadi “Gereja Kristen Indonesia” (GKI) Jatim. Dengan demikian nama THKTKH Jatim Jombang berubah menjadi GKI Jatim Jombang. Selanjutnya GKI Jatim Jombang ditunjuk sebagai tuan rumah/penyelenggara persidangan sinode VIII, pada tahun 1960.

 

PENDEWASAAN JEMAAT

Setelah jemaat mulai berkembang dan memenuhi syarat untuk didewasakan, maka dilakukan pendewasaan Jemaat pada tahun 1957. Pada tahun ini pula dilakukan peneguhan Pdt. Lie Tie Jong sebagai pendeta GKI Jombang

 

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA

Memperhatikan perkembangan jemaat, maka dilakukan pembangunan gedung gereja baru, terletak di Jl. Kol. Slamet Riadi 2. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tgl 18 Mei 1967.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pdt. Kwee Tik Hok (Yahya Kumala), yang waktu itu menjabat sebagai Pendeta konsulen GKI Jombang. Gedung gereja baru, mulai dipakai untuk kebaktian pada tahun 1972

PENEGUHAN & PENAHBISAN PENDETA

  1. Pdt. Lie Tie Jong(alm) Diteguhkanth. 1957. Masa pelayanan 1957 – 1961        
  2. Pdt. Tan Tjoen Sing (alm) Diteguhkan th. 1962 Masa pelayanan   1962 - 1969 
  3. Pdt. Tan Tjoen Sing (alm) Diteguhkan   th. 1962 Masa pelayanan   1962 - 1969
  4. Pdt. Hendra Buana S.Th  (alm) Ditahbiskan 20 Sep 1973, masa pelayanan 1973-1976 (alm)
  5. Pdt. Yusak Santosa S.Th. Ditahbiskan th. 1981. Masa Pelayanan 1981-1993
  6. Pdt. Didik Tridjatmiko Ditahbisan 20 Mei 1996, Masa pelayanan 1996-2004     
  7. Pdt. Sutrisno, S.Th. Ditahbiskan 10 Sep 2007 Masa Pelayanan hingga tahun 2014, karena menjabat sebagai sekretaris umum BPMSW GKI SW Jatim hingga sekarang (2016)

 

TOKOH SEBAGAI SUMBER INFORMASI :

  • Bp. Tjio Tjay Ik ( Jl. Indragiri 27 Surabaya)
  • Pdt. Soetoadi ( PPAG Malang) (Alm)


 

GKI KEDIRI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Yos Sudarso 31
Kediri 64123
Telp/Fax. (0354) 682658
Email: gki_kediri@yahoo.co.id

Bakal Jemaat:
Jalan Raya Kediri/Warujayeng
Desa Ngablak, Dusun Tanjung

 


JAM KEBAKTIAN

Jalan Yos Sudarso
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.08.30

Bajem Tanjung
Kebaktian Umum I pk.08.00


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Budi Boenarto
Jalan Veteran 201
Gurah - Kediri 64181
Email: bebe59gurah@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Adalah seorang Protestan Calvinis yang bernama Ie Gie Tjhwang –akrab disapa “Meneer Ie”, seorang pengajar Kristen yang sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan Christelijke Algemene Lagere School (Chr. A.L.S.), yaitu sebuah lembaga pendidikan Kristen di Kediri, milik Belanda yang sempat beralih kepemilikan kepada Jepang.

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, maka Meneer Ie semakin terdorong untuk mengelola lembaga pendidikan yang dulu sempat diasuhnya. Maka pada tahun 1949, Beliau meminjam tempat di Gereja Utusan Pantekosta di jalan raya Kediri (sekarang jalan Brawijaya) demi mengembangkan lembaga Chr. A.L.S. ini. Dan alhasil, lembaga ini mengalami peningkatan yang signifikan. Dan oleh karena para murid terdiri atas mayoritas keturunan Tionghoa, maka digantilah nama Christelijke Algemene Lagere School menjadi Badan Pendidikan Kristen Tionghoa (B.P.K.T.). Tetapi, Meneer Ie dan seluruh pengurus sekolah tersebut, kembali memikirkan ke depan tentang sekolah ini. Berdasarkan kata “Algemene” (dalam nama lama) yang berarti umum, maka Badan Pendidikan Kristen Tionghoa (B.P.K.T.) berganti nama menjadi Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen PETRA (P.P.P.K. PETRA).

Seiring dengan kecintaan kepada kerohanian anak didiknya, maka Meneer Ie juga melibatkan rohaniawan untuk melakukan pendidikan keimanan. Sampai akhirnya, timbullah kerinduan Beliau akan berdirinya Moeder Kerk (gereja) beraliran Protestan Calvinis, khususnya dalam membantu pendidikan kerohanian para murid PETRA. Oleh sebab itu, suatu saat atas persetujuan pengurus, maka Meneer Ie dan Bapak Djie TingHian, pergi ke Malang dan menghadap konvokator Badan Pekabaran Injil Tiong Hwa Kie Tok Kau Hwee (THKTKH) Jawa Timur, yaitu Pdt. Hwan Ting Kiong (Pdt. M.I. Gamaliel), untuk berkonsultasi tentang dimungkinkannya pendirian THKTKH Malang cabang Kediri. Kerinduan ini disambut baik, sehingga tanggal 4 September 1955 di rumah Meneer Ie di jalan Kelenteng (sekarang jalan Yos Sudarso) nomor 65 Kediri, Pdt. Hwan Ting Kiong dan pengurus PETRA Kediri mengadakan perundingan sebagai persiapan pendirian THKTKH Malang cabang Kediri, dan saat itu pula terbentuk Panitia Persiapan Gereja Cabang. Pergerakan panitia ini sangat cepat, sehingga pada tanggal 9 Oktober 1955 pada pukul 11.00 WIB, dengan meminjam gedung GKDW (sekarang GKJW) di jalan Balowerti (sekarang jalan Diponegoro), dimulailah ibadah perdana THKTKH Malang cabang Kediri. Dan berdasarkan keputusan Majelis Jemaat no. 365/MJ/GKI-KDR/XII/2004, maka tanggal 9 Oktober DITETAPKAN sebagai hari jadi GKI Kediri.

 

Pada tanggal 1 Juni 1956, THKTKH Malang mengirim dan menempatkan Pdt. Kwee Tiong Bien, sebagai pendeta tugas di THKTKH Malang cabang Kediri. Oleh sebab itu, bisa segera dilaksanakan katekisasi, dan baptisan serta sidi pertama dilakukan di gedung GKDW pada tanggal 20 Desember 1956. Dengan jumlah : 14 Pria dan 22 wanita. Oleh karena pertimbangan kenyamanan kebaktian, karena pukul 11.00 WIB dirasa kurang nyaman oleh sebab panas udara, maka atas kebaikan hati Tua-tua (sekarang Penatua) Hwan Gwan Ing, seorang pengusaha sabun Tanco, meminjamkan rumahnya, tepatnya bagian depan di jalan Karesidenan nomor 13 (sekarang jalan Trunojoyo) untuk melaksanakan kebaktian pada pukul 08.00 WIB. Semakin hari, perkembangan gereja ini semakin mantap, dengan jumlah pengunjung kebaktian rata-rata 40 jiwa dengan total anggota sidi 36 jiwa. Jumlah ini sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Sinode untuk menjadi gereja dewasa. Pada tanggal 28 Januari 1957, THKTKH Malang cabang Kediri mengajukan permohonan pendewasaan kepada THKTKH Malang. Pada tanggal 31 Maret 1957, diadakan visitasi oleh Badan Visitasi Sinode THKTKH, dengan Pdt. Lie Tie Yong dan Pdt. Oei Liang Bie sebagai visitator. Dan hasilnya? THKTKH Malang cabang Kediri dinyatakan bisa didewasakan. Pada tanggal 10 Juni 1957, diadakan kebaktian pendewasaan yang dipimpin oleh Pdt. Hwan Ting Kiong, dan dilakukan peneguhan Majelis Jemaat yang pertama.

Dengan demikian, THKTKH Malang cabang Kediri resmi menjadi THKTKH Kediri. Dan pada tanggal 11 Februari 1958, Pdt. Kwee Tiong Bien yang semula ditugaskan sebagai pendeta utusan untuk THKTKH Malang cabang Kediri diteguhkan sebagai pendeta THKTKH Kediri. Dan, seiring dengan berubahnya THKTKH menjadi Gereja Kristen Indonesia, maka pada bulan Oktober 1958, THKTKH Kediri juga berubah nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Jatim Kediri. Pada tanggal 05 Februari 1961, tempat ibadah GKI Kediri berpindah, dari rumah Bapak Hwan Gwan Ing di jalan Karesidenan, pindah ke rumah Bapak Djie Ting Hian di jalan Kelenteng nomor 29 (sekarang jalan Yos Sudarso), sampai sekarang.

Pada tanggal 15 April 1964, Pdt. Kwee Tiong Bien pindah pelayanan ke GKI Jatim Surabaya. Dan, Sinode GKI Jatim mengutus Pdt. Oei Liang Bie menjadi pendeta konsulen untuk GKI Jatim Kediri. Dan untuk menunjang pelayanan di GKI Jatim Kediri, maka atas persetujuan pendeta konsulen pada tanggal 23 Juni 1963, Majelis Jemaat GKI Jatim Kediri memanggil Bapak Ibrahim Somowidjoyo dari GKJW Kediri untuk membantu melakukan tugas pelayanan di GKI Jatim Kediri, kecuali pelayanan sakramen. Pada tanggal 5 Agustus 1965, GKI Jatim Kediri resmi membuka cabang di Tulungagung dan didewasakan pada tanggal 8 Agustus 1970.

 

Pada tanggal 16 Mei 1966, Panitia Pembangunan Rumah Gereja yang semula hanya beranggotakan unsur Majelis Jemaat, ditambahkan tiga anggota yaitu Bapak Djie Ting Hian, Bapak Lie Hok Sing dan Bapak Tjioe Hong Hok, dan pada tanggal 6 Juli 1966 dibentuk yayasan GKI Kediri yang bersamaan dengan itu, dilakukan hibah rumah oleh Bapak Djie Ting Hian ke yayasan GKI Kediri. Dan akhirnya, dimulailah pembangunan gedung gereja yang peletakan batu pertamanya dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 1966, dilayani oleh Pdt. Kwee Tiong Bien. Pada tanggal 20 Desember 1966, pembangunan gedung gereja telah selesai, dan kebaktian peresmian dilayani oleh Pdt. Oei Liang Bie.

Dalam perjalanannya, GKI Jatim Kediri mendapatkan kasih karunia Tuhan, dengan diberikan kesempatan untuk membuka Pos PI di Gurah, yang akhirnya diresmikan sebagai Pos PI pada tanggal 14 Februari 1967 dan didewasakan pada tanggal 16 November 1992. Sebelumnya, Pos PI Gurah, berbentuk persekutuan PI, dan dalam kegiatannya, dilayani tim PI yaitu Bapak Ibrahim Somowijoyo, Bapak Ishak S. Dharmaputra, Ibu Elly Suwarni, dan ditambah pula Bapak Ibrahim Kartadiharja dan Sdri Lilian Susilo. (baca: GKI Gurah)

 

Kekosongan tenaga pendeta, dirasakan oleh GKI Jatim Kediri selama lima setengah tahun. Sampai akhirnya, Tuhan mengirimkan Pdt. Silas Dwidjo Maladyo (pendeta GKI Jateng Wonogiri) melayani di GKI Jatim Kediri. Beliau diteguhkan pada tanggal 28 Oktober 1969, dan bersamaan dengan itu, dilakukan pula penahbisan dalam diri Soetjipto, sebagai pendeta GKI Jatim Kediri yang ditugaskan untuk cabang Tulungagung.

 

Pada tanggal 8 Maret 1974, para ahli waris keluarga Bapak Djie Ting Hian, kembali menghibahkan rumah, kali ini bagian belakang rumah, yang sebelumnya memang tidak termasuk area hibah. Ketika GKI Jatim Kediri sedang dalam perkembangannya, hal seperti ini justru tidak terjadi di GKI Jateng Temanggung. Disana, jemaat mengalami kelesuan, oleh sebab itu, Pdt. Silas Dwidjo Maladyo merasa terpanggil untuk melayani disana. Dan akhirnya, pada bulan Januari 1976, Pdt. Silas berpindah pelayanan ke GKI Jateng Temanggung. Dan kembali, GKI Jatim Kediri mengalami kekosongan tenaga pendeta. Sampai lama terjadi kekosongan sedangkan kebutuhan tenaga pendeta sangat mendesak, maka pada bulan Juli 1977, Majelis Jemaat GKI Jatim Kediri memutuskan untuk memanggil Pdt. Andries Leunissen dari Gereja Isa Almasih Semarang, untuk menjadi pendeta jemaat. Pemanggilan ini rupanya berujung pro dan kontra, sampai terjadi perpecahan baik antar anggota Majelis Jemaat maupun Jemaat, dan akhirnya berdampak pada tidak harmonisnya hubungan GKI Jatim Kediri dengan Sinode GKI Jatim. Oleh karena inilah, GKI Jatim Kediri pernah memisahkan diri dari Sinode GKI Jatim, menjadi gereja terpisah dan tersendiri dengan nama GKI Kediri, tanpa embel-embel Jatim.

Pada tanggal 5 Mei 1980, Pdt. Andries Leunissen memutuskan untuk mengundurkan diri dari GKI Kediri karena pergumulannya dan keadaan jemaat yang semakin terpecah, dan pada tanggal 11 Mei 1980 Beliau meninggalkan Kediri. Dan setelah dilakukan pendekatan kembali oleh Sinode GKI Jatim, maka GKI Kediri kembali bergabung dan bernaung dibawah GKI Jatim, namanyapun kembali menjadi GKI Jatim Kediri. Namun, kembali GKI Jatim Kediri mengalami kekosongan pendeta. Sampai akhirnya –karena dorongan Pdt. BA. Abednego selaku pendeta konsulen. Majelis Jemaat GKI Kediri memanggil Pdt. Festus Iwan Gunawan dari Gereja Kristen Imanuel Bandung, dan diteguhkan menjadi pendeta GKI Jatim Kediri pada tanggal 10 Januari 1985, dan diikuti dengan pembangunan pastori di jalan Kawi nomor 6 dan peresmiannya dilakukan pada tanggal 29 Juli 1986. Tetapi pelayanan Pdt. Festus tidak lama, pada tanggal 28 Mei 1989, Pdt. Festus mengakhiri masa pelayanan di GKI Jatim Kediri. Akhirnya, kekosongan pelayanan pendeta, kembali dirasakan jemaat GKI Jatim Kediri.

Tetapi kembali pula, kekosongan itu tidak bertahan lama. Tuhan mengirim Suryadi, sebagai pengerja di GKI Jatim Kediri. Lulusan STT Duta Wacana Yogyakarta ini ditahbiskan menjadi Pendeta pada tanggal 25 November 1991.Bersama dengan Majelis Jemaat, Pdt. Suryadi mengoptimalkan program pelayanan perkunjungan jemaat, dan hasilnya, kehadiran jemaat mengalami kenaikan yang luar biasa.

Dengan bertambahnya jumlah jemaat, maka bertambah pula kebutuhan pelayanan jemaat. Oleh sebab itu, selain Pdt. Suryadi, maka diangkatlah Penatua Christiantie Suroso menjadi Penatua Tugas Khusus selama dua periode, dengan konsentrasi pendampingan untuk Komisi Anak, Komisi Pemuda Remaja, Komisi Wanita dan Komisi Kesaksian dan Pelayanan.

Pada tahun 1997, GKI jatim Kediri menerima tambahan tanggungjawab penggembalaan jemaat, yaitu adanya permohonan penyatuan organisasi dari persekutuan jemaat Tanjung kecamatan Grogol (sekarang GKI Kediri Bakal Jemaat Tanjung) dan persekutuan jemaat Blimbing kecamatan Mojo (sekarang bergabung dengan Gereja Baptis Indonesia).

 

Pada tanggal 17 Agustus 1997, pendeta Suryadi menyatakan menerima panggilan GKI Bekasi Timur untuk menjadi pendeta disana. Dan mulai bulan Februari 1998, GKI Kediri kembali mengalami kekosongan tenaga pendeta. Dan sebagai pelaksana tugas operasional pendeta, Penatua Tugas Khusus Christiantie Suroso kembali diangkat untuk menjadi Penatua Tugas Khusus penuh waktu. Dan dalam masa-masa kekosongan itu, Majelis Jemaat GKI Kediri membentuk tim pemanggilan pendeta, sampai akhirnya ditetapkan dua calon untuk diprospek menjadi pendeta GKI Kediri yaitu Sdr. Natanael Sigit Wirastanto (lulusan fakultas Theologia Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta) dan Bapak Andreas Catur Wismantono (mahasiswa semester akhir Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang). Setelah memasuki tahapan-tahapan yang ditetapkan dalam Tata Gereja, maka Pnt. Natanael Sigit Wirastanto ditahbiskan menjadi pendeta GKI Kediri pada tanggal 24 Mei 2004, dilayani oleh Pdt. Sutrisno selaku pendeta konsulen. Dan Pnt. Andreas Catur Wismantono ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 11 Juli 2005, dilayani oleh Pdt. Natanael Sigit Wirastanto.

 

Pada saat penahbisan ini, bersamaan pula dengan peresmian gedung gereja GKI Kediri, yang ditandai oleh penandatanganan prasasti oleh Pdt. Simon Filantropha selaku Ketua Umum GKI Sinode Wilayah Jawa Timur saat itu.

 


 

GKI GURAH



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Veteran 201
Gurah - Kediri 64181
Telp/Fax. (0354) 545353


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.08.00


PENDETA

Pdt. Budi Boenarto
Jalan Veteran 201
Gurah - Kediri 64181
Email: bebe59gurah@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Gurah adalah sebuah kota kecamatan yang terletak sekitar 12 km dari Kota Kediri.

Sebelum pos PI di Gurah berdiri, disekitarnya telah ada gereja-gereja lain seperti GUP Dadapan, GPdI Gurah, Pepanthan GKJW Gurah dan sekelompok orang – orang percaya di desa Wonojoyo.

Pos PI Gurah dirintis melalui sebuah peristiwa yang unik, ketika seorang bapak yang berusia senja bernama Sie Ping Tjioe meminta tukang kayu membuat kursi makan. Setelah dibuat sebanyak dua puluh delapan buah, maka menyesallah beliau, “untuk apa aku membuat kursi makan sebanyak ini?” Tapi Tuhan berencana lain. Tuhan memakai kursi-kursi itu untuk pekerjaanNya.

Maka melalui saran seorang sahabatnya, seorang anggota GKI Kediri, Bapak Sie Ping Tjioe agar memakai kursi-kursi itu sebagai sarana perkumpulan Kristen di rumahnya Bapak Sie Ping Tjioe setuju dengan saran sahabatnya itu, dan berjanji akan mengumpulkan sahabat-sahabat dan kenalannya.

Perjalanan kehidupan jemaat Gurah terus berlanjut dan pada tanggal 14 Pebruari 1967 berdirilah Pos PI GKI Jatim Kediri di Gurah, di jalan Dr.Wahidin 121 Gurah, yakni di rumah Bapak Sie Ping Tjioe.

Dengan semakin banyaknya jumlah orang yang berbakti, tempat itu dirasa sempit dan adanya segolongan orang-orang tertentu yang tidak senang dengan adanya gereja di tempat itu mulai menimbulkan gangguan- gangguan, maka atas saran Bapak Sie Ping Tjioe dipindahkan di rumah kontrakan yang sederhana di jalan Gurah Utara dan pada tangggal 23 Desember 1967 diresmikan penggunaannya.

Dengan berjalannya waktu, jemaat Gurah kembali menghadapi masalah sebab rumah gereja yang dikontrak diminta pemiliknya untuk dijual. Namun Tuhan tidak tinggal diam. Saudara-saudara seiman GKJW Gurah, menawarkan tempat beribadah di gedung mereka sejak tahun 1975 hingga Tuhan mengaruniakan sebuah gedung gereja yang baru yang pada tanggal 1 Oktober 1978. Berdirinya gedung gereja ini tidak bisa dipisahkan dari persembahan oleh seorang anggota dari Pos PI Gurah yang dibeli dengan sisa uang terakhir yang dimilikinya karena ditipu relasi dagangnya.

