17 February 2019 / Renungan Harian

Bahagia Dan Celaka


media

Bahagia Dan Celaka
Lukas 6:17-26

"… semua orang itu disembuhkan-Nya". (Luk. 6:19)

Perikop ini adalah kisah penyembuhan yang dilakukan Yesus di hadapan banyak orang sakit. Memang tidak jelas jenis penyakit-penyakit mereka. Kisah ini segera dikuti dengan ucapan bahagia dan ucapan celaka. Kesembuhan bagi Lukas, bukan hanya soal jasmani, tetapi juga soal lahir-batin-rohani.

Rupanya Penginjil Lukas di sini tidak hendak bicara tentang penyakit jasmani semata. Misalnya, si miskin yang biasanya malu, kini disebut bahagia. Sebab, menjalani hidup miskin itu dapat tanpa berpura-pura atau memoles. Sebaliknya, si kaya tidak lagi memiliki idealisme dan mimpi sebab semuanya telah ia miliki. Yang lapar akan bahagia karena dapat merasakan puas dengan kenyang. Sebaliknya, kalau kenyang jangan lupa daratan, sehingga ketika lapar merasa celaka. Yang menangis akan berbahagia karena dapat merasakan nikmatnya tertawa lega setelah melewati kesedihannya. Namun, yang biasa banyak tertawa akan merasakan pedih ketika berdukacita. Penyakit sosial adalah penyakit yang kadar berbahayanya besar juga dibanding penyakit jasmani. Oleh karena itu, penyakit sosial harus dipandang sebagai penyakit supaya disembuhkan.

Intinya, kita harus mengendalikan diri. Kita tidak berlebihan senang ketika sedang di atas. Kita juga tidak berlebihan sedih ketika sedang di bawah. Ketika senang, kita ingat berbagi kepada sesama. Ketika sedih, kita ingat Tuhan selalu hadir bersama kita.


 

DOA:

Bimbinglah dan sembuhkanlah mereka yang menyadari penyakit sosialnya. Amin.

Yer. 17:5-10; Mzm. 1; 1Kor. 15:12-20; Luk. 6:17-26

Latest ARTICLE