17 December 2017 / Renungan Harian

Aku Bukan Mesias


media

Aku Bukan Mesias

Yohanes 1:6-8, 19-28

Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." (Yoh. 1:20)

Dalam suksesi kepemimpinan di masyarakat Jawa, hampir selalu tercuat wacana tentang siapa yang akan muncul sebagai satrio piningit. "Satrio piningit" adalah tokoh ideal yang dinanti-nantikan. Ia adalah pemimpin yang diyakini mampu membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Di masyarakat Yahudi, satrio piningit itu dinantikan dalam diri seorang mesias, sang pembebas atau juruselamat. Namun, siapakah orangnya? Banyak orang bertanya-tanya dan mereka-reka. Dari zaman ke zaman, kehadiran orang-orang yang istimewa selalu dikaitkan dengan mesias: "Diakah sang mesias?" Karena itu, ketika Yohanes tampil di panggung kehidupan masyarakat, banyak orang mengira dia adalah sang mesias. Terlebih di tengah kondisi masyarakat Yahudi yang berada di bawah penjajahan Romawi, pengharapan akan mesias sangatlah besar. Yohanes pun menyadari akan hal itu. Namun, ia tidak menjadi oportunis dan memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi. Dengan tegas, Yohanes berkata, "Aku bukan Mesias!"

Mari kita meneladani kerendahan hati Yohanes. Ketika kita memiliki kuasa, kemashyuran, dan kemakmuran, janganlah kita mencuri kemuliaan Tuhan. Tuhan memercayakan semua itu kepada kita supaya kita menjadi hamba-Nya bagi kemuliaan nama-Nya. Setiap orang diberi berbagai kemampuan oleh Tuhan. Itu bukan untuk kepentingan diri, melainkan untuk melayani Tuhan dan sesama.

 


Doa:

Tuhan, terima kasih untuk kemampuan yang Engkau berikan kepada kami sehingga kami dapat melayani Engkau dan sesama kami. Amin.

 

Yes. 61:1-4, 8-11; Mzm. 126; 1Tes. 5:16-24; 1Tes. 5:16-24

Latest ARTICLE