Majelis GKI Kediri dalam rapatnya tanggal 16 Maret 1979 memutuskan Pos PI Gurah menjadi GKI Jatim Kediri cabang Gurah dan tanggal 14 Juni 1987 Majelis GKI Jatim Kediri, meminta Bp.John Eka Suryantara dari GKI Jatim Dipo Surabaya bertugas di cabang Gurah sebagai tenaga Pembina “parttime” dengan masa pelayanan 1 tahun.

Dengan berkembangnya GKI Jatim Kediri cabang Gurah, maka pada tanggal 6 Maret 1988 diadakan upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung gereja yang representative yang terletak di belakang gedung gereja yang lama (sekarang menjadi pastori dengan beberapa perbaikan).

Pembangunan gedung terus berlangsung dan jemaat Gurah dipersiapkan untuk dewasa. Setiap Minggu selama 3 bulan dibawah bimbingan Pdt.Suryadi anggota panitia dan beberapa jemaat dikader dalam hal organisasi dan cara memberikan renungan.

Dan pada hari Senin, 16 Nopember 1992 GKI Jatim Kediri cabang Gurah didewasa kan menjadi GKI Jatim Gurah. Dan selanjutnya dibawah konsulensi Pdt. Andi Sudjono diupa yakan agar GKI Jatim Gurah segera mendapatkan seorang pendeta. Pada tanggal 14 Nopember 1994 pnt. Budi Boenarto ditahbiskan menjadi pendeta di GKI Gurah.

 


GKI KRIAN



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Gubernur Sunandar
Priyosudarmo No. 21
Krian - Sidoarjo
Telp/Fax. (031) 8971655
Email : gkikrian@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.17.00


PENDETA

Pdt. Natanael Sigit Wirastanto
Jalan Ngagel Tama Utara III/9,
Surabaya
Email: sigit_ukdw@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Diawali sebagai Jemaat asuh.

Riwayat singkat GKI Jatim Surabaya, mengungkapkan bahwa pengasuhan cabang Krian yang diserahkan oleh GKI Mojokerto ke GKI Jatim Surabaya, pengasuhannya dipercayakan kepada GKI Jatim Jl.Ngagel Jaya Utara 81 Surabaya (GKI Ngagel). Pengasuhan ini telah berlangsung selama kurun waktu 15 Juli 1963 hingga 3 April 1974, atau hampir 11 tahun lamanya. Cabang Krian dikelola oleh panitia yang disebut “Panitia Cabang Krian”, dimana keanggotaan panitia ini terdiri dari anggota Majelis Gereja/ MG GKI Jatim Ngagel baik yang berdomisili di Surabaya maupun di Krian.

Tempat ibadah Jemaat Krian saat itu sementara, berlokasi di Jln. Magersari 567 Krian, dengan status kontrak per 4 tahunan. Sedangkan ibadah umum setiap Minggu pukul 09.00 yang rata-rata dihadiri 25 umat. Selain kebaktian umum, Sekolah minggu juga diadakan pukul 09.00, yang dihadiri oleh rata-rata 10 anak dan dilayani oleh 2 orang guru/pelayan jemaat anak.

Dalam rangka pengasuhan yang dipercayakan pada GKI Jatim Ngagel, maka Majelis Gereja GKI Jatim Ngagel telah menyusun langkah-langkah strategis antara lain,

1. Mengangkat 2 anggota sidi yang berdomisili di kawasan Krian untuk diteguhkan menjadi Majelis gereja (MJ) maka, pada awal 1975,telah diteguhkan M Sapulete dan Ny Zakaria B. masing-masing menjadi Tua-tua dan diaken.

2. Merekrut calon pendeta a/n Sutedjo, Sm.Th. , sarjana muda dari UKSW Salatiga, yang nantinya diproyeksikan menjadi pendeta bagi jemaat Krian setelah dilembagakan sebagai gereja setempat.

Pada 13 April 1975, Sutedjo Sm.Th., diteguhkan menjadi tua-tua tugas khusus GKI Jatim Cabang Krian, selanjutnya pada 9 Mei 1977 ditabiskan sebgai pendeta.

Pada April 1979 Majelis Jemaat GKI Ngagel memutuskan untuk menarik Pdt. Sutedjo dari cabang Krian, dan menetapkan untuk pelayanan penuh waktu di GKI Ngagel. Keputusan ini diambil sehubungan dengan pengunduran diri Pdt. Pranata Gunawan sebagai pendeta GKI Ngagel.

Pada tahun 1982, sebagai hasil kerja sama 5 GKI Surabaya, dibangunlah gedung gereja dan gedung serbaguna yang berlokasi di jalan Legundi Krian, dengan status Hak milik.

 


GKI CITRALAND



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Ruko Sentra Taman Gapura
G10-14 Citra Raya
Telp. (031) 70181162
Email: gkicitraland@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.09.30
Kebaktian Umum II pk.17.30


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Andri Purnawan
Jl. Darmo Baru Barat VI/28,
Surabaya
Email: pdtandri@gmail.com


 

Location/Map



GKI RESIDEN SUDIRMAN



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Residen Sudirman 16
Surabaya 60131
Telp. (031) 5032212
Fax. (031) 5013549
Email : gkiressudsby@gmail.com

BAJEM
- Mulyosari Utara XI/ 76 Surabaya
- Ds. Windu, Karang Binangun Lamongan

BAPOSJEM
Probolinggo (Bekerja sama dengan GKI Pasuruan)
Ruko Garuda No.3
Jalan Imam Bonjol, Probolinggo


JAM KEBAKTIAN

Jalan Residen Sudirman
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.16.30
Kebaktian Umum IV pk.19.00
Kebaktian Pemuda pk.11.30
Kebaktian Remaja pk.09.00

Bajem Mulyosari
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.09.30

Bajem Windu
Kebaktian Umum pk.08.00

Baposjem Probolinggo
Kebaktian Umum pk.17.00


PENDETA

Pdt. Timotius Wibowo
Jalan Manyar Rejo X/ 65,
Surabaya 60118
Email: timot@sby.centrin.net.id
timot.gki@gmail.com

Pdt. Sri A. Patnaningsih Lewier
Jalan Villa Kalijudan Indah XVIII
blok S No.11 Surabaya.
Email : patnaningsih@yahoo.com

Pdt. Andreas Daud
Jalan Mulyosari Utara 11/42
Surabaya
Email : daud_andreas@yahoo.com

Pdt. Djusianto
Jalan Wisma Permai Tengah 11
Blok DD no. 5, Surabaya
Email : djusianto@yahoo.com

Pdt. Rachmat Z. Mustika
Jalan Taman Kalikepiting Indah 27/20,
Surabaya
Email : dhanax2002@yahoo.com


 

Location/Map



Benih yang Ditabur, Disiram, Bertumbuh dan Berbuah

I.    BENIH YANG  DITABUR

Menelusuri jejak langkah karya Tuhan menaburkan benih Injil di kawasan Residen Sudirman Surabaya sungguh menguak aneka data dan fakta yang menarik serta mempesona, yang selama ini tampaknya tak cukup dikenal di kalangan luas.

Betapa  tidak?  Siapa menduga bahwa pada tahun 1929 di Gang Bogen, Tambaksari, bersemilah Injil Tuhan yang sudah bertumbuh pada diri Liem Soei Tioe beserta keluarganya. Semula mereka berasal dari Mojokerto dan di sana kerap berkunjung ke kebaktian sebuah Gereja Pentakosta. Kala pindah ke Gang  Bogen, yang merupakan bagian daerah Residen Sudirman,  Injil yang telah bersemi di dada mereka bukan saja terus dipelihara melainkan juga dibagikan kepada sesamanya, antaranya juga kepada beberapa  orang yang sudah Kristen. Agaknya, di samping pendatang dari Mojokerto tersebut, ternyata di Surabaya telah ada beberapa insan lain yang  percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sejak di tempat asal mereka.

Konon, di rumah keluarga Liem Soei Tioe itulah kiranya anak-anak Tuhan tersebut biasa menyelenggarakan “Koempulan Roemah Tangga”. Siapa gerangan yang memimpin dan berapa orang yang ikut dalam ibadah-ibadah sederhana itu?  sayang sekali saat ini tidak lagi terlacak, Lagipula tidaklah jelas, apakah ibadah itu bisa diselenggarakan secara teratur atau adakalanya tersendat-sendat.  Untunglah dalam Laporan Kerja Pertama Ds. H.A.C. Hildering, yang ia kirim kepada Lembaga Sending yang mengutusnya, untuk kurun waktu September 1932 sampai Maret 1933 – tersingkap sekelumit informasi tentang situasi tahap awal tersebut.

Kawasan Residen Sudirman memang memainkan peran unik dalam gelanggang sejarah awal Gereja kita (dalam lingkup GKI se-Surabaya), sebab di samping sebagai tempat awal kumpulan rumah tangga di keluarga Liem Soei Tioe, ternyata Pdt. Hildering  pun bertempat tinggal di Jl. Ketabangkali no.13, Surabaya semasa pelayanannya selama 20 tahun. Dengan demikian bisa ditarik kesan bahwa pada tahapan itu kegiatan pelayanan Injil di kalangan Tionghoa peranakan di Surabaya tampaknya  berpusar  di kawasan Residen Sudirman, yakni bagian pusat kota ke arah Timur.



II. BENIH  YANG  TUMBUH

Menurut informasi yang diperoleh, diketahui bahwa di Jl. Residen Sudirman no. 14 - 18, yang kini dipakai sebagai tempat ibadah dan kegiatan gerejani GKI Residen Sudirman, semula adalah milik Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB). Kala itu bentuk gedung gerejanya sangat bersahaja, semi permanen.

Gereja kita yang kala itu bernama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Jawa Timur Surabaya, masih terpusat di bagian utara kota, yaitu di Jl. Johar 4. Atas berkat Tuhan ternyata gereja itu secara ajek terus berkembang. Tempat tinggal warganya tersebar, sebagian bertempat tinggal di bagian tengah dan selatan kota Surabaya. Untuk menunjang pelayanan yang semakin meluas, rapat Majelis Gereja (MG) tanggal 20 Juni 1954 mengesahkan Sdr. Oey Sien Nio sebagai Tata Usaha Kantor Gereja THKTKH di Jalan Johar 4, yang kemudian dibuka tanggal 1 Agustus 1954.

Suatu ketika GPIB bermaksud hendak membangun gedung gereja di Jl. Yos Sudarso, namun dana yang tersedia masih terbatas. Patut diketahui bahwa sebagian warga THKTKH Surabaya semula terhisap sebagai anggota GPIB, karena mereka dibaptis di gereja tersebut. Jadi, memang telah terjalin relasi tertentu antara THKTKH dengan GPIB. Atas dasar relasi tersebut, maka ketika GPIB tengah menghadapi masalah kebutuhan dana membangun sarana ibadah di Jl. Yos Sudarso diadakanlah pembicaraan pada bulan Maret 1958 antara Pdt. Oei Liang Bie alm. dengan Ds. S.A.R. Hardin yang mewakili kedua gereja tersebut, yang ternyata hasil pembicaraannya menguntungkan kedua belah pihak.

Tempat ibadah di Jl. Residen Sudirman milik GPIB kemudian dijual kepada THKTKH. Dana tersebut itulah yang dipakai GPIB untuk kelak bisa memodali upaya pembangunan gedung gereja di Jl. Yos Sudarso, yang kini bernama Gereja GPIB Maranatha.
Sejak tanggal 6 Juli 1958 dimulailah kebaktian pada setiap hari Minggu pukul 17.00 di Jl. Residen Sudirman 14-18 lalu dijadikan tempat ibadah warga THKTKH yang bertempat tinggal di kawasan tengah kota. Jemaat tersebutpun ternyata terus berkembang. Sedikit demi sedikit dana terkumpul melalui penjualan obligasi oleh Panitia PRG (Pembangunan Rumah Gereja), sehingga tempat ibadah yang lama dibongkar untuk dibangun gedung yang baru.

Tanggal 23 Agustus 1959 diadakan "Peletakan Batu Pertama" pembangunannya. Untuk sementara kebaktian meminjam gedung gereja GKDW Jl. Dharmahusada 25 sejak bulan Agustus 1959 sampai April 1960.

Gedung gereja GKI Ressud dibuka/diresmikan tanggal 5 Mei 1960. Selanjutnya, tanggal 8 Mei 1960 dimulainya, kebaktian pagi pukul 7.00,  kemudian tanggal 5 Pebruari 1961 ditambah pukul 9.00 dan mulai tanggal 3 Oktober 1961 ditambah kebaktian pukul 18.00. Setelah selesai pembangunan gedung gereja dilanjutkan dengan pembangunan Balai Pertemuan yang terletak di belakang gedung gereja GKI Ressud.

Kehidupan serta pertumbuhan Jemaat THKTKH Surabaya, antaranya pernah dilayani oleh :
Ds. H.A.C. Hildering alm. (sampai dengan tahun 1952),
Pdt. Kwa Yoe Liang alm. (sampai dengan tahun 1946),
Pdt. Thio Kiong Djien alm. Pada tahun 1953
Pdt. Oei Liang Bie alm. (A.J. Obadja) mulai pula melayani jemaat, yang pada tahun 1958 disusul oleh
Pdt. Han Bing Kong alm
Pdt. J. Atmarumeksa (pada awalnya ditugas-khususkan untuk sekolah PPPK Petra).


III. BENIH  YANG  DISIRAM

Peristiwa bersejarah yang terjadi dalam kebaktian `Pengembangbiakan` di jalan Residen Sudirman 16 Surabaya, telah mengakhiri keberadaan GKI Jatim Surabaya yang satu menjadi lima gereja setempat yang masing-masing berotonom penuh.
Apa yang melatarbelakangi terjadinya otonimisasi dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi?  GKI Jatim Surabaya sesuai dengan perkembangannya, memiliki lima tempat kebaktian yaitu di Jl. Sulung  Sekolahan 2A, Jl. Residen Sudirman 16, Jl. Embong Malang 31, Jl. Diponegoro 146 dan Jl. Ngagel Jaya Utara 81 Surabaya.

MG Daerah bertugas menyelenggarakan kebaktian dan pelayanannya yang diatur dalam Peraturan Organisasi (POR) GKI Jatim Surabaya tanggal 19 September 1960. MG Pleno Besar yang terdiri dari semua Tua-tua Majelis Gereja Daerah. Berbeda dengan keempat gereja setempat lainnya, GKI Ressud tidak mempunyai pendeta pada saat pengembangbiakan.

Kendati demikian untuk mengisi kekosongan jabatan pendeta, persidangan Sinode GKI Jatim XXV telah menunjuk Pdt. Pranata Gunawan S.Th sebagai Pendeta Konsulen GKI Ressud. Tahun 1975 GKI Ressud meneguhkan Pdt. Soetjipto sebagai pendeta jemaat, kemudian pada tahun 1981 dilakukan penahbisan Pendeta Ganda atas diri Ttk. Djoko Sugiarto Ekoharsono, S.Th. dan Ttk. Andreas Agus Susanto, SmTh. Gedung gereja lama yang disebut ”gudang” dibongkar pada tahun 1988 dan gedung baru selesai dan diresmikan 7 April 1990. Dan selama gedung Gereja dibangun kebaktian dilaksanakan di Auditorium SMA Kristen Petra Jl. Kalianyar 43 Surabaya.



IV. BENIH YANG BERBUAH

Didalam pertolongan Tuhan GKI Ressud melakukan berbagai pelayanan diantaranya Pelayanan ke Penjara, Pelayanan kepada Kaum Profesional (Persekutuan Filadelphia), Pelayanan kepada PSK, Pelayanan ke RS Jiwa Porong, Pelayanan ke RS Kusta Mojosari, Pelayanan Kesehatan Waluyojati, dll

Dalam perjalanan pelayanannya GKI Ressud memiliki beberapa Pos jemaat dan bajem dan beberapa diantaranya telah dilembagakan yaitu GKI BATAM (bekerja sama dengan GKI Perniagiaan Jakarta, sebagai Gereja Induk, GKI Kebayoran Baru, GKI Gunung Sahari), GKI Denpasar, GKI Kutisari Indah, GKI Lebak Jaya. Sementara yang masih berstatus bajem adalah Bajem Windu dan Bajem Mulyosari.

Saat ini GKI Ressud melakukan pelayanan dengan 5 (lima) pendeta yaitu Pdt. Timotius Wibowo, Pdt. Sri Agus Patnaningsih Lewier, Pdt. Djusianto, Pdt. Rachmat Z. Mustika, Pdt. Andreas Daud dan beberapa pengerja yaitu Pnt. Ngatino, Ibu Sumarni.

GKI Ressud akan tetap menjadi Gereja yang visioner dan misioner, menjadi berkat bagi bangsa. Semua yang kita lakukan bukan untuk diri kita sendiri tetapi terpulang kepada Allah yang telah mempercayakan gereja ini kepada kita.

 



“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai  
selama-lamanya” (Roma 11:36)


GKI MOJOKERTO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Gajah Mada 116
Mojokerto 61313
Telp. (0321) 322908
Email :
gki.mojokerto@gmail.com

Jalan Raya Lawu 2
Mojokerto
Telp. (0321) 326694

BAJEM
Jalan Bintang Kejora Pacet
Telp. (0321) 690067


JAM KEBAKTIAN

Jalan Gajah Mada
Kebaktian Umum pk.06.30
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.08.30

Jalan Lawu
Kebaktian Umum pk.17.00

Bajem Pacet
Kebaktian Umum pk.17.30


PENDETA

Pdt. Samuel Dian Pramana
Jalan Lawu Raya 2A
Mojokerto
Email : muel_sha@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Cikal Bakal

Sekitar tahun 1929 di Mojokerto telah berdiam beberapa orang kristen Tionghoa. Mereka berbakti bersama-sama dengan saudara-saudara seiman dari De Oost Javaansche Kerk (GKJW). Selain itu mereka mengadakan kebaktian rumah tangga di rumah keluarga Liem Soe Tiong. Secara teratur kelompok orang kristen Tionghoa ini kerap dilayani oleh Pdt. Oei Soei Tiong yang berasal dari Bangil dan kebetulan juga mempunyai saudara bernama Oei Soei Tjiep seorang bekas karyawan pengadaian yang menjabat sebagai anggota Majelis GKJW Mojokerto. Iman mereka bertumbuh antaranya akibat pelayanan kedua saudara tersebut. Kelompok inilah yang merupakan “cikal bakal” jemaat kristen Tionghoa di Mojokerto

 

Perintisan   Awal

Selanjutnya mulai timbul semangat dalam diri kelompok jemaat tersebut untuk mengatur diri lebih tertib. Dibentuklah semacam pengurus atau panitia yang terdiri dari beberapa orang, diantaranya adalah Liem Soe Tiong dan Oei Soei Tjiep. Jumlah mereka yang tekun mengikuti kebaktian pada waktu itu berkisar 10-20 orang. Sedangkan kebaktian dilaksanakan secara bergilir dari satu rumah ke lain rumah. Tercatat antara tahun 1929 sampai dengan 1939, alamat rumah-rumah yang ditempati, ialah di Jalan pandean, jalan Keradenan, Jalan Joko Sambang; dan Pasar Paing. Bantuan pelayanan dari Pdt. Oei Soei Tiong dari Bangil; Pdt. H.A.C. Hildering dari Surabaya ;Sdr Penginjil Geroengan dari Mojokerto, saudara-saudara seiman dari GKJW, dan Sdr. Oei Soei Tjiep sendiri.

