09 September 2017 / Renungan Harian

Bahaya Kemunafikan


media

Bahaya Kemunafikan

Matius 23:29-36

"Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? " (Mat. 23:33)

"Lidah itu tidak bertulang!" Peribahasa itu sering menjadi pembenaran untuk sebuah kebohongan, kemunafikan, dan hilangnya integritas di dalam diri seseorang. "Lain di hati, lain di bibir, dan lain pula yang dilakukan!" Demikianlah yang sering terjadi. Integritas dikorbankan dan orang yang melakukannya tidak lagi merasa bersalah.

Tuhan Yesus mengecam praktik keagamaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, terutama kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka mengajarkan hal-hal yang disebut kebaikan menurut Taurat Musa dan memaksa orang lain untuk mempraktikkan hukum Taurat. Namun, mereka sendiri tidak mempraktikkannya. Para ahli Taurat dan orang Farisi itu sibuk dengan kelakuan mereka sendiri yang justru bertentangan dengan isi hukum Taurat. Kemunafikan terjadi dan mereka hidup dengan standar ganda. Mereka menuntut orang lain melakukan, tetapi mereka sendiri melakukan yang sebaliknya.

Kecaman pedas Tuhan Yesus itu juga peringatan bagi kita, terutama bagi mereka yang mengajarkan kebenaran firman Tuhan. Tidak cukup untuk mengetahui dan menuntut orang lain untuk melakukan kebenaran firman Tuhan itu, tetapi tidak memberlakukannya untuk diri sendiri. Melakukan firman Tuhan justru harus dimulai dari diri sendiri dan setelah itu baru mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jangan lagi ada kemunafikan di antara kita.

 


Refleksi:

Seorang sederhana yang tulus hati jauh lebih baik dan bernilai ketimbang seorang hebat yang munafik. (Charles Spurgeon)

 

Mzm. 119:33-40; Yeh. 33:1-6; Mat. 23:29-36

Latest ARTICLE