24 September 2018 / Renungan Harian

Belajar Rendah Hati


media

Belajar Rendah Hati
2 Raja-raja 5:1-14

Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya?” (2Raj. 5:13)

“Kamu tahu aku ini siapa? Aku ini masih keturunan jenderal, kamu seharusnya tidak sembarang menilang orang!” Demikian percakapan yang terjadi suatu pagi antara pengendara mobil mewah dengan seorang polisi muda yang menilangnya karena melanggar rambu lalu lintas.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang kerap menempatkan dirinya terlalu tinggi dan ogah melakukan hal-hal yang menurutnya merepotkan. Inilah yang terjadi dengan Naaman, seorang terpandang sekaligus panglima kesayangan raja Aram. Saat Naaman datang kepada Elisa untuk disembuhkan dari sakit kustanya, ia diminta untuk mandi tujuh kali dalam sungai Yordan bila ingin sembuh (2Raj. 5:10). Naaman merasa keberatan, lalu pergi dengan marah. Seandainya harus mandi pun mengapa harus di sungai Yordan, bukankah Abana atau Parpar di Damsyik lebih baik dari segala sungai di Israel? (ay. 12). Untunglah pegawai-pegawai Naaman mengingatkan bahwa kesembuhan tuannya jauh lebih penting, sehingga persyaratan apa pun mestinya dapat dijalani. Naaman pun mau mendengar dan menuruti nasihat pegawai-pegawainya dan ia menjadi sembuh.

Ibarat tanaman padi makin berisi makin merunduk, demikianlah semestinya semakin tinggi jabatan dan besarnya kekuasaan seseorang, semakin membuatnya rendah hati. Tidak perlu gengsi melakukan sebuah pekerjaan yang memang harus dikerjakan, apalagi bila hal itu demi kebaikan dirinya sendiri.


REFLEKSI:
Allah membenci kesombongan, tetapi menyukai orang-orang yang rendah hati.

Mzm. 139:1-18; 2Raj. 5:1-14; Yak. 4:8-17

Latest ARTICLE