 

Lahirnya Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee Klasis Jawa Timur

Jumlah kelompok jemaat kristen Tionghoa di Mojokerto tidak terlepas dari pertumbuhan yang sama yang sedang terjadi di Bangil, Mojosari dan Malang. Oleh karena itu pada tahun 1932 telah terbentuk suatu “Ikatan” (Bond) Kristen Tionghoa yang dikenal dengan nama “Tiong Hwa Tok Kauw Hwee” diantara mereka. Selanjutnya perkembangan mereka sebagai seiring sejalan terutama berkat bimbingan dan pengarahan Pdt. H.A.C. Hildering, seorang pendeta utusan Gereja-gereja Reformeed di Nederland. Dimulai dari peresmian suatu gereja (perubahan dari sekedar “perkumpulan “ atau “ikatan” ) dan satu kemajelisan yang pertama kali dari keempat kelompok jemaat tersebut pada tahun 1932. Tepatnya 31 Juli 1932 di Malang.

Empat tua-tua diteguhkan pada saat itu dua di antaranya dari Mojokerto, yaitu : Oei Soei Tjiep dan Kwee Tjin Kian. Kemudian disambung lagi dengan keputusan membagi keempat kelompok jemaat Kristen Thionghoa tersebut menjadi Tiga Gereja Setempat yang dipersatukan selaku Klasis. Tiga Gereja Setempat itu ialah : Malang, Bangil (termasuk Surabaya, Mojokerto Mojosari, Probolinggo dan Kraksan dan Jatiroto (sampai Besuki). Di sini telah tercermin pengembangan yang cukup berarti di wilayah Jawa Timur. Keputusan ini dibuat dalam suatu rapat Majelis Gereja pada bulan September 1933. Sampai akhirnya terjadilah momentum bersejarah yakni Persidangan para utusan dari Tiga Gereja Setempat pada tanggal 28 Februari 1934 yang sekaligus merupakan saat peresmian berdirinya THKTKH Klasis Jawa Timur dengan Majelis Besar (Tay Hwee) dari ke tujuh Gereja Setempat, yakni : Bangil; Probolinggo; Mojokerto; Mojosari; Malang; Bondowoso dan Jatiroto. Inilah Cikal Bakal dari Sinode GKI Jatim yang sekarang, dimana jemaat Mojokerto terhisap di dalamnya.

 

Perkembangan di Mojokerto sendiri

Pada masa pendudukan Jepang (1942), pendeta-pendeta dari luar kota Mojokerto tidak dapat melayani, apalagi yang berkebangsaan Belanda seperti Hildering. Komunikasi keluar nyaris terputus. Secara umum jemaat mengalami kemunduran, walaupun sempat juga dibangkitkan semangatnya oleh kehadiran seorang pendeta dari Klaten bernama Poerwito Moestoko. Namun sayang beliau meninggal pada tahun 1947. Kondisi jemaat menurun sampai dimana situasi negeri tak lagi selalu diganggu perang. Tercatat kebaktian jemaat berpindah dengan menumpang dan meminjam tempat di GPIB, Jalan Kabupaten 1 Mojokerto. Ini terjadi pada tahun 1949 (namun ada versi lain yang mengatakan sejak tahun 1955). Setelah keadaan lebih stabil datanglah seorang pelayan tetap bagi jemaat, yaitu dalam diri Pdt. Lie Tie Jong yang tiba pada tahun 1950. Kebaktian berjalan lancar setiap minggu sore pukul 15.30 WIB di GPIB Jalan Kabupaten 1 Mojokerto. Pada tahun itu pula pelayanan bisa meluas ke luar kota, yaitu Jombang dan Mojosari (yang kemudian menjadi cabang).

 

Dua Perubahan Penting.

Tak dapat disangkal bahwa sejarah GKI berangkat dari kelompok jemaat kristen Tionghoa. Seperti juga yang terjadi di Mojokerto. Selanjutnya dalam perjalanan sejarah pengaturan hidup bergereja penting dicatat dua peristiwa bersejarah yang menentukan wajah kegerejaan yang dibentuk oleh jemaat-jemaat yang menyatukan diri dalam wadah THKTKH - Khu Hwee (Klasis) Jawa Timur itu. Pertama, adalah peristiwa tanggal 21 April 1954, tatkala diputuskan adanya pemisahan antara jemaat yang berbahasa Tionghoa dengan berbahasa Indonesia. Bersama dengan kelompoknya, jemaat Mojokerto terhisap ke dalam TKH TKH Khu Kwee Jatim Timur Bagian Bahasa Indonesia. Pada tahun 1958 di Bondowoso, tatkala persidangan yang ke VII memutuskan bahwa nama THKTKH Khu Kwee Jawa Timur berganti menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur (sekarang GKI SW Jatim). Dengan demikian jemaat THKTKH Mojokerto pun berubah nama menjadi GKI Jatim Mojokerto. Semakin tampaklah identitas ke Indonesia yang dihayati oleh GKI Jatim.

 

Pembangunan Gedung Gereja

Pada tahun 1959 datanglah seorang Lulusan Sekolah Tinggi Belewijoto Malang guna menjalani masa porponent (calon Pendeta), yakni Sdr. Kwee Tik Hok, sebab Pdt. Lie Tie Jong menerima panggilan pelayanan di jemaat THKTKH Jombang pada tahun 1957 (akhir). Akhirnya tiba jugalah saatnya Sdr. Kwee Tik Hok ditahbiskan sebagai pendeta GKI Jatim Mojokerto pada tanggal 1 April 1960. Kebaktian istimewa tersebut masih dilaksanakan di GPIB Jalan Kabupaten 1 Mojokerto. Sedangkan majelis jemaat yang tercatat mendampingi pelayanannya, adalah : Sdr. Kho Hian Poo; Sdr. Oei Tjwan Tjay; Sdr. Oei Tjin Bing; Sdr. Ie Ik Djoen ; Sdr. Tan Oen Sik; Ny Tee Yoe Tjay; dan Ibu Moestoko. Dampaknya adalah bahwa pelayanan yang dilakukan semakin baik dan berkembang, sampai akhirnya dirasakan kebutuhan untuk memiliki dan membangun gedung gereja sendiri. Maka dibentuklah panitia Pembangunan Gedung Gereja yang terdiri dari : Sdr. Drg. Lee Djiet Sing; Sdr. Kho Hian Poo; Sdr. Ong Sian Kee; Sdr. Mukadi; Sdr. Oei Kang Tiong; Sdr. Fredy The; Sdr. Corputty dan Pdt. Kwee Tik Hook sendiri (sebagai penasihat). Setelah melakukan berbagai usaha penggalian dana & persembahan, serta melewati bermacam kesulitan akhirnya pembangunan gereja pun dapat diselesaikan. Gedung tersebut terletak di Jalan Gajahmada 124 (sekarang nomor 116) Mojokerto. Pemakaiannya diresmikan tepat pada 19 Mei 1967.

 

Kapan HUT GKI Jatim Mojokerto

Kapan persisnya kita mulai menghitung sebagai saat “kelahiran” GKI Mojokerto ?  Agaknya tidak mudah. Tergantung darimana kita memandang bukan ?

Pertama. Kalau titik pijak kita adalah saat terbentuknya “Gereja” dalam artian yang tertata baik secara organisatoris maupun theologis, maka momentum 22 Februari 1934 adalah saat yang paling tepat. Artinya, karena memang jemaat Mojokerto bersama dengan jemaat awal yang lain, merupakan jemaat-jemaat yang membidani lahirnya KHKTKH Klasis Jawa Timur. Lahirnya jemaat THKTKH Mojokerto memang terkait langsung dengan momentum 22 Februari 1934. Jadi, sama dengan HUT GKI Jatim.

Kedua.   Apabila titik pijak kita murni harafiah pada istilah baku, yakni GKI Jatim Mojokerto, maka itu baru “Lahir” pada saat persidangan ke VII di Bondowoso yakni pada tahun 1958. Sebab, sebelum itu masih dipergunakan nama Tiong Hwaa Kie Tok Kauw Hwee dengan ciri ke – tiongho - an yang masih cukup kental walaupun kian memudar.

Ketiga.   Jikalau yang dijadikan titik acuan ialah saat dimana jemaat bisa benar-benar mandiri hingga memiliki gedung gereja sendiri (kemandirian diartikan sedemikian) maka peristiwa peresmian gedung gereja tanggal 19 Mei 1967 memang paling cocok.

Catatan terakhir (bisa termasuk keempat). Tercatat dalam buku Kenang-kenangan HUT ke 31 GKI DJatim Modjokerto (tahun 1968), bahwa berdirinya Gereja GKI Jatim Mojokerto ialah pada tahun 1937. Sedangkan hari peringatan peresmian gedung yang pertama yakni 19 Mei 1968 dipakai sekaligus untuk memperingati HUT GKI Jatim Mojokerto yang ke 31 (dihitung dari tahun 1937). Namun pertanyaannya, ialah peristiwa apa yang dianggap tonggak berdirinya jemaat GKI Mojokerto ditahun 1937 itu? Sulit dijawab.

Jadi, kapan tepatnya HUT GKI Jatim Mojokerto? Tahun ini HUT yang ke berapa? Biarlah Majelis Jemaat yang memutuskannya. Akhirnya dalam rapat Pleno Majelis Jemaat pada hari Jumat 17 Juni 1994 telah diputuskan bahwa berdirinya GKI Jatim Mojokerto adalah seperti sejarah yang dihayati GKI Jatim, yakni tanggal 22 Februari 1934.

 


GKI MOJOKERTO BAJEM PACET

Awal Mula

Sejarah ini, kalau boleh kami awali dengan adanya sebuah keluarga yang bermigrasi dari Mojokerto ke Pacet tahun 1970, yaitu keluarga Bpk. Ibu Sugiono Darmawan.   Keluarga   ini mempunyai 8 orang putra putri, diantaranya adalah Sofjan Tjahjono yang jebolan STTH Duta Wacana Jogyakarta dan Elly Susi Lundrajanti yang bersuamikan Andreas Hendra Buana BTH mantan pendeta GKI Jatim Jombang tahun 1972-1975.

Suatu hari mereka berjumpa dengan para aktivis GKI Jatim Diponegoro Surabaya antara lain Bpk. Pdt. Jahja Kumala dan Tua-tua Bpk. T. Adisubrata. Melalui beberapa kali perundingan terlaksanalah persekutuan doa pertama kali yang dihadiri ± 10 orang dilayani oleh KPI GKI Jatim Diponegoro Surabaya tanggal   29   Maret 1982 di rumah Keluarga A. Hendra Buana. Depot SARI SEGAR menjadi tempat bersejarah lahirnya jemaat GKI di Pacet.

Hamba-hamba Tuhan yang melayani dan merawat kerohanian jemaat muda ini ialah : Bpk. Pdt. Jahja Kumala, Bpk. Pdt. Agus Susanto, Ibu TTk Sien Sriyono, Bpk. Pdt. Budiono Adiwibowo dan Bpk. Andreas Hendra Buana

Sedangkan untuk Sekolah Minggu Ibu Elly Buana dan Ibu Tries Tjahjono mendapat bagian tugas menabur benih-benih iman bagi anak-anak yang ada. Yang luar biasa ialah karya Tuhan melalui semangat dan kesabaran dua orang ibu ini, benih-benih iman yang ditabur mengakar dan bertumbuh pesat. Setelah KPI GKI Jatim Diponegoro Surabaya menggandeng Komisi PAPI GKI Jatim Mojokerto, maka terbentuklah panitia bersama Pos PI Pacet.

 

Tantangan Yang Muncul

Muncullah tantangan pertama. Disamping jumlah yang hadir dalam persekutuan doa mulai merangkak naik pertumbuhan sekolah minggu begitu cepat dan membuat ruangan yang tersedia di depot sari segar tak mampu lagi memfasilitasi mereka beribadah dengan nyaman.

Namun, campurtangan dan kasih karunia Tuhan menjawab tantangan tersebut. Bapak Oei Liang Djwan yang bukan anggota jemaat terpanggil untuk suka hati meminjamkan villanya untuk dipakai sebagai tempat ibadah. Villa yang sekarang dikenal sebagai gedung BRI Pacet di depan depot Sari Segar milik Bpk. Sofjan Tjahjono menjadi tempat bersejarah kedua bagi GKI Mojokerto Bajem Pacet. Di tempat ini kemudian sesuai dengan pertambahan jumlah yang hadir dalam persekutuan, tanggal 7 November 1983 persekutuan doa ditingkatkan menjadi Kebaktian Liturgis. Persekutuan doa pos PI menjelma menjadi Kebaktian pos PI Pacet.

Pelayanan dan perawatan rohani para hamba Tuhan membuahkan hasil melalui Sakramen baptis / sidi dalam diri Bpk, Sugiono Darmawan Bpk. Slamet Riyadi, ibu Yustin, Bpk.ibu Kusnan dengan kedua orang putra putrinya Heri dan Elly serta ibu Nani Subianto beserta putrinya Gisela Renatri, dilayankan Bpk. Pdt. Budiono Adiwibowo pada tanggal 4 Desember 1983.

Di Tahun 1984, sehubungan dengan kepindahan Bpk. Pdt. Budiono Adiwibowo ke GKI Jatim Bromo Malang, dan Bpk. A. Hendra Buana melanjutkan study, untuk membantu pelayanan perkunjungan ditempatkan Sdri. Inina dari GKI Jatim Diponegoro Surabaya sebagai tenaga Penginjil di pos PI Pacet.

Sejak kepindahan dari depot Sari Segar ke Villa Bapak Oei Liang Djwan, kami berharap mempunyai tempat ibadah sendiri dan itulah visi pos PI Pacet. Dengan selalu berdoa memohon pertolongan Tuhan bagi terwujudnya visi itu, Tua-tua T. Adisubrata bergerak sebagai motor utama dengan mempersembahkan sebidang tanah seluas   ± 450 m2 di Jalan Bintang Kejora Pacet sekaligus menjadi sumber dana pembangunan dan giat mengajak para donatur untuk ikut ambil bagian dalam pembiayaan pembangunan gedung gereja itu. Tidak ketinggalan segenap komponen GKI Jatim Diponegoro dan Komisi PAPI GKI Jatim Mojokerto ikut berpartisipasi dengan persembahan persembahannya. (untuk itu semua dan kepada semuanya kami segenap jemaat Bajem Pacet sangat berterimakasih ).

Sekarang tantangan berikutnya timbul, dalam proses pengurusan ijin dimana Bpk. A. Hendra Buana dan Bpk. Sofjan Tjahjono menjadi duta dari panitia, mengalami hambatan yang luar biasa karena banyak pihak menentang diterbitkannya ijin pembangunan itu. Bpk. Sofjan Tjahjono sempat “naik darah” menghadapi para penentang itu. Ironisnya di antara para penentang itu terdapat seorang hamba Tuhan yang notabene adalah saudara seiman. Perdebatan diplomasi yang cukup alot diakhiri dengan terbitnya ijin bangunan dan ijin prinsip dan rencana membangun pun berlanjut. Pada tanggal 22 Juni 1984 Bpk. Pdt. Budiono Adiwibowo berdiri dengan latar belakang hamparan sawah ladang lereng perbukitan gunung Welirang memimpin upacara peletakan batu pertama yang dikerjakan oleh Tua-tua Bpk. T. Adisubrata. Kembali campurtangan dan anugerah kasihnya mengatasi segala masalah. Pembangunan pun terus berjalan di bawah naungan kasih Tuhan.

 

Jawaban Tuhan Mengatasi Tantangan

Dengan tata rencana dan tata laksana ditangan Bpk. Ir. Kosasih, pelaksana teknis lapangan Bpk. Sofjan Tjahjono dibantu Sdr. Yani yang seorang Hindu, dalam waktu yang relatif singkat perjuangan Tua-tua T. Adisubrata bersama segenap pelaku sejarah untuk segera mewujudkan visi indah mulia membuahkan hasil.   Pada tanggal 22 maret 1985 diresmikanlah gedung gereja Pos PI Pacet, ditandai dengan pembukaan tirai prasasti Hagai 1:8 oleh tua-tua Bpk Gideon Sidharta, penyerahan kunci dari Tua-tua T. Adisubrata selaku ketua panitia kepada Ketua Majelis GKI Jatim Diponegoro Surabaya dan buka pintu oleh Ketua Majelis GKI Jatim Mojokerto Tua-tua Danuwarsa K.   Kini jemaat muda itu sudah mempunyai tempat ibadah sendiri, gedung gereja pos PI Pacet.

Terimakasih Tuhan Yesus, terimakasih Bpk. Oei Liang Djwan, kami pindah tempat ke gedung gereja yang baru, menata kehidupan bergereja Pos PI Pacet dilanjutkan mulai dari pindah hari kebaktian dari hari Senin ke hari Minggu, menambah personil panitia dalam diri Bpk. Kusnan, Bpk. Slamet Rriyadi dan Ibu Hidayati Koesen. Pelayanan diakonia bagi beberapa keluarga jemaat. Persekutuan Doa sekali dalam sebulan. Hebatnya, 45 orang termasuk beberapa jemaat dari GKI Jemaat Jatim Mojokerto hadir dalam persekutuan tersebut.

Anak anak sekolah Minggu pun tetap eksis   pada tanggal 14-16 Juni 1985, 16 orang anak beserta 3 pengasuhnya mengikuti camp bersama dengan sekolah minggu GKI Jatim Mojokerto dan Cabang Mojosari di Batu Malang.

Pada tahun 1985 tercatat 3 keluarga harus meninggalkan Pacet pindah ke luar kota. Tetapi di awal tahun 1986 Tuhan kirim keluarga bpk/Ibu Purbanu H.S atestasi dari GKJW Bongsorejo ke pos PI Pacet .

Dinamika sejarah menjadi sangat terasa di tahun 1986. Karena KPI GKI Diponegoro Surabaya harus berkonsentrasi pelayanan PI ke daerah lain, pada tanggal 7 September 1986 pengelolaan pos PI Pacet diserahkan sepenuhnya ke GKI Jatim Mojokerto. Sebulan kemudian,   5 Oktober 1986 status pos PI ditingkatkan menjadi Cabang dari GKI Mojokerto.

GKI MOJOSARI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Niaga 111,
Mojosari 61382
Telp. (0321) 591218


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum pk.06.00
Kebaktian Remaja pk.08.00


PENDETA

Pdt. Atdi Susanto
Jalan Niaga 129 A,
Mojosari 61218
Email: barasetia@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Mojosari sekitar tahun 1930-an

Dari kurun waktu tiga dasawarsa pertama abad 20, tercatat hal penting yang dialami oleh kedirian gereja kita selaku gereja Tuhan yaitu ialah bahwa munculnya kelompok-kelompok di Surabaya, Sidoarjo/Bangil, Mojosari/ Mojokerto, Malang, Bondowoso (dan sekitarnya). Terlaksana secara sendiri-sendiri. Secara garis besar,”waktu”nyapun agak bersamaan, dengan puncak kristalisasinya pada sekitar tahun 1930-an.

Perlu diketahui bahwa perintis kita Oei Soei Tiong, banyak melakukan usaha-2 penginjilan yg. sangat intensif. Wilayah pelayanannya mencakup Bangil sendiri sebagai “pusatnya” dan dari sana melebar ke Mojosari,Mojokerto,Surabaya dan Malang.

Perlu dicatat bahwa sekitar tahun 1930, kelompok Mojosari adalah yang terkuat dan terdiri dari 25 anggota kelompok ini tidak mempunyai pengkhotbah sendiri tetapi ada seorang kepala sekolah Jawa dari sekolah Negeri yang beragama Kristen, Mas Njoto atmojo. Beliau membawakan Khotbah dalam kumpulan-kumpulan dan memberi pelajaran Katekisasi dan sekolah minggu. Disamping pelayanan Mas Nyotoatmodjo tersebut, maka dengan teratur setiap 2 minggu Guru Injil Petrus (Oei Soei Tiong) datang berkhotbah disini.

