03 May 2018 / Renungan Harian

Adil Itu Terkatit Norma Dan Hakikat


media

Adil Itu Terkatit Norma Dan Hakikat
Mazmur 98

sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran. (Mzm. 98:9)

Ketika ada polisi mengatur lalu lintas, kita pasti akan menaatinya. Kita akan berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah dan kita tidak akan memarkir mobil di tempat di mana terdapat tanda larangan parkir. Semua itu kita lakukan karena kita tahu ada pihak yang berwewenang yang sedang mengawasi kita.

Mazmur 98:9 mengatakan bahwa Tuhan akan menghakimi kita dengan “keadilan” (Ibr., mishpat) dan “kebenaran” (Ibr., zedeq). Dalam bahasa Ibrani, keduanya sama-sama berarti “keadilan.” Bedanya, mishpat terkait dengan keadilan prosedural, tata aturan, norma yang adil. Sedangkan, zedeq terkait dengan keadilan substansial, hakikatnya. Tuhan menghakimi kita dengan mishpat dan zedeq. Ia tidak hanya menilai masalah prosedural atau tata aturan saja, tetapi juga hakikat dari sikap dan perilaku kita.

Sebagai orangtua, kita mungkin telah memberi nafkah kepada anak-anak kita. Dari kacamata mishpat kita sudah berlaku adil karena memang itulah norma atau kewajiban kita sebagai orangtua. Namun, jika kualitas hidup anak kita buruk karena kita sembrono dan tidak peduli pada mereka, anak kita menjadi orang yang tidak takut pada Tuhan, jalan hidup mereka jauh dari jalan Tuhan, mereka senang menyakiti orang lain, maka kita belum menjadi orang yang adil dari kacamata zedeq karena kita belum memenuhi substansi atau hakikat dari keadilan.



REFLEKSI:
Tuhan tidak hanya melihat tata aturan atau norma keadilan saja, tetapi juga hakikat keadilan yang dipraktikkan dalam hidup kita.

Mzm. 98; Yes. 49:5-6; Kis. 10:1-34

Latest ARTICLE