15 May 2019 / Renungan Harian

APA YANG KITA LAKUKAN


media

APA YANG KITA LAKUKAN
Yohanes 10:31-42

“Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu ….” (Yoh. 10:37-38)

Konfusius yang ajaran-ajarannya mendasari agama Khong Hu Cu pernah ditanyai oleh seorang muridnya, apakah yang paling penting dalam hidup manusia? Ia menjawab yang paling penting adalah “Lie,” yaitu peran seseorang sesuai dengan jati dirinya. Contohnya, “lie” seorang petani adalah kemampuannya untuk bercocok tanam. Jika ada orang mengaku dirinya sebagai petani, tetapi ternyata tidak bisa bercocok tanam, maka ia sebenarnya tidak layak disebut sebagai petani.

Dalam bacaan kita, Yesus digugat oleh musuh-musuh-Nya. Ia dituduh mengklaim diri-Nya sebagai Anak Allah. Yesus tidak membantah tuduhan tersebut. Namun, Yesus juga menegur orang-orang yang menuduh-Nya; Ia mengatakan, jika Ia tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah Bapa, maka Ia memang tidak layak menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi jika Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah Bapa, maka Ia pantas disebut sebagai Anak Allah.

Apa yang kita lakukan sudah seharusnya berpadanan dengan klaim kita tentang jati diri kita. Adalah tidak pantas jika kita mengklaim diri sebagai anak-anak Allah, namun kita melakukan tindakan-tindakan yang tidak dikehendaki oleh Allah. Sebaliknya, jika kita memang melakukan tindakan-tindakan sebagaimana dikehendaki Allah, maka layaklah kita disebut sebagai anak-anak Allah.

REFLEKSI:

Perilaku kita haruslah berpadanan dengan klaim tentang diri kita sebagai anak-anak Allah.

Mzm. 100; Yer. 50:17-20; Yoh. 10:31-42

Latest ARTICLE