Kebutuhan untuk membentuk kelompok tersendiri dapat dipandang sebagai sesuatu yang muncul kemudian, hal ini nampak jelas dalam tahap awal dari ke Kristenan di Mojosari. “Kelompok Mojosari dengan teratur datang bersama dengan jemaat Jawa yang kecil,dimana guru Nyotoatmojo hampir setiap hari Minggu berkhotbah. Sedikit waktu yang lalu sebagian dari kelompok Tionghoa mengadakan kumpulan tersendiri, tetapi syukurlah akhirnya bagian ini mengadakan persekutuan bersama jemaat Jawa lagi. Hal tersebut adalah sangat penting untuk kota kecil seperti Mojosari, Orang Tionghoa disana pada umumnya cukup mengerti bahasa “ Jawa”

Ada sebuah peristiwa yg patut diungkapkan, seorang yg bernama Liem Hong Djien suatu ketika mengalami musibah karena rumahnya terbakar. Ia merasa sedih. Dalam kesedihannya ia dikunjungi dan menerima penginjilan. Dan ternyata lewat pengalaman itu ia datang percaya kepada Yesus. Usahanya kemudian pulih kembali, bahkan ia menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat kebaktian setiap hari minggu. Ia juga menyumbangkan sebidang tanah diatasnya berdiri sebuah bangunan berupa sebuah gudang, diseberang rumahnya untuk dipakai gedung gereja

Peresmian gedung gereja yang ada di GKI Jatim, maka gedung gereja Mojosari terhitung yang tertua, terutama bentuk bangunan mimbarnya yang terbuat dari batu merah

Dan sampai dengan saat ini, gedung ini masih dipelihara dan masih dijadikan sebagai tempat beribadah, oleh jemaat GKI Mojosari

 

GKI MOJOSARI

antara 1930 - 1990-an

Perlu diingat bahwa masa ini berlangsung sangat lama, GKI Mojosari belum di dewasakan, dan masih berada sebagai Bajem dari Mojokerto. Karena tidak mempunyai pendeta jemaat, sehingga pelayanan disini di bantu dengan mendatangkan pendeta konsulent atau penghotbah dari gereja-gereja lain. Segala proses administrasi dan rapat-rapat rutin masih dilakukan di Mojokerto selaku pusatnya GKI Mojosari.

Karena tidak ada catatan sejarah yang jelas, maka kurang dapat diketahui ada beberapa orang yang juga dengan setia melayani disini. Namun setidak-tidaknya dapat diketahui(sejauh yang dapat diingat) bahwa untuk pimpinan Majelis telah mengalami pergantian sebanyak 3 kali. Yang terakhir terjadi di tahun 1982.

Dan untuk pelayanan digereja, ada begitu banyak orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membuka jalan bagi penyebaran injil Kristus, walaupun mereka bukanlah seorang pendeta di jemaat ini, tetapi mereka dengan tekun menggembalakan dan menjadi perintis bagi pertumbuhan dan perkembangan jemaat di tempat ini, salah satunya adalah Alm.Bp. Stefanus Coorputty, atau yang akrab disapa Om Coor, beliau adalah koster di tempat ini sejak 1 Juli tahun 1970 hingga 1983, dan masih ada pula beberapa orang lainnya yang turut berpartisipasi dalam pertumbuhan dan perkembangan GKI Mojosari.

Pada tangal 22 Pebruari 1988 dengan melihat berbagai masukan yang ada, maka didewasakanlah GKI Mojosari. Majelis GKI Jatim Mojokerto diwakili oleh Pdt. A. Hendra Buana selaku pendeta, tua-tua Dr. Trihardjo S. Selaku Ketua I, dan tua-tua Sukimin selakpenulis I.. Dari pihak GKI Mojosari ,Pdt. Atdi Susanto (pada waktu itu masih TTk),Tua-tua Siswoyo Sutanto selaku Ketua I, dan Tua-tua Ruben Hadinata selaku penulis I, kemudian pada tahun 1990 Pdt. Atdi Susanto, S.Th diteguhkan menjadi Pendeta jemaat GKI Mojosari, maka dimulailah suatu babak baru dalam kehidupan bergereja di lingkungan GKI Mojosari.

 

GKI SIDOARJO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Trunojoyo 39 A
Sidoarjo 61218
Telp. (031) 8921922
Fax. (031) 8947024
Email: gkisidoarjo@yahoo.com

BAJEM
(Jalan Ciliwung 209 Blitar)
Tempat Kebaktian di
GPIB Eben Haezer
Jl. Jendral Sudirman No.37 Blitar


JAM KEBAKTIAN

Jalan Trunojoyo
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Remaja pk.08.00
Kebaktian Pemuda pk.09.00

Bajem Blitar
Kebaktian Umum pk.16.00


PENDETA

Pdt. Leonard Andrew Immanuel
Jalan Raya Bluru No.16 Sidoarjo
Email : leonard.anim@yahoo.com

Pdt. Yosez Rezon Suwignyo
Jalan Jendral Sudirman VI/ 26,
Sidoarjo
Email : yoses_rez@yahoo.co.id


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Sidoarjo, diawali dengan dibukanya suatu pelayanan kebaktian oleh GKI Jatim Surabaya. Pelayanan kebaktian diselenggarakan di rumah Jl. Gajah Mada 21 Sidoarjo. Kebaktian pembukaan cabang GKI Jatim Sidoarjo itu dilayani oleh Pdt. Han Bing Kong pada tanggal 15 Mei 1966 dan dihadiri oleh 135 orang. Selanjutnya, kebaktian rutin tiap-tiap minggu dimulai pk 16.30, dilayani oleh Pendeta/Tua-tua dari GKI Jatim Surabaya, pengunjung yang hadir berkisar antara 10-25 orang.

Pada tanggal 3 Juni 1968, tepatnya pada hari Pentakosta II diresmikanlah pemakaian gedung gereja yang baru, yakni yang terletak di Jl. Trunojoyo 39 Sidoarjo. Kebaktian peresmian pemakaian gedung gereja yang baru itu dilayani oleh Pdt. Han Bing Kong dan dihadiri oleh sekitar 160 orang. Pada saat itu jumlah anggota sidi sebanyak 24 orang. Pelayanan rutin masih diasuh oleh GKI Jatim Surabaya, khususnya dari daerah Diponegoro Surabaya. Dengan adanya tempat ibadah yang baru yang lebih representatif, berpengaruh juga terhadap kuantitas pengunjung kebaktian.

Pada bulan Maret 1972, Sinode GKI Jatim mengutus seorang tenaga pelayanan dalam diri Sdr. Andreas Anggono, B.Th. selama satu tahun. Sdr. Andreas Anggono adalah lulusan Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana Yogyakarta. Penempatannya sesuai dengan pelaksanaan Tata Gereja lama pasal 13, sebagai Tenaga Proponent. Ia tetap mendapat pendampingan dan pengasuhan dari Majelis GKI Jatim Surabaya. Pada tahun 1973, pelayanan jemaat ditangani oleh Tua-tua Tugas Khusus Sientesia Handayani dari GKI Jatim Surabaya. Pelayanannya berjalan hingga Desember 1975. Dengan adanya tenaga yang mantap, maka pelayanan jemaat baik kebaktian rutin setiap hari minggu maupun katekisasi dan kebaktian rumah tangga dapat berjalan lebih mantap.

Perlu diketahui, sebelum GKI Jatim Sidoarjo dewasa (berdiri sendiri) di samping Majelis GKI Jatim Surabaya yang bertanggung-jawab, juga telah dibentuk Panitia Khusus yang melayani GKI Jatim Cabang Sidoarjo sehari-harinya. Adapun panitia yang pertama dibentuk adalah sebagai berikut : Tahun 1966 – 1968 – Pdt Han Bing Kong dan beberapa Majelis GKI Jatim Surabaya dan Panitia yang berdomisili di Sidoarjo : Bp J. Djoandi, Ny Yap Tiang Tjwan, Bp Yahya Gunadibrata.

Tanggal 11 Mei 1977 dilakukan Kebaktian Pendewasaan Gereja, sehingga lahirlah GKI Jatim Sidoarjo. Kebaktian dilayani oleh Pdt. Yahya Kumala dari GKI Jatim Jl Diponegoro 146 Surabaya. Kebaktian dimulai Pk 17.00. Bersama dengan itu diteguhkan sebagai Penatua adalah : Sdr. Drs. Yahya Gunadibrata, Sdr. Waneng Sudigda, Sdr. Ali Prayitno, Sdr. Wasito Hadi, Sdr. Yahya Wijaya,SH. Dan sebagai Diaken adalah : Ny. Daniel Supadi, Ny. Wonopuspito, Ny. Soedoko, Ny. Soekardi. Sdr.Benyamin Gunawan, S.Th sebagai Tua-tua Tugas Khusus yang dipersiapkan untuk menjadi Pendeta GKI Jatim Sidoarjo. Penempatan dan pelayanannya di GKI Jatim Sidoarjo sesuai dengan Tata Gereja lama pasal 13. Bersama dengan itu juga diresmikan Bidang-bidang Pelayanan Gerejawi (Komis-komisi). Patut dicatat sebagai hal yang menggembirakan, ialah selesainya pembangunan Pastori Gereja yang terletak di JL. Bluru 10 Sidoarjo.

Pada tanggal 12 Juni 1978, pk 17.00 – dilakukan Pentahbisan dalam diri Sdr Benyamin Gunawan,STh sebagai Pendeta GKI Jatim Sidoarjo, dilayani oleh Pdt Petrus Prasetya (sebagai Pendeta Konsulen). Pelayanan Pdt Benyamin Gunawan STh dibantu oleh seorang Tenaga lulusan SPWK yaitu Sdri Sara Sumariati. Masa pelayanan Pdt Benyamin Gunawan STh di GKI Sidoarjo berakhir dengan kepindahannya ke GKI Jl Diponegoro 146 Surabaya. Pada tanggal 30 Juni 1986 diadakan Kebaktian perpisahan dengan Pdt. Benyamin Gunawan dan sekaligus Kebaktian Peneguhan Pdt. Andreas Agus Susanto sebagai Pdt. GKI Sidoarjo. Pdt Andreas Agus Susanto sebelumnya adalah Pendeta GKI Jl. Residen Sudirman 16 Surabaya. Tahun 1987 di GKI Sidoarjo pelayanannya dibantu oleh Sdri. Elizabeth Lesnipah.

Tahun 1987 bekerja sama dengan GKI Jl. Diponegoro 146 Surabaya, GKI Sidoarjo membantu pelayanan di Pos PI Porong, secara bertahap pelayanannya dipercayakan kepada GKI Sidoarjo. Pada Bulan Desember 1990 bertepatan dengan Perayaan Natal, Pos PI Porong pelayananya diserahkan dari GKI Diponegoro 146 kepada GKI Sidoarjo. Pada tgl 30 Desember 1991 dibuka pos kebaktian di Perumahan Taman Jenggala, menempati rumah milik Pdt. Sumardiyanto yang dipinjamkan untuk kegiatan GKI Sidoarjo. Pos PI Porong sudah tidak berlanjut sedang Pos Taman Jenggolo dipergunakan untuk kegiatan Kebaktian Sekolah Minggu.

Mengingat Pdt. Andreas Agus Susanto dipanggil menjadi Sekretaris Umum Sinode GKI Jatim untuk masa bakti 1993 – 1997, maka GKI Sidoarjo memanggil Pdt. Yusak Santoso (dari GKI Jombang) untuk melayani GKI Sidoarjo. Dan pada tgl 19 Juli 1993 Pdt. Yusak Santoso diteguhkan sebagai Pendeta GKI Sidoarjo, dan sekaligus diadakan acara perpisahan dengan Pdt. Andreas Agus Susanto, acara ini disebut acara “ pisah kenal “.

Dengan berkembangnya GKI Sidoarjo, maka GKI Sidoarjo menambah seorang Pendeta lagi dalam diri Sdr. Leonard Andrew Immanuel. Pentahbisanya berlangsung pada tgl 20 Februari 2006, pk 17.00 dan dilayani oleh Pdt. Yusak Santoso. Tiga kali GKI Sidoarjo merenovasi gedung gerejanya.

Kebaktian Minggu di GKI Sidoarjo : Pk 06.00, 08.00 dan 17.00. Pemahaman Alkitab khusus untuk para pemimpin kelompok dan umum diadakan setiap hari Kamis, pk 19.00. Persekutuan doa malam kelompok setiap hari Rabu, pk 18.30. Katekisasi setiap hari Selasa pk 19.00. Rapat BPMJ satu bulan satu kali setiap Selasa ke 3, sedangkan rapat PMJ setiap bulan sekali pada hari Jumat, pk 19.00. Jumlah anggota sidi GKI Sidoarjo : 1613 Jemaat (terdiri dari : 752 Jemaat pria dan 861 Jemaat wanita), sedang anggota Baptisan anak 443 anak (terdiri dari 205 anak laki-laki, dan 238 anak.

GKI BROMO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Bromo 2

Malang 65119
Telp. (0341) 364553, (031) 340123, (031) 325606
Fax. (0341) 344619
Email: gkibromo@gmail.com

Jalan Probolinggo 2
Malang

BAJEM
Jalan Mayjen MT. Haryono 167
Dinoyo Malang


JAM KEBAKTIAN

Jalan Bromo
Kebaktian Umum I pk.07.30
Kebaktian Umum II/Pemuda pk.10.00
Kebaktian Umum III pk.16.00
Kebaktian Umum IV pk.18.30
Kebaktian Remaja pk.07.30

Jalan Probolinggo
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.08.00

Bajem Dinoyo
Kebaktian Umum pk.07.00


PENDETA

Pdt. Didik Tridjatmiko
Ijen Nirwana C2/14
Malang
Email : didiktridjatmiko@gmail.com

Pdt. Imanuel Gunawan Prasidi
Jalan Villa Puncak Trawas H/55
Malang
Email: imanuel_gp@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

LATAR BELAKANG GEDUNG GEREJA DI JALAN BROMO 2 MALANG

Semula rumah di jalan Bromo 2 Malang adalah milik keluarga Han Tiauw An (alm.) Rumah tersebut meliputi bangunan yang sekarang menjadi GKI Bromo Malang dan bangunan disampingnya yang dipakai untuk LEPKI.

Sejak tahun 1953, rumah di jalan Bromo 2 Malang dipakai oleh GKI untuk melindunginya dari lain-lain penghuni yang berminat untuk menempatinya. Kegiatan ini resmi dengan persetujuan Kantor Agama (penjelasan alm. Ds Hwan Ting Kiong pada rapat Majelis Gereja tanggal 1 Nopember 1964).

Pada tahun 1958 rumah tersebut sudah dipakai untuk kegiatan pelayanan berupa katekesasi. Katekisasi ini dipimpin oleh Tts Tan Giok Lam (alm.) dan pernah diganti oleh Boksu Koo Twan Ching untuk sementara waktu (karena Tts Tan Giok Lam sedang sakit).

Pada waktu itu, dirumah tersebut juga sudah diberi papan bertuliskan “ Badan Pendidikan THKTKH ” (singkatan dari Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee). Pada tahun 1961 tulisan pada papan tersebut diganti dengan “Gereja Kristen Indonesia Jatim Malang“.

Pada tanggal 5 Januari 1961 Majelis Gereja memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat Pekabaran Injil dengan akan diadakannya kebaktian tiap hari Minggu pukul 17.00 dan pukul 18.00.

Kebaktian ini pertama kali diselenggarakan pada tanggal 19 Pebruari 1961 dipimpin oleh Ds Hwan Ting Kiong (Almarhum Pendeta MI Gamaliel).

GKI Jatim Malang mendapat rumah tersebut karena hibah dari alm. Han Tiauw An yang dikukuhkan dengan Akte Notaris R. Soeratman, Pasuruan pada tanggal 1 Februari 1961 (Akte Hibah dan Akte Jual Beli). Pengungkapan untuk menghibahkan rumah tersebut diutarakan lewat pembicaraan pastoral antara almarhum Han Tiauw An dengan Ds Hwan Ting Kiong (notulen rapat tanggal 15 Mei 1966 dan 5 Nopember 1967)                

Walau sudah ada akte Jual Beli , sesungguhnya masalah rumah tersebut masih rumit karena situasi pada saat itu, dan masih adanya berbagai pihak yg ingin memiliki rumah tersebut. Maka masih diperlukan banyak upaya untuk memantapkan statusnya. Untuk itu Bapak Oktavianus menghadap Komando Teritorial, gubernur Jawa Timur dan Bapak Rasjid Padmosoediro (Kepala Jawatan Agama Bagian Kristen Jawa Timur). Akhirnya didapat keputusan bahwa HOM (Huisvesting Organisatie Malang) diberikan kepada YPPII dan Eigendomrecht diberikan kepada GKI Jatim Malang. Gedung tersebut juga dipakai oleh World Vision International (atas ijin YPPII, notulen rapat tanggal 15Mei 1966) untuk menyimpan 70 ton obat-obatan, susu dan lain-lain (sebagian lagi masih akan menyusul, total 420 ton) yang akan dipergunakan untuk membantu rakyat Indonesia.

Status rumah tersebut masih tidak kunjung tuntas. Untuk itu Majelis Gereja memutuskan untuk meminta bantuan alm. Mr Budi T. dan alm. Mr Eddy T. menyelesaikan masalah tersebut (ternyata WVI dan YPPII juga memakai jasa kedua bapak tersebut dalam upaya penyelesaian masalah ini).

Akhirnya masalah tersebut dapat terselesaikan, baik mengenai status kepemilikannya secara hukum, maupun pemanfaatannya dengan WVI dan YPPII. Penyelesaian tersebut   dibuat secara tertulis dengan surat perjanjian. Dengan WVI diadakan yg namanya PERMUPAKATAN PENJELESAIAN PERSOALAN PERSIL DI JL. BROMO 2 MALANG berikut BANGUNAN DIATASNYA pada tanggal 23 Oktober 1969 yang isinya antara lain WVI mengikat diri untuk mengosongkan dan melepaskan hak-hak tinggalnya atas rumah induk jalan Bromo 2 Malang dan menyerahkan kepada GKI Jatim Malang sebagai pemilik, sedangkan GKI Jatim Malang memberikan bagian rumah samping (bangunan baru) kepada WVI atau badan lain yang ditunjuk oleh WVI untuk menjadi hak miliknya.  Dengan YPPII dibuat PERSETUDJUAN BERSAMA pada tanggal 29 Oktober 1970 yang isinya, antara lain bahwa YPPII mengakui persil jalan Bromo 2 Malang adalah milik GKI Jatim Malang dengan menyerahkan juga V B (Vergunings bewys)-nya, sedangkan GKI Jatim Malang menyerahkan bangunan samping (garasi , kamar mandi, kamar tidur berikut jalan sebelah barat selebar 2 meter) untuk dihuni.

Biaya yang dikeluarkan oleh GKI Jatim Malang untuk menyelesaikan status hukum rumah jalan Bromo 2 Malang (menggantikan biaya yang dikeluarkan oleh alm. Mr Budi T dan alm. Mr Eddy T) sebanyak 877 gram emas 24 karat. Pembayaran pertama sebanyak 543.350 gram diberikan pada tgl 6 Maret 1970. Untuk sisanya sebanyak 333.650 gram, kedua bapak tersebut minta dibayar dengan uang tunai dan dibayarkan pada tgl 15 Mei 1970 dalam rapat Majelis Gereja. Uang tunai yang dibayarkan pada waktu itu sebesar Rp. 166.825.- (1 gram emas = Rp 500.-)

Pembaharuan sertifikat Hak Guna Bangunan rumah Bromo 2 oleh Badan Pertanahan Nasional diterbitkan pada tanggal 30 Desember 1989 (HGB no 152 tahun 1989, luas tanah tercatat 2415 m2), berakhir pada tanggal 29–12–2009. Dan kini tanah tersebut sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM No. 1109 Th. 2008 dengan luas tanah 2415 m2).

 

GKI TUMAPEL



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
Jalan Tumapel 24
Malang 65111
Telp. (0341) 324983
Email: gkitumapelmalang@yahoo.com

ALAMAT KESEKRETARIATAN
Jalan Kartini 5
Malang 65111
Telp. (0341) 327155

POSJEM
Sawojajar


JAM KEBAKTIAN

Jalan Tumapel
Kebaktian Umum I pk.07.15
Kebaktian Umum II pk.09.15
Kebaktian Remaja pk.09.00

Posjem Sawojajar
Kebaktian Umum pk.17.00


PENDETA

Pdt. Agus Wijanto E.S.
Jalan Kartini 5 A
Malang


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Kedatangan seorang pendeta dari negeri Belanda bernama Ds. Hildering yang merupakan anggota dari Gereformerde Kerken in Hersteld Verland di Belanda untuk membawakan injil khusus kepada orang-orang Tionghoa di Jawa Timur, memberi peran yang penting terkait dengan terbentuknya Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur. Beliau tiba di Surabaya pada permulaan tahun 1932, setelah sebelumnya belajar Bahasa Cina di Tiongkok.

Mengingat jumlah Jemaat yang makin hari semakin bertambah banyak di kota Malang, maka Ds. Hildering berusaha mencari pendeta untuk membantu melayani di kota Malang, terutama yang mampu berbahasa Belanda dan Melayu. Akhirnya ditemukan Hwan Ting Kiong, yang kemudian dikenal dengan nama baru Maranatha Imam Gamaliel, seorang pemuda yang baru saja lulus dari sekolah Hogere Theologische School (sekarang Sekolah Tinggi Teologi) Jakarta. Hwan Ting Kiong akhirnya ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 13 Oktober 1940 oleh Ds. Hildering dalam suatu kebaktian di gereja Indische Kerk [1] dan ditempatkan di gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee–Jl. Belakang Pasar no. 5 Malang, sebagai zendeling dari Nederlandsche Hervormede Kerk.

 

Membentuk Jemaat Sendiri

Sebagai pendeta muda yang belum berpengalaman, Ds. Hwan Ting Kiong mulai melayani jemaat di tempat yang baru, dengan tidak diteguhkan lagi sebagai pendeta di gereja itu. Langkah ini adalah suatu kesalahan besar yang diambil oleh Ds. Hildering, yang akhirnya menjadikan pengalaman pahit bagi Ds. Hwan muda.

Penempatannya sebagai pendeta baru disambut dengan baik oleh jemaat yang berbahasa Melayu dan Belanda, tetapi disambut dengan sebaliknya oleh jemaat yang berbahasa Cina. Apalagi sebagian besar Majelis Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) waktu itu, terdiri dari jemaat yang berbahasa Cina, dengan ketuanya Sdr. Lioe Kit. Baru bertugas seminggu, yaitu pada hari Minggu, 20 Oktober 1940 terjadi ketidakcocokan antara Ds. Hwan Ting Kiong dengan Majelis Jemaat yang berbahasa Cina [2]. Dengan patah hati dan putus harapan, Ds. Hwan kemudian pulang ke rumahnya di Javaweg 33, sekarang bernama Jl. Nusakambangan. Bagi Ds. Hwan yang waktu itu masih muda, peristiwa ini merupakan suatu kejadian pahit dalam mengawali jabatan kependetaannya.

Dari peristiwa itu, Pdt. Hwan Ting Kiong kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membentuk jemaat sendiri tanpa golongan totok. Dengan dukungan moril dari Ny. Esther Koo dan semangat dari pemuda-pemudi, serta ijin dari Mr. E. Schultz selaku kepala sekolah, Ds. Hwan kemudian mengadakan kebaktian sendiri di ruang belakang sekolah Christelyke HCS (Petra).

 

Majelis Jemaat Yang Pertama

Dengan penuh rasa syukur, Tuhan telah menyediakan satu tempat kebaktian baru yang bisa digunakan oleh jemaat dengan penuh ketenangan. Pada tahun 1941 pengunjung gereja di Jl. Nusakambangan no.33 itu sudah mencapai kurang lebih 50-60 orang dengan mayoritas kaum muda.

Mereka kebanyakan adalah lulusan sekolah kristen yang ada di kota Malang waktu itu. Kebaktian dilangsungkan dengan 2 bahasa, yaitu Indonesia dan Belanda. Pada hari Minggu, 5 Oktober 1941, dibentuklah Majelis Gereja yang pertama khusus untuk jemaat yang berbahasa Melayu dan Belanda, yang terdiri dari 1 orang pendeta dan 4 Tua-tua, yaitu [3] :

Ketua: Pdt. Hwan Ting Kiong (MI. Gamaliel), penulis: Liem Sioe Hwat (J. Suwarto), bendahara: Liem Tjeng Ho (Th. Satriobudi), anggota: Tan Bing Tjwan (IS. Kazan),   Oei Ping Bie, dari Lawang. Majelis ini bertugas dari tahun 1941 hingga 1947/1948. Bp. Tan Bing Tjwan sebagai anggota majelis, adalah kakak kandung dari ibu “Hetty” MZ. Nugroho. Inilah Majelis Jemaat yang pertama yang secara resmi merupakan cikal bakal dari Jemaat kita sekarang ini. Tanggal 5 Oktober 1941 inilah yang ditetapkan sebagai Hari lahir GKI Tumapel

 

[1] Buku kenang-kenangan Reuni Majelis GKI Jatim Malang hal.21

[2] Tulisan tangan Ds. Hildering   sebagai laporan yang dikirim ke Belanda

[3] Tulisan tangan dari   Bp. Th. Satriobudi (Liem Tjeng Ho)

 

GKI TULUNGAGUNG



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Panglima Sudirman 29
Tulungagung 66219
Telp. (0355) 322447, 321310
Email: gki.tulungagung@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.09.30
Kebaktian Anak pk.08.00


PENDETA

Pdt. Triatmoko Adipramono
Jl. Kebraon Manis Selatan I/35,
Surabaya 60222
Email : tri_ap@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

GKI Tulungagung, dirintis oleh Keluarga Kwee Ing Han (Johanes Karsono) anggota sidi GKI Jatim Malang ke Tulungagung. Sehubungan dengan kepindahan keluarga Kwee Ing Han tersebut, Majelis GKI Jatim Malang, menugaskan Pdt. Hwan Ting Kiong, untuk memohon bantuan pelayanan kepada Majelis GKI Jatim Kediri agar dapat melayani keluarga tersebut, sebab jarak Kediri-Tulungagung lebih dekat dibandingkan Malang-Tulungagung.

Berdasarkan keputusan rapat Majelis GKI Jatim Kediri, maka dibuka Pos PI di Tulungagung dan kebaktian pertama diadakan pada tanggal 8 Agustus 1965 dipimpin oleh Pdt. Johanes Obadja di rumah Keluarga Kwee Ing Han (Johanes Karsono). Pelayanan di Pos PI Tulungagung terus berkembang sehingga pada akhir Oktober 1966, Majelis GKI Jatim Kediri meminta Bpk. Soetjipto agar membantu pelayanan di Tulungagung. Dan akhirnya Majelis GKI Jatim Kediri pada tanggal 28 Oktober 1969 menahbiskan Bpk. Soetjipto menjadi pendeta GKI Kediri dengan tugas pelayanan di Pos PI Tulungagung.

Pelayanan di Pos PI Tulungagung terus berkembang dan perkembangannya bukan hanya di Tulungagung, tetapi juga berkembang di Blitar, sehingga pada tanggal 3 November 1969 dibukalah Pos PI di Blitar, di Jl. Wijayakusuma 40 Blitar. Selama lebih kurang lima tahun.

Perkembangan Pos PI Tulungagung cukup menggembirakan sehingga sudah saatnya untuk didewasakan.

Pendewasaan GKI Tulungagung dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 1970

Pelayanan GKI Tulungagung terus berkembang diberbagai bidang antara lain, di bidang - bidang :            

  1. Pelayanan sosial melalui Yayasan Gloria (sekarang sudah tutup)
  2. Pelayanan di bidang pendidikan melalui Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Kristen Petra yang mengelola SMP (untuk sementara tutup) SD, TK dan Play Group .
  3. Pengelolaan Tanah Makam.

 

Pendeta yang pernah melayani di GKI Tulungagung :

  1. Pdt. Soetjipto
  2. Pdt. Samuel Santosa
  3. Pdt. Budianto Puspohadi
  4. Pdt. Untung Irwanto
  5. Pdt. Edy Sumartono
  6. Pdt. Triatmoko Adipramono (hingga sekarang)

 

GKI DIPONEGORO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Diponegoro 146
Surabaya 60264
Telp. (031) 5676352,
Fax. (031) 5611271


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.08.00
Kebaktian Umum III pk.10.00
Kebaktian Umum IV pk.17.30
Kebaktian Remaja pk.08.00
Kebaktian Pemuda pk.10.00


PENDETA

Pdt. Claudia S. Kawengian
Taman Nginden Intan C 3/ 11
Surabaya 60118
Email: claud_sk@yahoo.com

Pdt. Yosafat Kristono
Jalan Kencana Sari Timur E/17
Surabaya 60225
Email: prudenceselina@yahoo.com

Calon Pendeta:
Pnt. Lydia Laurina Lissana Pristy


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

SEKILAS SEJARAH DAN PEMBANGUNAN JEMAAT

Pada awalnya, kebaktian Minggu di daerah Diponegoro meminjam gedung gereja Inggris yang terletak di jalan Diponegoro 24, Surabaya (sekarang GKJW Darmo). Kebaktian pertama dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 1958 pk. 07.00 dan mulai tanggal 1 Nopember 1959 ditambah dengan kebaktian pk. 17.00. Pemakaian bersama gedung gereja Inggris ini berlangsung sampai tanggal 10 Juni 1973. Pendeta yang melayani di GKI daerah Diponegoro sebelum pengembang-biakan adalah Ds. Han Bing Kong dan Ds. Oei Liang Bie.

Pada tanggal 14 Juli 1963 dimulai kebaktian di pos pelayanan baru di jalan Pucang II/31 Surabaya yang kemudian berkembang dengan baik, sehingga pada tanggal 1 Januari 1966 diletakkan batu pertama untuk membangun gedung gereja di jalan Ngagel Jaya Utara No. 81 Surabaya dan pada tanggal 13 Desember 1966 dilaksanakan kebaktian peresmian gedung gereja baru tersebut. Pada bulan Februari 1969, pelayanan di daerah Pucang/Ngagel dilepas dari daerah Diponegoro dan menjadi daerah atau wilayah pelayanan tersendiri yang disebut daerah Ngagel.

Selain itu GKI daerah Diponegoro juga membuka cabang di daerah :

  • Sidoarjo, Kebaktian Pembukaan cabang Sidoarjo di jalan Gajahmada 21, Sidoarjo dilakukan pada tanggal 15 Mei 1966 dan dilayani oleh Ds. Han Bing Kong dan Kebaktian Peresmian Gedung Gereja GKI Sidoarjo di jalan Trunojoyo 39, Sidoarjo pada tanggal 3 Juni 1968
  • "Sepanjang", peresmian Kebaktian Minggu di "Sepanjang" ini pada tanggal 19 Juli 1971.

Bertepatan dengan hari Pentakosta tanggal 22 Mei 1972 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung gereja di jalan Diponegoro 146 Surabaya dan bertepatan dengan hari Pentakosta tanggal 11 Juni 1973 dilakukan Kebaktian Peresmian Gedung Gereja yang baru dan dipimpin oleh Pdt. Yahya Kumala. Kebaktian Minggu yang pertama dilakukan pada tanggal 17 Juni 1973 dengan waktu kebaktian pk. 06.00 dan pk. 16.30. Pada tanggal 3 April 1974, dilaksanakan Kebaktian Pengembangbiakan Gereja dan dibuatkan Akta Pengembangbiakan yang ditetapkan oleh Majelis GKI Surabaya dari 5 (lima) daerah/wilayah yang ada, menjadi gereja yang berdiri sendiri. GKI Jatim Diponegoro, dilayani oleh Pdt. Yahya Kumala dan Tua-tua Tugas Khusus Sientesia Handayani. Salah satu keputusan pada waktu pengembangbiakan itu adalah pelayanan di cabang Sidoarjo, dipercayakan pada GKI Jatim Diponegoro.

Melalui kerja Komisi Pekabaran Injil, GKI Jatim Diponegoro mengembangkan sayapnya dengan membuka pos-pos PI sebagai berikut :

  • Pos PI/Kebaktian Minggu di Rumah Usiawan Panti Surya Jemur Andayani Surabaya, Kebaktian Pembukaan pada tanggal 22 September 1974. Pada tanggal 17 Juli 1988 diletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja di jalan Jemursari Selatan, Surabaya dan 31 Mei 1990 diadakan Ibadah Syukur Peresmian Selesainya Pembangunan Gedung Gereja. 8 Oktober 1990,
  • Pos PI di Probolinggo bekerja sama dengan GKI Pasuruan, Kebaktian Pembukaan pada tanggal 9 Februari 1979 ;
  • Pos PI di Porong, Kebaktian Pembukaan pada tanggal 19 Juli 1981 ;
  • Pos PI di Pacet bekerja sama dengan GKI Mojokerto, Kebaktian Pembukaan pada tanggal 29 Maret 1982 dan tanggal 22 Juni 1984 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja di Pos PI Pacet. Pada tanggal 22 Maret 1985 dilangsungkan Ibadah Syukur Selesainya Pembangunan Gedung Gereja di pos Pacet.
  • Pos PI/Kebaktian Minggu di YPAK Lydia jalan Gayungsari Surabaya, Kebaktian Pembukaan pada tanggal 13 Nopember 1983. Pada tanggal 17 September 1995 diletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja di cabang Gayungsari di jalan Gayungsari Barat Surabaya, namun karena belum ada dukungan dari masyarakat di sekitar lokasi gedung gereja, maka hingga saat ini pembangunan tersebut terhenti.
  • Pos PI/Kebaktian Minggu di Darmo Permai Surabaya, Kebaktian Pembukaan pada bulan Januari 1985. Pada tanggal 19 Nopember 1992 diletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja cabang Darmo Permai di jalan Raya Pradah Indah, Surabaya dan tanggal 9 Nopember 1993 dilangsungkan Ibadah Syukur Peresmian Selesainya Pembangunan Gedung Gereja.

Cabang-cabang GKI Diponegoro yang telah didewasakan, yaitu :

  1. GKI Jatim Sidoarjo, kebaktian pendewasaan pada 19 Mei 1977 dipimpin oleh Pdt. Yahya Kumala.
  2. GKI Jatim "Sepanjang", kebaktian pendewasaan pada 8 Maret 1990 dipimpin oleh Pdt. Benyamin Gunawan.
  3. GKI Jatim Jemur Andayani, kebaktian pendewasaan pada 8 Oktober 1990 dipimpin oleh Pdt. Benyamin Gunawan
  4. GKI Jatim Darmo Permai, kebaktian pendewasaan pada 9 Nopember 1994 dipimpin oleh Pdt. Benyamin Gunawan.

Seiring dengan pertumbuhan GKI Diponegoro, maka Tuhan menempatkan hamba-hambanya untuk melayani jemaatNya, yaitu :

  1. Pdt. Yahya Kumala melayani sejak 17 Juni 1973 - 14 Februari 1990.
  2. Pdt. Agus Susanto melayani sejak 7 Juli 1981 – awal 1986
  3. Sdr. Triatmoko Adipramono diteguhkan sebagai Tua-tua di GKI Jatim Diponegoro cabang "Sepanjang" tanggal 1 Nopember 1987.
  4. Pdt. Benyamin Gunawan melayani sejak 6 Agustus 1986 dan dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 13 Nopember 2007.
  5. Pdt. Sientesia Sriyono setelah 12 tahun melayani sebagai Tua-tua Tugas Khususditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 23 Maret 1987 hingga memasuki emiritasi pada tanggal 2 April 2001.
  6. Pdt. Robert Setio diteguhkan sebagai Tua-Tua Tugas Khusus pada tanggal 9 April 1989 dan ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 12 Oktober 1994. Pada tanggal 3 Mei 1999 dilaksanakan Kebaktian Pengutusan sebagai pengajar/dosen di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
  7. Sdri. Kristiani D. Wardhani melayani sebagai pembina Komisi Pemuda Remaja pada tahun 1989 dan pada tahun 1992 diteguhkan sebagai Penatua Tugas Khusus melayani hingga tahun 1996.
  8. Pdt. Claudia S. Kawengian diteguhkan sebagai Penatua Tugas Khusus GKI Diponegoro tanggal 1 Nopember 1998 dan ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 17 Juli 2000 dan melayani hingga kini.
  9. Pdt. Josafat Kristono diteguhkan sebagai pendeta GKI Diponegoro tanggal 10 Maret 2003 dan melayani hingga kini.
  10. Sdri. Debora Agustina Nainggolan melayani sebagai pembina bagi Komisi Remaja dan Komisi Anak sejak tanggal 1 Mei 2009
  11. Sdr. Charles Pirnandos Sihombing sebagai calon pendeta Bakal Jemaat Gayungsari memasuki Tahap Orientasi dan diteguhkan sebagai Penatua pada tanggal 3 April 2011.

 

 

Soli Deo Glori.

Dikutip dari buku ”HUT XV GKI Jatim Jl. Diponegoro 146, Surabaya” , “Tri Dasawarsa GKI Diponegoro", dan "HUT 77 tahun GKI SW Jatim".

 

GKI DARMO PERMAI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Raya Pradah Indah no.9
Surabaya 60216
Telp. (031) 7321336,
Fax. (031) 7327932
Email: gkidamai@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Remaja pk.07.00
Kebaktian Pemuda pk.09.00


PENDETA

Pdt. Samuel Christiono
Wisata Bukit Mas F2/I
Wiyung – Surabaya
Email: sam-eny@centrin.net.id
samuel.christiono@gmail.com

Pdt. Andreas Catur Wismantono
Email:  dre_wisman@yahoo.co.id
caturwismantono@yahoo.co.id

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Dengan berkembangnya daerah pemukiman baru, maka ladang Tuhan juga ikut berkembang dan makin meluas, demikian pula dengan munculnya daerah Darmo Permai dan sekitarnya, maka ada gagasan untuk mengadakan Kebaktian Anak, karena anak-anak yang masih kecil ini sangat memerlukan pembinaan rohani sedini mungkin. Mereka haus akan firman Tuhan, mereka yang biasanya setiap hari minggu dapat pergi ke Kebaktian Anak yang dekat dengan lokasi rumahnya, sekarang dengan pindah tempat tinggalnya, tempat Kebaktian Anak menjadi terlalu jauh, dan tidak terjangkau bagi mereka yang tidak mempunyai kendaraan pribadi; apalagi pada waktu itu kendaraan umum belum banyak yang masuk ke daerah pemukiman baru.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka setelah diadakan pembicaraan dengan Ketua Komisi Anak pusat Diponegoro, pembukaan Komisi Anak Pos Darmo Permai kemudian disetujui. Tuhan yang penuh penyayang itu tidak tinggal diam, Dia telah menyediakan tempat Kebktian Anak di SD Tanjungsari jalan Darmo Permai Utara I. Pada tanggal 9 November 1980, Kebaktian Anak GKI Diponegoro pos Darmo Permai dengan resmi dibuka oleh Ketua Komisi Anak Pusat GKI Diponegoro dengan pengunjung 25 anak dan seorang pengasuh.

Makin hari Komisi Anak makin berkembang dengan corak ragam umur anak, sehingga mereka sudah tidak sesuai lagi untuk disatukan dalam satu kelas. Jumlah anak semakin membengkak, yang semula 25 anak menjadi 75 anak; kelas yang hanya satu, sudah tidak menampung lebih banyak lagi, dan seorang pengasuh juga sudah tidak mampu bekerja seorang diri saja.

Sekali lagi, Tuhan tidak tinggal diam dan selalu ikut campur tangan, kalau anak-anakNya sudah mulai menghadap jalan buntu. Dikirimnya 3 orang pengasuh yang biasanya jadi pendengar karena mengantar anak-anaknya mulai tergerak hatinya untuk ikut membantu KA. Kemudian, anak-anak tersebut dikelompokan dalam tiga kelas yang agak sesuai dengan usia mereka.

Kelas Benyamin terdiri dari pra sekolah dan anak TK.

Kelas Yusuf terdiri dari murid kelas I s/d kelas III.

Kelas Ruben terdiri dari murid kelas IV s/d kelas VI.

Pada tahun 1983, Komisi Anak mengalami problem lagi, karena anak-anak yang telah lulus dari SD dan yang telah duduk dibangku SMP merasa terlalu jauh kalau ke Kebaktian Remaja Diponegoro, dan mereka merasa malu kalau pergi ke Kebaktian Anak. Maka tercetus pula keinginan untuk mengadakan Kebaktian Remaja.

Kemudian usul ini ditampung oleh Majelis Gereja, bahkan diusulkan untuk sekaligus digabung dengan Kebaktian Umum, karena banyak warga yang merindukan pergi ke Kebaktian, tetapi tidak memiliki kendaraan sendiri untuk pergi ke Gereja Diponegoro. Maka pada tanggal 8 Januari 1984, Kebaktian Umum Pos Darmo Permai diawali dirumah seorang anggota, yaitu jalan Darmo Permai Utara I / 48 dengan penunjung 25 Orang. Demikian pula halnya terjadi dengan Kebaktian Umum, anggota semakin berkembang dan rumah jalan Darmo Permai Utara I / 48 sudah tidak mampu menumpang lagi karena jumlah pengunjung semakin membengkak, rata-rata 50 Orang.

Dengan dibangunnya gedung Sekolah Dasar Kristen Petra X di jalan Raya Darmo Harapan, dan atas ketulusan serta bantuan dari Dewan Pengurus PPPK Petra, maka kami boleh mengadakan Kebaktian Anak dan Kebaktian Umum di SDK Petra X di Jalan Darmo Harapan.

Pada tanggal 14 Oktober 1984, kami boyong Komisi Anak yang ada di SD Tanjungsari dan Kebaktian Umum yang ada di Jl. Darmo Permai Utara I / 48, ke SDK Petra 10 di Jl. Raya Darmo Harapan. Kebaktian Anak semakin berkembang dan sampai saat laporan sejarah singat ini dibuat, anggotanya telah mencapai 250 anak, dan pembagian kelas lebih diklasifikasikan menurut kelas dan usia anak, terbagi menjadi 8 kelas, dengan pengasuh 18 orang guru.

Kebaktian Komisi Anak dimulai pk. 07.30 WIB sampai pk. 08.30 WIB. Kebaktian Pemuda/Remaja diadakan tiap hari Minggu, pk. 07.30 WIB sampai pk. 08.30 dan mulai dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 2 Agustus 1987 dengan pengunjung rata-rata ± 50 anak. Kebaktian Umum tiap hari Minggu pagi pk. 09.00 WIB sampai pk. 10.00 WIB dengan pengunjung ± 125 Orang.

Pada bulan Juli 1988, Kebktian Umum dan Kebaktian Pemuda/Remaja dipindahkan ke gedung SMPK Petra 1 di Jl. Mayjen Sungkono Kav. 808 Surabaya. Kami seluruh jemaat Darmo Permai sangat merindukan sebuah Gereja, tempat beribadah yang permanen dan Tuhan telah mendengarkan dan mengabulkan doa anak-anakNya, dengan tersedianya sebidang tanah di Jl. Pradah Indah, yang akan dibangun menjadi sebuah Gereja. Tuhan yang Maha Kaya itu telah menyediakan dana melalui para darmawan, partisipan, simpatisan dimanapun mereka berada. Pembangunan Gereja dimulai dan ditandai peletakan batu pertama oleh Pendeta Benyamin gunawan, Sth, pada tanggal 19 Desember 1991.

Pada akhirnya, pada tanggal 9 Nopember 1993 kami dapat menikmati Gedung Gereja yang baru, walaupun Gedung tersebut belum sempurna pembangunannya. Dan selanjutnya setiap Kebktian Minggu dan kegiatan-kegiatan Gereja laksanakan di Gedung Gereja tersebut.Puji Syukur pada Tuhan, karena jemaat di Darmo Permai semakin bertambah. Di setiap Kebktian Minggu jemaat yang hadir ± 200 orang. Dan sejak tanggal 3 April 1994, diadakan Kebktian Umum II, pk. 17.30 WIB sampai pk. 18.30 WIB.

 

GKI KEBONAGUNG



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Raya 5 Kebonagung
Malang 65161

GRAHA EKLESIA
Jalan Raya 15 Kebonagung
Malang 65161
Telp. 081231218748
Email: swjwaji209@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum  pk.07.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.09.00


PENDETA

Pdt. Novarita
Jalan Raya 15
Kebonagung
Email : ita_non@yahoo.com


 

 

Location/Map



 

GKI BATU



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Sudarno 16
Batu 65311
Telp. (0341) 593878
Email : gkibatu16@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum  pk.07.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.09.00


PENDETA

Pdt. Dwi Santoso
Jalan Sudarno 18
Batu 65311
Email: dwi_sanctus@yahoo.co.id


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

SEJARAH PEMBANGUNAN DAN PERKEMBANGANYA

Semuanya bermula dari peristiwa sakitnya Evangeline, anak kedua Bapak Jusuf Kristiaman, pada usia 5 tahun pada bulan September 1965.  Penyakit yang dideritanya misterius, dan dokter pun tidak dapat menemukan penyebabnya.

Menjelang akhir Desember 1965, Ibu Dorkas Kristiaman memohon belas kasih dan kemurahan Tuhan atas anaknya. Ia berjanji bersedia melakukan apa saja asal anaknya dapat sembuh. Ternyata Tuhan menjawab doanya, berangsur-angsur Eva pulih.

Sebagai rasa syukur, keluarga ini selaku anggota GKI Malang menemui Pdt. Maranatha Gamaliel (Alm.) untuk menceritakan pengalaman mereka dan menawarkan diri untuk pelayanan di gereja tempat mereka berjemaat (GKI Malang). Tapi bukannya menerima tawaran ini, Pdt. Gamaliel justru mengarahkan mereka untuk merintis Pos PI GKI Malang di Batu.

Pada tahun 1966, ada 3 keluarga Jemaat GKI Malang yang tinggal di Batu yaitu: Kel. Kristiaman, Kel. Tjioe Hong Liem, dan Kel. Boentaran. Lewat sebuah pertemuan, ketiganya mempersiapkan  kelahiran  Pos  PI  ini.

Pada tanggal 25 September 1966 kebaktian perdana diadakan di gedung pertemuan “Warga Bakti” Batu, yang dilayani oleh Pdt. Maranatha  Gamaliel (Alm) yang lebih dikenal sebagai Dominee Hwan Ting Kiong. 

Minggu-minggu berikutnya selama hampir 2 tahun POS PI mengadakan kebaktian di Balai Pengobatan Kristen “Elim”, milik seorang dokter Pudyo, spesialis THT.  Firman Tuhan dilayani oleh pendeta-pendeta dari GKI Malang dan juga hamba-hamba Tuhan dari Institut Injili Indonesia (sekarang STT I-3).  Keluarga Soelasno adalah keluarga pertama dari GKE Palangkaraya yang bergabung dengan POS PI GKI di Batu.  Desember 1968, Balai Pengobatan Kristen dijual, kebaktian dipindah di sebuah garasi, Jl. Abdul Rachman 8. Batu.

Setahun kemudian, Bp. Kho Pik Liang menghibahkan sebidang tanah di Jl. Moch Sahar kepada POS PI GKI Malang di Batu. Rencana untuk membangun gedung gereja di tanah hibahan ini tidak mungkin dilaksanakan mengingat situasi dan kondisi saat itu. Maret 1972, ada 2 rumah berbelakangan dijual pada saat yang sama & dibeli dengan harga Rp. 395.600,-

Kedua rumah ini disatukan, terbentuklah sebuah ruangan yang lumayan besar untuk tempat kebaktian. Pembongkaran dan pembangunan dimulai 6 Juli 1972 dan pada tgl 11 November 1972 tempat kebaktian baru diresmikan.  Status POS PI ditingkatkan menjadi GKI Malang cabang Batu. Keadaan gereja masih sangat sederhana, kegiatan sore seperti Pemahaman Alkitab dilakukan di bawah sinar Petromax.  Baru pada tanggal 18 April 1975 listrik masuk gereja. 

Dengan bertambahnya anggota, Panitia GKI cabang Batu merasakan perlu adanya seorang gembala Jemaat agar pelayanan lebih baik.  Lewat Sinode dan hamba-hamba Tuhan pilihan Panitia jatuh pada Sdr. Josafat Kristono, S.Th.  Pada bulan Juli 1992, beliau memulai tugas pelayanannya dan kemudian diangkat menjadi Penatua Tugas Khusus (PTK) di GKI cabang Batu.

Pada saat itu, gedung gereja yang telah ditempati sejak 1972 mulai rusak.  Renovasi tahap I dimulai bulan Mei 1995 dengan bantuan doa dan dana dari berbagai pihak dan selesai dibangun pada 23 Nopember 1995.  Pada 27 Nopember 1995 gedung gereja diresmikan dan status GKI Bromo cabang Batu diubah menjadi GKI Batu.  Sehingga tanggal 27 Nopember ditetapkan sebagai Hari Jadi GKI Batu.

Dua tahun kemudian, tepatnya 24 Nopember 1997 dilaksanakan Kebaktian Pentahbisan atas diri Ptk. Josafat Kristono,S.Th. sebagai Pendeta Jemaat GKI Batu yang pertama.  Pdt. Josafat Kristono,S.Th. melayani di GKI Batu sampai bulan Pebruari 2003 oleh karena pindah ke GKI Diponegoro, Surabaya. 

Pembangunan gereja tahap II yaitu ruang Konsistori dan ruang Sekolah Minggu dilaksanakan bulan Juli 2002 sampai Februari 2003.  Atas berkat Tuhan, 2 rumah di sebelah barat gereja juga dapat dibeli GKI Batu, walau meminjam dulu dana bergulir dari Sinode Jatim sebesar Rp. 150.000.000,-. 

Setelah kepindahan Pdt. Josafat Kristono, S.Th., BPMK GKI Klasis Madiun mengutus Pdt. Andreas Agus Susanto, S.Th. dari GKI Tumapel menjadi Pendeta Konsulen di GKI Batu (Februari – Juli 2003), dilanjutkan Pdt. Trees Adinata, S.Th dari GKI Bromo sampai  masa emiritasinya 25 April 2010.

Bulan Mei 2009, rumah depan samping gereja mulai direnovasi menjadi Pastori untuk menyediakan rumah yang layak bagi pendeta dan keluarganya dan selesai pada Februari 2010.  Peresmian Pastori dilaksanakan pada tgl. 14 Maret 2010.

Doa dan harapan Jemaat GKI Batu terus dipanjatkan agar Tuhan mengirimkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh untuk menggembalakan Jemaat GKI Batu.  Dan saat ini telah ada Pendeta yang melayani di jemaat GKI Batu yaitu Pdt. Dwi Santoso, S.Th.

Bagaimanapun melihat perjalanan Gereja GKI Batu, dari awal POS PI GKI Malang di Batu, GKI Malang cabang Batu hingga menjadi GKI Batu sekarang ini, tiada kata yang bisa kita ucapkan selain bersyukur, berterimakasih pada TUHAN Sang pemilik gereja atas pemeliharaan, perlindungan, penyertaan dan segala berkat-berkat-Nya.  Ini semua ada, bukan karena kita, tapi karena anugerah-Nya yang besar pada kita umat pilihan-Nya. Amin.

 

GKI KUTISARI INDAH



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Raya Kutisari Indah 139
Surabaya 60291
Telp. (031) 8494147,
Fax. (031) 8419221
Email: gkikutisari@gmail.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Remaja pk.07.00
Kebaktian Pemuda pk.09.00


PENDETA

Pdt. Setyahadi
Taman Kutisari Indah Selatan 27,
Surabaya 60291
Email: hadi_1567@yahoo.com

 


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

POS PEKABARAN INJIL KUTISARI

Pada bulan Mei tahun 1989, keluarga K. R. Budiman yang rencananya pindah dari Surabaya ke Batam mengurungkan niatnya dan bertepatan dengan itu, Pdt. Djoko Sugiarto baru saja mendapatkan kredit sebuah rumah di Jl. Kutisari Indah Utara X/88. Sebenarnya rumah itu memang direncanakan untuk dijadikan pos PI, tapi sementara itu ditempati dulu oleh keluarga bapak K. R. Budiman. Setelah tinggal di Kutisari, Keluarga K. R. Budiman tidak keberatan jika nantinya dijadikan pos PI.

Bersamaan dengan itu pengurus sektor XVII GKI Residen Sudirman yaitu ibu Sien Toniharjo, bapak Robby Tandio dan ibu Diah sedang mencari rumah untuk dijadikan Pos PI di daerah Kutisari. Bertemulah mereka dengan keluarga K. R. Budiman dan membicarakan niatnya. Niat itu disampaikan keluarga K. R. Budiman kepada keluarga Pdt. Djoko Sugiarto.

Bak gayung bersambut, maka rumah itu diijinkan untuk dijadikan pos PI GKI Residen Sudirman. Pada tanggal 6 Agustus 1989 diadakan kebaktian pertama dan peresmian pos PI Kutisari dilayani oleh Pdt. Soetjipto.

Pada tahun 1993 perkembangan anggota sidi GKI yang tinggal di sekitar GKI Residen Sudirman cabang Kutisari (sekarang disebut bakal jemaat atau bajem) sudah lebih dari 25 orang. Jumlah tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendirikan gedung gereja. Sejak itu dimulailah pergumulan untuk pencarian tanah sampai Tuhan menunjukkan sebidang tanah di jalan Raya Kutisari Indah 139, Surabaya.

Selanjutnya dibentuk panitia yang aktivitas pertamanya adalah menggalang dana.  Dengan pimpinan Tuhan terkumpullah dana untuk membeli tanah tersebut.

 

SEJARAH PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA

Dengan kerja keras panitia pembangunan dan campur Tuhan maka semua pengurusan ijin Prinsip berjalan lancar dan selesai tanggal 11 Desember 1993.

Pembangunan gedung gereja dimulai dengan diadakannya acara peletakan batu pertama oleh bapak Sunaryo dan bapak Takim Andriono.

Acara kebaktian peletakan batu pertama di pimpin oleh Pdt. Soetjipto dan dihadiri oleh jemaat mula-mula GKI Kutisari Indah yang saat itu adalah jemaat GKI Residen Sudirman Bajem Kutisari.

Selama gedung gereja dibangun, segala aktifitas gerejawi di pos PI tetap berjalan seperti biasa. Berkat kerja keras panitia pembangunan gedung gereja, akhirnya gedung gereja selesai dibangun dalam waktu 2 tahun. Tepatnya pada tanggal 10 Juni 1995 merupakan hari bersejarah bagi GKI Residen Sudirman Bajem Kutisari dengan diresmikannya tempat ibadah yang telah selesai dibangun.

 

PENDEWASAAN GEREJA

Jemaat terus berkembang dengan kehadiran ± 200 orang jemaat dewasa di mana ± 120 orang adalah anggota sidi dan lainnya merupakan simpatisan. Selain kebaktian umum hari Minggu pukul 07.00, juga ada latihan paduan suara, vocal group, dan persekutuan doa.Perkembangan pesat ini akhirnya menghantar GKI Residen Sudirman cabang Kutisari Indah  didewasakan menjadi GKI Kutisari Indah pada tanggal 9 November 1998.

Bersamaan dengan pendewasaan gereja, diteguhkan pula penatua pertama GKI Kutisari Indah, yang dilayani Pdt. Timotius Wibowo pada tanggal 9 November 1998.

 

PENEGUHAN PENDETA SETYAHADI, S.TH

Senin, 10 September 2001 adalah salah satu momen penting dalam kehidupan jemaat GKI Kutisari Indah.

Jemaat yang saat itu berusia 3 tahun mendapat anugerah dari Tuhan karena seorang pendeta telah hadir untuk melayani di GKI Kutisari Indah. Kebaktian Peneguhan yang bertema ”Perjalanan Panggilan” manjadi puncak jawaban dalam diri Pdt. Setyahadi yang bergumul untuk melayani di GKI Kutisari Indah.

 

GKI GAYUNGSARI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA
Jalan Gayungsari V/ 19
Surabaya
Telp. (031) 8280240

ALAMAT KESEKRETARIATAN
Jalan Gayungsari Barat III/54
Surabaya
Telp. (031) 8280240
Email: gkigayungsari@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.10.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.07.30


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Leonard Andrew Immanuel
Jl. Jend.Sudirman VI/ 26,
Sidoarjo
Email : leonard.anim@yahoo.com

Calon Pendeta:
Pnt. Boy Simon Buster

 


 

 

Location/Map



 

 

GKI BANYUWANGI



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Letjen Sutoyo Siswomihardjo 15
Banyuwangi 68416
Telp/Fax. (0333) 423733
Email: gki_banyuwangi@yahoo.com


JAM KEBAKTIAN
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.17.30
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.08.30


PENDETA

Pdt. Diah Noorani Kristanti
Jalan Letjen Sutoyo Siswomihardjo 19
Banyuwangi
Email : diahnk@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Sejarah dan Pertumbuhannya

Tanggal 14 April 1968 kebaktian pertama berawal di rumah bapak/ibu Tjan Kian Paa (Tjanda Kian Pangestu), jl. Penganjuran II/88 A/I. Banyuwangi, yang dipimpin oleh bapak Tjan Kian Paa sendiri.

Tanggal 19 Mei 1968, Banyuwangi dinyatakan sebagai POS PI dari GKI Jatim Bondowoso. Peninjauan tempat ibadah dan kebaktian, dilakukan oleh Majelis GKI Jatim Bondowoso dipimpin oleh Pdt. J Lintang.

Tanggal 16 Juni 1968, minggu ke 5, kebaktian di jl. KH Wahid Hasyim 56 Banyuwangi, di rumah keluarga Siok Gwan An, anggota GIPB Immanuel Banyuwangi. Karena ada keberatan dari warga sekitar jl. Penganjuran, maka, Pos PI diperkenankan meminjam gedung gereja GPIB Immanuel Banyuwangi untuk tempat ibadah pada sore hari.

Tanggal 23 Juni 1968, pada minggu ke 6, merupakan awal penggunaan gedung gereja GPIB Immanuel jl. Dr. Soetomo Banyuwangi sampai dengan tgl. 30 Maret 1975.

Tanggal 22 Juni 1971 pos PI Banyuwangi menjadi cabang GKI Jatim Jember, sebagai GKI Jatim Banyuwangi Cabang Jember. (Akta XXII, 1971 di Kediri).

Tanggal 30 Maret 1975 dengan pimpinan Tuhan, jemaat memperoleh ijin dari yang berwenang untuk menggunakan ruang depan rumah seluas 5 x 8 m² di jl. A Yani 46 Banyuwangi, sebagai tempat ibadah baru hingga tgl. 20 Februari 1983. Dalam tempat ibadah yang sempit, jemaat berkembang dan mendambakan sebuah rumah ibadah sendiri bagi Tuhan dan pelayanan pekerjaan Tuhan.

Tanggal 6 Desember 1983 peletakan batu pertama GKI Jatim Banyuwangi Cabang Jember di atas tanah seluas 800m² terdiri dari rumah Ibadah yang dilengkapi dengan ruang pertemuan dan rumah koster di jl. Mayor Supono Jiwotaruno 17 A Banyuwangi yang sekarang menjadi jl. Letjen Sutoyo Siswomiharjo 15-17. Peletakan batu pertama oleh bpk. Tjanda Kian Pangestu, ibadah dipimpin oleh Pdt. Maria Gamaliel yang sejak tgl. 14 Agustus 1977 menjalani masa capen. Sehingga pada tgl. 25 Juni 1978 diteguhkan menjadi Tua-tua Tugas Khusus GKI Jember yang diperbantukan di jemaat GKI Jatim Banyuwangi Cabang Jember.

Tanggal 27 Februari 1983 penahbisan Gedung Gereja GKI Jatim Jember Cabang Banyuwangi oleh Bupati KDH Tingkat II Banyuwangi bpk. Susilo Suharto,SH. Dengan dilandasi firman Tuhan dari II Tawarikh 7:12.

Pada bulan Agustus 1983 pemugaran sederhana rumah di Jln A Yani 46 Banyuwangi, diatas tanah seluas 450 m2 sebagai rumah Pastori Gereja.

Tanggal 26 September 1984, Pdt. Maria Gamaliel berakhir masa tugasnya sebagai Pendeta Tugas Khusus dan menjadi Pendeta Konsulen di GKI Banyuwangi

Bulan Juli – November 1982 GKI Banyuwangi memanggil bpk. Simon Njoo Ik Bian untuk menjalani masa perkenalan sampai dengan Februari 1983 dan diteguhkan menjadi Penatua Tugas Khusus di GKI jatim Jember Cabang Banyuwangi.

Selama tahun berjalan, Pdt. Wiede Benaya (GKI Bondowoso) ditunjuk sebagai pendeta konsulen.

Pada tanggal 30 Oktober 1985 Pdt. Simon Njoo Ik Bian (sekarang Simon Filantropha) ditahbiskan sebagai pendeta GKI Jatim Banyuwangi sampai th. 1989 beliau pindah ke GKI Ngagel Surabaya.

Pada tgl. 1 September 1992 GKI Banyuwangi memanggil bpk. Setyahadi untuk menjalani masa perkenalan, dan ditahbiskan sebagai pendeta GKI Banyuwangi pada tgl. 26 September 1994 sampai dengan th. 2001.

Pada tahun 2002, GKI Banyuwangi memanggil Ibu Esther Yunike untuk menjalani masa perkenalan, namun sangat disayangkan beliau akhirnya mengundurkan diri pada th.2004.

Pada tahun tersebut GKI Banyuwangi mendapat tawaran calon, oleh Pdt. Simon Filantropha yaitu dalam diri ibu Diah Nooraini Kristanti yang akhirnya ditahbiskan sebagai pendeta dengan basis pelayanan di Jemaat GKI Banyuwangi sampai saat ini.

 

Adapun hamba-hamba Tuhan yang telah mempersembahkan hidup dan pengabdian dalam Pelayanan dan Pembinaan Jemaat, menempanya terus sampai kepada Pendewasaan Jemaat, Kekasih Tuhan dalam diri :

1. Alm. Tjanda Kian Pangestu (Tjan Kian Paa) ( 1968 – 1984 )
2. Alm. Pdt. T.J. Lintang ( 1968 – 1974 )
3. Alm. Pdt. MAM Sasabone  ( 1669 – 1979 )
4. Ibu Tina Setyawati, S.Th  ( 1973 – 1975 )
5. Pdt. Martha Inawati Tioso, S.Th   ( 1976 – 1977 )
6. Pdt. Maria Gamaliel, S.Th   ( 1977 – 1984 )
7. Pdt. Simon Filantropha. MST  ( 1982 – 1989 )
8. Pdt. Setyahadi, STh   ( 1992 – 2001 )
9. Esther Yunike Kristantri, S.Si  ( 2002 – 2004 )
10. Pdt. Diah Nooraini K, S.Si ( 2004 - Sekarang)

 

GKI SULUNG



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Sulung Sekolahan 2-2A
Surabaya 60174
Telp. (031) 3533836, 3539105
Fax. (031) 3534319
Email: kantor.gkisulung@gmail.com

BAKAL JEMAAT:
Jalan Demak Jaya II/ 3-5
Surabaya
Telp. (031) 5218627


JAM KEBAKTIAN

Jalan Sulung
Kebaktian Umum I pk.06.30
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Umum III pk.17.00
Kebaktian Anak pk.06.30
pk.09.00 & pk.17.00
Kebaktian Pemuda pk.09.00
Kebaktian Remaja pk.09.00

Jalan Demak
Kebaktian Umum  pk.07.00
Kebaktian Anak pk.08.00
Kebaktian Pemuda-Remaja pk.09.00


PENDETA

Pdt. Nathanael Channing
Jalan Parang Barong 11,
Surabaya 60176
Email: channing@indo.net.id
nathanael_channing@yahoo.com

Pdt. Agustina Manik
Jalan Sutorejo Utara IV/26,
Surabaya 60113
Email: manik.nina@gmail.com

Pdt. Hero Guntoro
Jalan Simorejo 18 no.9,
Surabaya
Email: hero_guntoro@yahoo.co.id

Pdt. Ruth Retno Nuswantari
Jalan R.P. Soenarjo Gondokusumo 18
Surabaya
Email: rrn29357@gmail.com
rrn29357@yahoo.co.id

Pnt. Soewandi Tedjo
Jalan Donokerto IX/ 23,
Surabaya 60141
Email : gkiss@sby.dnet.net.id


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

Sejarah Berdiri dan Perkembangannya

Sejarah GKI sulung memang tidak dapat dilepaskan dari sejarah GKI Jatim secara umum, dan khususnya sejarah GKI di Surabaya.

Menurut sejarah, harus difahami bahwa nama GKI di Surabaya sebelumnya adalah TIONG HOA KIE TOK KAUW HWEE ( THKTKH ) Djoharlaan 4, Surabaja. Sebutan Djoharlaan 4 berkaitan dengan gedung di Jln Johar No 4 ( saat ini telah dihibahkan kepada Lembaga Kesejahteraan Keluarga ). Sedangkan penggantian nama THKTKH menjadi Gereja Keristen Indonesia Jatim Kota Besar Surabaya, terjadi pada bulan November 1958. Pada waktu kemudian sebutan “Kota Besar” dihilangkan

Pada tahun 1953 GEREJA THKTKH Djoharlaan 4 belum punya pendeta, baru tanggal 6 Januari 1954, ditahbiskan seorang pendeta atas diri Ds Oei Liang Bie. Sebelumnya belaiau adalah seorang guru Injil yang melayani di Purwokerto Jawa Tengah.

Pembagian daerah untuk jemaat GKI di Surabaya secara pasti baru dimulai tahun 1967, yang terdiri dari 5 ( lima ) daerah. Adapun sebutan daerah didasarkan nama jalan sebagai berikut.:

  1. JOHAR ( daerah Johar )
  2. RESSUD ( derah Residen Sudirman)
  3. DIPO ( daerah Diponegoro )
  4. EMMA ( daerah Embong Malang )
  5. NGAGEL ( daerah Ngagel )

Kebaktian hari Minggu di Jln Johar no 4 pada awalnya diadakan 2 kali, yaitu Kebaktian pukul 07.00 dan pukul 09.00, dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia.

Sementara itu Ds. Oei Liang Bie melayani GKI Johar sampai dengan 31 Desember 1962 ( 8 tahun pelayanan ), karena pada tanggal 1 Januari 1963, beliau menerima panggilan dari Gereja Gereformeerd Surabaya, jalan Pregolan Bunder 36 Surabaya.  

Pada 21 mei 1964 – 31 Maret 1967 , Gereja daerah Johar dilayani oleh Pendeta DS Kwee Tiong Bien yang sebelumnya melayani sebagai pendeta di Kediri. Selanjutnya selama Johar tidak mempunyai pendeta, maka ditetapkan sebagai pendeta konsulen atas diri DS Tan Kiem Tjoe (Jojakim Atmarumeksa) dari EMMA (daerah Embong Malang)

 

GEREJA DAERAH SULUNG.

Pada tanggal 4 September 1966, dilakukan perletakan batu pertama pembangunan gedung gereja di jalan Sulung Sekolahan 2A Surabaya.

Gedung ini direncanakan sebagai pengganti Gedung Gereja di jln Johar 4 Surabaya. Pengumpulan dana saat itu diperoleh dari pengumpulan dana dari Jemaat GKI dari 5 daerah di Surabaya.

Kebaktian Peresmian Gedung Gereja baru berikut kantor gerejanya di Jln Sulung Sekolahan 2A, dilaksanakan pada 04 April 1968.

Kebaktian pertama kalinya di gedungGereja Baru, diadakan pada hari Minggu, tanggal 07 April 1968, dengan 3 kali jam kebaktian, masing-masing pukul 07.00, 09.00 dan 16.30. Selanjutnya gedung di jalan Johar 4, dihibahkan kepada Lembaga Kesejahteraan Keluarga ( LKK ) Surabaya.

 

PENEGUHAN PENDETA PERTAMA DI GKI SULUNG

Pada tanggal 15 September 1970, diteguhkan Pdt Petrus Prasetya sebagai pendeta pertama yang melayani daerah Sulung. Sebelumnya Pdt Petrus Prasetya melayani di Gereja Kristus Tuhan Malang. Kebaktian peneguhan pendeta dilakukan di GKI Residen Sudirman dan dilayani oleh Pendeta Konsulen, Pdt Jojakim Atmarumeksa. Sedangkan Pastori terletak di Jln Sulung Tengah 34 Surabaya.

 

KEBAKTIAN REMAJA DAN SEKOLAH MINGGU

Kebaktian remaja tidak dapat dilepaskan dengan kebaktian Anak ( Sekolah Minggu )yang telah ada sebelumnya. Kebaktian Remaja GKI Sulung pertama kali diadakan di Sulung Tengah 34, dan dibuka oleh ibu Evie Sie Lian Hing, pada tanggal 16 Oktober 1966. Selanjutnya mulai tahun 1975, Kebaktian Remaja berkembang menjadi kebaktian Pemuda -remaja di GKI Sulung Sekolahan 2A. yang diadakan setiap hari Minggu pada pukul 07.30

Pada tanggal 23 Mei 1976, kebaktian Pemuda dipisahkan dengan Kebaktian Remaja. Kebaktian Pemuda diadakan pada pkl 07.30 di gedung Gereja, sedangkan kebaktian remaja juga diadakan pkl 07.30 bertempat di lantai 2 ( atas ), Kebaktian Anak (Sekolah Minggu) di GKI daerah Johar sudah diadakan di SD Gembong Sekolahan, SDK Petra Kapasan, kemudian bertambah di Jln Simolawang Baru V/12 , SDN Kenjeran dan SDN Sulung Sekolahan. Pada tanggal 29 Mei 1977 ada penambahan tempat Kebaktian Anak di Simorejo

PENGEMBANGAN GKI DI SURABAYA

Pada mulanya kantor gereja hanya melayani satu gereja yaitu di Johar 4, berkembang melayani 5 gereja di Surabaya. Pelayanan itu berlangsung antara 1 Agustus 1954 hingga April 1974.

Tahun 1974, GKI Surabaya bisa dikatakan masuk dalam “Era Baru” dengan dilakukan Pengembang biakan dari satu gereja menjadi 5 gereja, yang berdiri sendiri. Yaitu GKI Diponegoro, GKI Emaus (Embong Malang), GKI Ngagel, GKI Residen Sudirman dan GKI Sulung.

Pelaksanaan Kebaktian Pengembangbiakan pada tanggal 3 April 1974, dan dibuatkan Akta Pengembangbiakan yang disetujui oleh Majelis Gereja masing-masing gereja setempat.

Pada waktu itu, untuk menjalin kerja sama pelayanan dari gereja setempat yang telah berdiri sendiri, dibentuklah Badan Kerja Sama Gereja Setempat GKI Jatim. Badan ini pada akhirnya dibubarkan, setelah masing-masing Gereja dapat menangani urusan dan tanggung jawabnya sendiri.

Untuk menunjang pengembangbiakan tersebut, maka masing-masing kantor gereja mulai April 1974 menerima “buku induk cukilan” yang memuat data keanggotaan yang diambil dari buku induk mula-mula. Pembagian keanggotaan dibagi berdasarkan pembagian batas wilayah gereja masing-masing.

Batas Wilayah GKI Jatim Jl. Sulung Sekolahan 2A meliputi , batas Utara daerah Perak, Batas Timur, Jln Kapasan, Jl Simokerto, Jln Kenjeran sampai rel Kereta Api. Batas Barat, Jl Gresik, Jl Demak dan Batas Selatan meliputi Jl Praban, Jl Kerenggan, Jl Undaan Kulon, Jl Pengampon.

 

GKI GRESIK



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Dr. W. Sudirohusodo 712
Kembangan – Gresik 61161
Telp/Fax. (031) 3951393
Email: gki_gresik@yahoo.com

JAM KEBAKTIAN:
Kebaktian Umum I pk.07.00
Kebaktian Umum II pk.17.00
Kebaktian Anak pk.07.00 & pk.17.00
Kebaktian Remaja&Pemuda pk.09.30


PENDETA

Pdt. Gidyon
Jalan Kalimantan 125
Perum. GKB. Gresik 61151
Email: gidyonbararada@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANYA

 

Pos Pelayanan Pemasyuran Injil

Pada mulanya GKI Jatim Gresik merupakan cabang dari GGS (Gereja Gereformeerd Surabaya), yang sekarang namanya telah berubah menjadi GKI Pregolan Bunder Surabaya, yang terletak di jalan Pregolan Bunder, Surabaya. Pada waktu GGS mempunyai pelayanan di kota Gresik, yaitu pelayanan dalam kebaktian. Kebaktian pada saat itu masih menggunakan sebuah rumah seorang anggota jemaat yang bernama Jaya Halim (Liem Hien Tjong). Rumah tersebut terletak di Jl. Zubaier 11 (Jl. Usaha) Gresik.

Kebaktian keluarga tersebut dimulai sejak tahun 1967. Pada pelayanan waktu itu dilayani oleh Pdt. A.J. Obadja (Oei Liang Bie). Dari waktu ke waktu kebaktian keluarga tersebut menunjukkan perkembangan yang baik. Dari segi kuantitas semakin banyak pengunjung yang datang, dan beberapa kali diadakan kebangunan rohani. Dari kebangunan rohani itu semakin banyak pengunjung yang datang.

Melihat perkembangan yang cukup baik maka Pos Pelayanan Pemashuran Injil tersebut dipergumulkan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Pos Pemasyuran Injil.

 

Cabang Pemasyuran Injil

Setelah Majelis Jemaat GGS mengumpulkan secara serius sehubungan dengan Pos Pelayanan Pemasyuran Injil yang mengalami perkembangan yang signifikan, maka diambil keputusan untuk meningkatkan menjadi cabang Pemasyuran Injil, GGS di Gresik. Sejak saat itu, yaitu pada tanggal 3 September 1967 dimulailah kebaktian pertama pada hari Minggu di Jl. Usaha 11 Gresik. Pada kebaktian pertama tersebut ada 9 anggota sidi dan di samping mereka masih ada beberapa pengunjung kebaktian. Kebaktian dimulai pukul 17.00 WIB.

Beberapa tahun kemudian nampak semakin berkembang dalam segi kuantitas, maka mulai memerlukan fasilitas gedung yang lebih besar, karena gedung yang ada mulai tidak cukup menampung jemaat. Melihat kebutuhan tersebut mulai mendesak maka keluarga Jaya Halim bersedia meminjamkan rumahnya untuk dipakai kebaktian. Rumah tersebut terletak di Jl. Pulopancikan III/75 Gresik. Pada tanggal 25 Desember 1975, rumah tersebut diresmikan menjadi tempat ibadah yang baru.

Dari tempat tersebut maka perkembangan jemaat semakin dirasakan perkembangannya. Jemaat terus berdoa dan bergumul untuk memashurkan Kabar Baik tersebut.

 

Menjadi Gereja yang Dewasa

Setelah menjadi cabang GGS di Gresik, maka Majelis Jemaat GGS ingin meningkatkan lagi status cabang menjadi jemaat yang dewasa atau mandiri. Maka pada tanggal 21 Agustus 1977, cabang GGS di Gresik diresmikan menjadi gereja yang dewasa atau mandiri. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup pendetanya dan biaya operasional masih dapat bantuan dari GGS Surabaya.

Pada tahun 1984, GKI Gresik, benar-benar tidak lagi tergantung GGS, tetapi benar-benar dewasa tidak saja status tetapi juga dalam memenuhi biaya operasionalnya. Menempati gedung gereja di Jl. Pulopancikan hanya sampai tahun 1992. Hal itu karena perkembangan jemaat yang semakin pesat maka diperlukan gedung gereja yang baru.

 

Gedung Gereja Baru

Melihat perkembangan jemaat yang terus meningkat, bertambah banyak, maka diperlukan gedung gereja yang memadahi, yang cukup untuk menampung kehadiran jemaat. Juga diperlukan ruang-ruang untuk pemuda remaja, juga untuk anak-anak sekolah minggu.

Dengan pertolongan Tuhan maka didapatkan tanah yang cukup luas di desa Kembangan, Bunder. Disanalah dibangun untuk gedung gereja GKI yang baru, tepatnya terletak di Jl. DR. Wahidin Sudirohusodo 712 Gresik. Tanah tersebut pada mulanya milik Bapak William Soeryadjaya, yang rumahnya terletak di Jl. Sutan Syahrir 27 Jakarta.

Tanah tersebut oleh pemiliknya dihibahkan ke GKI Gresik untuk dipakai mendirikan gedung gereja yang baru. Oleh karena itu maka pada tahun 1989 dibentuklah panitia yang memiliki tugas :

  1. Balik nama sertifikat atas nama GKI Jatim Gresik.
  2. Menyiapkan gambar
  3. Mengurus ijin pembangunan
  4. Mencari dana
  5. Melaksanakan pembangunan

Pada bulan Februari 1991, telah ditandai dengan peletakan batu pertama. Dan pada tahun 1992, gedung GKI Gresik yang baru telah selesai dibangun. Maka sejak tanggal 12 Agustus 1992 gedung gereja yang baru resmi dipakai, dan peresmiannya dilakukan oleh bupati Gresik yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Djuhansah.

 

Para pendeta yang pernah melayani

Para pelayan yang dimasukkan disini adalah para pelayan yang melayani di GKI Gresik setelah didewasakan oleh gereja induknya, yaitu GGS. Hal itu disebabkan karena sebelum dewasa, status pendeta yang melayani adalah pendeta gereja induk. (GGS)

Para pelayan yang pernah ambil bagian di lingkungan GKI Gresik antara lain:

  • 1973-1981 : Pdt. Stefanus Semianata, B.TH (sekarang S.Th).
  • 1981-1984 : Pdt. Djoko Sugiarto, S.Th (Konsulen)
  • 1984-1997 : Pdt. M.Th.V. Benamen (Kontrak dari GPM)
  • 1991-1994 : Pdt. Petrus P., S.Th (Konsulen)
  • 1994-1998 : Pdt. Triatmoko A, S.Th (Konsulen)
  • 1998-1999 : Pdt. Stefanus Semianata, S.Th (Konsulen)
  • 1997-sekarang : Pdt. Gidyon, M.Min

 

 

GKI BOJONEGORO



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN:
Jalan Rajawali 156-158
Bojonegoro 62117
Telp/Fax. (0353) 881294
Email: gkibojonegoro@yahoo.com

POS JEMAAT:
Jalan HOS Cokroaminoto 673
Dander, Bojonegoro


JAM KEBAKTIAN

Jalan Rajawali
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.16.30
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.09.00

Jalan Cokroaminoto
Kebaktian Umum pk.09.30


PENDETA

Pdt. Iwan Sukmono
Jalan Tri Tunggal 49,
Bojonegoro
Email: iwansukmono@yahoo.com


 

 

Location/Map



Sejarah GKI Bojonegoro Jalan Rajawali


Berdirinya GKI Bojonegoro dimulai dengan adanya persekutuan doa di asrama SGB Jl. Teuku Umar pada tahun 1956 di bawah asuhan Sdr. R.S. Dwidjo Asmoro. Persekutuan tersebut diikuti oleh Sdr. Dwidjo sekeluarga, Ny. Ny. Tio Gen Giok, Ny. Tan Tjie Hien, Sdr. Evie Tio, Sun Khiem, Sdr. Siane Tio, Sun Khiem. Setelah berjalan beberapa kali tempat persekutuan dipindahkan ke Pavilun milik Sdr. Tio Sun Khiem di JI. Bengawan Solo 118 Bojonegoro (sekarang JI. J.A. Suprapto).

Setelah anggota persekutuan terus bertambah Sdr. Dwidjo Asmoro mencoba menghubungi Gereja GKI Surabaya (THK TKH) supaya dibuka cabang pelayanan di Bojonegoro. Kebaktian Pembukaan cabang pelayanan tersebut diadakan pada tanggal 17 Maret 1957 pukul 09.00 bertempat di rumah Sdr. Tio, Sun Kiem JI. Bengawan Solo No. 118 Bojonegoro, yang dipimpin oleh Ds. Oei Liang Bie (Ds. Yohanes Obadja) didampingi oleh Tua-Tua MA. Londa dan Tan Hok Hie. Kebaktian ini dihadiri oleh 56 orang.

Mulai tanggal 1 Agustus 1958 Sdr. Kwee Tiang Hoe, Kepala Sekolah "Yayasan Pangelar Budi Bojonegoro" dipercaya untuk memelihara jemaat ini. Pada bulan Juli 1963 - September 1963 Sdr. Njoo Hian Swie (sekarang Pdt. Hosea Abdi Widhyadi) yang ketika itu duduk ditingkat terakhir Akademi Theologia Duta Wacana, dalam mengisi masa liburannya ditugaskan oleh GKI Jatim Surabaya untuk melayani di Bojonegoro.

Pada tanggal 19 Agustus 1963 dibentuk kepengurusan panitia cabang Bojonegoro dengan ketua Tt. Liem Siauw Giap  (E.A. Nafarin-MJ GKI Jatim Surabaya), Badan Penghubung:  Tt. The Tiang Djwan dan Sdr. Liem Kiem Ing, tenaga parttime : Sdr. Liem Kiem Ing. Berkat ketekunan mereka jemaat terus bertambah dan mampu mendapatkan sebidang tanah negara seluas 553 M2 berkas hak sewa No. 31/ Kab.pt/`55 dari Sdr. Koo Hien Liong dengan ganti rugi Rp. 50.000,00. Sekarang berstatus hak pakai untuk selamanya yang terletak di Jl. Rajawali No. 2 Bojonegoro (sekarang No. 156-158).

Pembangunan gedung gereja dimulai 8 Desember 1963, peletakan batu pertama Sdr. R.S. Dwidjo Asmoro didampingi Tua-Tua Lie Boen Ong sebagai Panitia pembangunan Rumah Gereja/Pastori GKI jatim Surabaya. Setelah + 2 th berjuang membangun akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam kebaktian pada tanggal 7 januari 1965 pukul 10.00 WIB yang dihadiri + 500 orang pengunjung.

Terasa istimewa di tengah-tengah proses pembangunan tersebut gereja akan melaksanakan ibadah peneguhan dan pemberkatan pernikahan yang pertama kali atas diri Sdr. R. Soetopo Hadiseputro dengan Sdr. Welfrida Agustha Samsuri pada hari Sabtu, 21 maret 1964 di gedung gereja JI. Bengawan Solo 118 Bojonegoro yang dilayani oleh Ds. Gouty Kiem Hok (Ds. BA. Abednego).

Pelayanan di GKI Cabang Bojonegoro sering tersendat-sendat karena belum adanya tenaga pelayan tetap. Awal tahun 1964 Sdr. Liew Kiem  Ing pindah ke Malang dan Sdr. Heri Soesanto mulai Maret - Agustus 1964 menggantikannya sebagai tenaga part timer, kemudian dilanjutkan Sdr. Njoo Hian Swie (Pdt. Hosea Abdi Widhyadi) sampai tahun 1966. pada masa ini untuk pertama kalinya panitia cabang Bojonegoro yang terdiri dari anggota sidi cabang Bojonegoro semuanya diteguhkan, yaitu tanggal 23 Januari 1966, dilayani Ds. Kwee Tiong Bien, dengan susunan : Tan Thiam Ting (Ketua I), Drg. Oei Kiem Liong / J. Rahardjo (Ketua II & Bendahara), R. Soetopo Hadi Seputro (Penulis I), Thio Swie Hian /Yakub Budianto HP (Penulis II), Ny. Dwidjo Asmoro dan Ny. Tio Oen Giok  (Anggota).

Dibawah bimbingan Ds.Tan Tjoen Sing (J. Roestanta) yang waktu itu melayani di GKI Jombang,  cabang Bojonegoro didewasakan menjadi GKI Jatim Bojonegoro dalam kebaktian pada hari Kamis tanggal 11 Agustus 1966, pukul 10.00 dilayani oleh Ds. Tan Kiem Tjoe (Jajakim Atmarumeksa). Diteguhkan pula MJ GKI Jatim Bojonegoro, atas diri Tt. Tan Thiam Ting, Tt. Oei Kiem Liong, Tt. R. Soetopo Hadiseputro, Tt. Tio Swie Hian, Dk. Ny. Dwidjo Asmoro, Dk. Ny. Tio Oen Giok.

Sebagai jemaat dewasa GKI Jatim Bojonegoro mempunyai tugas dan tanggung jawab penuh dalam pemeliharaan dan pengembangan dirinya sebagai tubuh Kristus yang menjadi utusan Tuhan di tengah dunia. sehingga memerlukan dedikasi dan kesetiaan dari semua pihak yang ada di dalamnya. Setelah dilakukan pergumulan yang mendalam Ds. Tan Tjoen Sing yang telah dikenal pelayanannya dalam mempersiapkan pendewasaan jemaat dipanggil untuk menjadi Pendeta Pertama. Beliau melayani mulai tahun 1966 - 22 Agustus 1979. Pada tanggal 22 Agustus 1979 Ds. Tan Tjoen Sing dipanggil oleh Tuhan meninggalkan seorang istri dan tiga anak dan sekarang tinggal di Klaten Jawa Tengah.

Kebutuhan akan pendeta terpenuhi kembali dengan kehadiran Pdt. Stefanus Semianta B.Th. tepatnya tanggal 1 September 1981, yang diteguhkan dalam kebaktian pada hari Rabu tanggal 23 September 1981 dipimpin oleh Pdt. Samuel Tjahjadi. Gebrakan baru terus dilancarkan, diantaranya dengan menyusun tema pelayanan 1982-1983 : "BERSATU DAN TUMBUH BERSAMA DALAM IMAN KEPADA KRISTUS." Program utama yang diusung adalah pemantapan iman dan persekutuan, tahun 1981 - 1983 membenahi administrasi gereja dengan mendata ulang anggota Jemaat dan membuat buku-buku induk, dan pengurusan rumah di Jl. Iman Bonjol 23.

Pada tahun 1986-1987 maka Majelis memutuskan untuk menambah seorang tenaga pelayan. Sdr. Lilik Maria S.Th. menyatakan kesediaannya melayani di GKI Jatim Bojonegoro dan memulai tugas pelayanan pada tanggal   16 juli 1986

Kemudian diteguhkan kedalam jabatan tua-tua Tugas Khusus pada tanggal 3 Agustus 1986. Sementara itu Pdt. Stefanus Semianta memulai studi lanjutnya mulai tanggal 12 Agustus 1986. Maka ditunjuklah Pdt. Sutjipto dari GKI Resud Surabaya, menjadi pendeta konsulen GKI Jatim Bojonegoro sampai dengan selesainya studi Pdt. Stefanus Semianta.

Pada tanggal 7 juni - 24 Agustus 1986 menerima Mahasiswa Stage dari STTH Dutawacana bernama Sdr. Hie Tiong Hien.

Gereja memandang perlu untuk terus mengembangkan semangat pekabaran Injil. Maka gereja berupaya terus melakukan di wilayah Bojonegoro dan Tuban serta sekitarnya. Diantaranya dengan :

1. Pos Pelayanan di Sendangrejo, Parengan Tuban.
Persekutuan dimulai tanggal 9 September 1984 bertempat di rumah keluarga Sokran. Ibadah dewasa diadakan tiap Rabu pukul 18.00 WIB, ibadah anak setiap selasa. Pada tanggal 22 Desember 1985 dibaptiskannya 6 orang dewasa dan 9 orang anak. Hanya saja karena berbagai macam persoalan yang muncul, beberapa tahun berikutnya pelayanan di desa tersebut tidak dapat diteruskan.


2.  Pos Pelayanan di kota Tuban
Persekutuan dimulai pada tanggal 5 Mei 1985 di rumah keluarga Maktoeri Siswoharsono. Persekutuan yang awalnya dilaksanakan sebulan sekali diikuti oleh keluarga jemaat asal GKI Bojonegoro, Surabaya dan Malang yang berdomisili di Tuban. Persekutuan yang diadakan ini rata-rata dihadiri 35-40 orang. Akhirnya jemaat di Tuban mendapat pinjaman sebuah tempat di Jl. Kawatan Gg IX milik keluarga Ny. Budi S. Teguh. Tanggal 5 januari 1986 bersamaan dengan Perayaan Natal 1985 dilaksanakan kebaktian pembukaan GKI Cabang Tuban, kemudian pada tanggal 23 Pebruari 1986 diteguhkan Panitia Cabang Tuban untuk lebih mekasimalkan upaya mengembangkan kehidupan berjemaatnya. Setelah kebersamaan jemaat yang di Tuban maupun GKI Bojonegoro diuji selama + lebih 9 tahun, Pada Tahun 1995 GKI Bojonegoro boleh bersyukur kepada Tuhan karena pembangunan gedung GKI Cabang Tuban dapat diselesaikan. Dan pendewasaan Jemaat dilaksanakan pada tanggal 5 januari 1995.

3.  Pos Kesaksian dan Pelayanan (PKP) Dander
Pos pelayanan ini berjarak 12 KM ke arah selatan kota Bojonegoro. Pekabaran Injil di wilayah ini sebenarnya diawali oleh GKJ Cepu. Pada akhir tahun 1988 oleh karena persoalan internal yang ada akhirnya jemaat sepakat untuk memisahkan diri, masing-masing ke gereja yang dirasa cocok dengan dirinya. Di antaranya ke GKAI Jati Blimbing,  GKJW Pasamuan  Surabaya, GKI Bojonegoro. Sementara itu tempat ibadah yang telah ada digunakan bersama-sama secara bergantian antara kelompok yang pindah ke GKJW dengan mereka yang attestasi ke GKI. Mereka yang attestasi ke GKI selanjutnya dilayani  dalam wadah Pos PKP Dander.

Dalam perkembangannya selanjutnya, pemakaian rumah ibadah secara bersama tidak dapat dilanjutkan. Sehingga rumah ibadah dilaksanakan di rumah jemaat dan dibagi dalam dua wilayah. Untuk yang berdomisili di Dander,  kebaktian di rumah Keluarga Poni Widjajanti. Untuk jemaat yang berdomisili di Karangsono, kebaktian di rumah keluarga Alm. Bp Hudiwiyono   sampai sekarang. Sampai akhirnya jemaat sudah memiliki tempat ibadah permanen di Jl. Dr. Cokroaminoto yang telah diselesaikan pembangunannya pada tahun 2007.

Pada tanggal 1 Desember 2008 pendeta Stefanus Semianta S.Th memasuki masa emiritasinya bersamaan dengan penahbisan Sdr. Iwan Sukmono S.Th yang melayani sebagai pendeta sampai dengan sekarang.

Tentu saja setelah melalui melalui berbagai tahapan proses pemanggilan pendeta sebagaimana Tata Gereja yang ada dalam derap kebersamaan yang terus dikembangkan, berbagai  potensi yang masih terpendam dalam kehidupan jemaat terus digali untuk mendukung revitalisasi gereja dalam berbagai sisinya

GKI MADIUN



media



Keterangan


ALAMAT GEREJA & KESEKRETARIATAN
Jalan Barito 91
Madiun
Telp. (0351) 492279
Email: gkimadiun@yahoo.co.id

POSJEM
Jalan Nias Bangunsari
Mejayan, Caruban


JAM KEBAKTIAN

Jalan Barito
Kebaktian Umum I pk.06.00
Kebaktian Umum II pk.09.00
Kebaktian Pemuda/Remaja pk.17.00

Jalan Caruban
Kebaktian Umum pk.17.00


PENDETA (Konsulen)

Pdt. Triatmoko Adipramono
Jl. Kebraon Manis Selatan I/35,
Surabaya 60222
Email : tri_ap@yahoo.com


Location/Map



SEJARAH SINGKAT

SEKELUMIT SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

I. AWAL BERDIRINYA

Hie (Tio) Kok Liong[1] adalah seorang perantau Kristen dari Tiongkok. Pada tahun 1942 di rumahnya (pabrik es) diadakan Persekutuan Doa (Bidston) Rumah Tangga setiap hari Kamis dan Minggu yang dilayani oleh Pdt. Kolintama Johanes. Hie Kok Liong mengajak sahabat, rekan dan kenalan untuk bergabung sehingga dari 6 orang anggota persekutuan menjadi 30-an orang. Kenyataan ini mendorong Hie Kok Liong dan rekan-rekannya untuk membentuk diri menjadi gereja sehingga pada tahun itu juga mereka memasang papan nama “GEREDJA PINKSTER GEMEENTE JEROESALIM ROHANI (KIE TOK KAUW HWEE)”[2].

Pengunjung kebaktian semakin meningkat hingga ± 60 orang, tempat untuk ibadah kurang sehingga Hie Kok Liong memakai gudang sewaannya di jalan Barito 91 - atas dorongan pemiliknya yaitu Tan Swie Thiat - dibangun gedung sederhana yang bahannya dibeli dari rumah jadi di Ngawi. Tepat pada tanggal 25 Desember 1942 diadakan kebaktian Natal di gedung tersebut walaupun tembok belum jadi dan lantai masih tanah. Tanggal inilah yang dijadikan patokan berdirinya GKI Madiun.

Gereja Pantekosta ini mengadakan kebaktian tiap hari Kamis dan Minggu, dalam kiprahnya yang menampilkan mujijat dan penyembuhan banyak menarik perhatian sehingga anggota gereja mencapai ± 150 orang membuat gedung menjadi penuh. Gereja ini juga sangat misioner, ia membuka Pos PI / Cabang di Madiun (Klegen), di Magetan (Barat – Maospati) dan di Ponorogo (Badegan/Dangkrang – Sumoroto).

 

II. MENJADI THKTKH HINGGA GKI MADIUN

Akhir tahun 1944 ibadah gereja menjadi terlalu kharismatik, ibadah dimulai pukul 19.00 berlangsung sampai dini hari bahkan kadang sampai jam 5 pagi dan sering terjadi jemaat kerasukan roh lalu pingsan. Peristiwa ini sering terjadi membuat Hie Kok Liong dan rekan – rekan menentang cara ibadah seperti ini dan meminta Pendeta K. Johanes untuk menghentikan cara – cara ini namun Pendeta K. Johanes tidak mau. Keadaaan ini malah memicu perpecahan gereja karena ada yang memihak Pendeta dan ada pula pendukung Hie Kok Liong dan rekan-rekannya. Karena tidak ada jalan temu, akhirnya Pendeta K. Johanes diminta mengundurkan diri sehingga gereja menjadi tidak berpendeta.

Tetangga Hie Kok Liong menawarkan saudaranya seorang pendeta yang sudah pensiun yang tinggal di Ngerong – Magetan untuk membantu pelayanan gereja. Hie Kok Liong, anaknya dan rekan - rekan lalu bertandang ke Ngerong untuk melamar, beliau adalah Oei Soei Tiong, usianya hampir 70 tahun namun beliau bersedia membantu pelayanan kebaktian tiap minggu. Bulan Juni 1945 Oei Soei Tiong mulai melayani serta melakukan penataan dan perombakan gereja antara lain :

  1. Nama gereja diganti menjadi Tiong Hwa Ki Tok Kau Hwee (THKTKH) yang beraliran Reformasi, ibadah tenang dan memakai liturgi, diadakan sakramen Baptisan Anak serta Perjamuan Kudus[3].
  2. Diadakan Buku Induk Anggota Gereja (Stamboek) yang mencatat keanggotaan gereja.

Namun baru 9 bulan melayani, beliau meninggal dunia di Ngerong dan dikuburkan di Pemakaman Madiun.

Pelayanan gereja kemudian dibantu oleh Oei Sioe Djin (s.d. Februari 1947). Pada bulan Mei 1949 THKTKH Madiun, diakui sebagai gereja anggota Sinode THKTKH Jawa Timur. Sejak saat itu pelayanan gereja dibantu oleh pendeta konsulen, namun GKJW Madiun yang paling sering diminta bantuannya. Ketika Sinode THKTKH Jawa Timur pecah karena perbedaan bahasa, Gereja Madiun memilih menjadi anggota Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang berbahasa Indonesia.

Liem Tong Hwa adalah pendeta pertama GKI Madiun (1957 – 1959). Tahun 1968 Daud Adi Prasetya melayani sebagai Pendeta hingga 1973. Pdt. Yonatan Subianto melayani tahun 1975 – 1979. Pdt. Haryanto W. Maranatha melayani tahun 1982 – 1995. Pdt. Tri Santoso melayani sejak 2002 hingga kini. Gedung Gereja juga mengalami 5 kali pembangunan yakni tahun 1942, 1950, 1961, 1972 dan 2009.

 

III. REFLEKSI DAN CATATAN PENTING SEJAK 1942 – 2011

GKI Madiun pernah tidak berpendeta selama 33 tahun (1945–1957, 1959–1968, 1973–1975, 1979–1982, 1995–2002) ternyata Tuhan tidak membiarkan terlantar, Ia sendiri yang memimpin perjalanan Gereja-Nya.Tahun 1942 Tuhan menganugerahi sebuah Gereja yang dinamis dan misioner yang memiliki beberapa Pos PI / Cabang. Tahun 1945 Tuhan campur tangan meluruskan gereja-Nya yang mulai tersesat. Tahun 1945 ini juga melalui Oei Soei Tiong Tuhan menata gereja-Nya. Tahun 1968, melaui Daud Adi Prasetya, Tuhan mengorganisasi dan mengelola gereja secara modern dengan cara membentuk komisi dan seksi yang aktif serta menumbuhkan kesadaran tentang perlunya Pelayanan Pendidikan dengan dibukanya TK selanjutnya SD Petra. Tahun 1974 melalui Yonatan Subianto, Tuhan memperkuat Pelayanan Pendidikan dengan membangunkan gedung Sekolah TK dan SD Petra serta memulai Pelayanan Sosial - Ekonomi.

Pada Tahun 1989 di era pelayanan Haryanto W. Maranatha, Tuhan menganugerahi Pos PI di Caruban. Sayangnya GKI Madiun sekarang kurang misioner, gereja telah kehilangan setidaknya 3 Pos PI. Pelayanan yang bermanfaat dan mengguyubkan jemaat seperti Pemahaman Alkitab, Kursus Memasak, Olah Raga dan Seni Teater tidak ada lagi. Kesadaran Pelayanan Holistik seperti pelayanan Sosial – Ekonomi yang meningkatkan taraf hidup jemaat dan masyarakat sekarang ditiadakan.

[1] Nama sebenarnya adalah Tio Kok Liong (marga Tio), tahun 1929 beliau datang ke Indonesia, oleh pemerintah Hindia Belanda pendatang harus punya pengampu (keluarga) yang sudah berada di Indonesia sebagai penjamin. Waktu itu Hie Mong Liong lah yang menjamin masuknya, Tio Kok Liong diakui sebagai keluarga dengan marga Hie. Sejak saat itu secara Yuridis Formal nama beliau adalah Hie Kok Liong namun kerabat dan rekan dekatnya masih memanggilnya sebagai Tio Kok Liong .dengan nama Hie Kok Ling

[2] Persekutuan ini beraliran Pantekosta (Pinkster) yang mengutamakan karunia-karunia rohani (kharismatik) seperti Mujijat Penyembuhan, Bahasa Lidah dan Nubuat-nubuat karena pendeta yang melayani memang dari aliran Pinkster.

[3] Notulen Rapat Tgl. 3, 24 dan 29 Juni 2605 (=1945), notulen ini ditulis sendiri oleh Oei Soei Tiong. Naskah asli ada pada Hie (Tio) Ping Nan, putra Hie Kok Liong. Baptis Anak pertama pada Minggu, 27 Juli 1945, Perjamuan Kudus pada Minggu, 5 Agustus 1945.