16 March 2018 / Renungan Harian

Berani Berubah


media

Berani Berubah
Ibrani 4:14-5:4

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibr. 4:16)

Lebih mudah mana, Allah mengubah tempe menjadi daging atau mengubah hati manusia yang menginginkan daging sehingga mau menerima tempe? Tentu lebih mudah bagi Allah mengubah tempe menjadi daging ketimbang mengubah hati manusia. Alasannya, manusia bisa saja menolak apa yang diperbuat Allah.

Secara hakiki, Allah telah memperbarui relasi-Nya dengan manusia. Yesus Kristus telah datang dan memberikan diri-Nya sebagai kurban tebusan. Darah-Nya dicurahkan untuk menebus dan mendamaikan manusia dengan Allah. Yesus menjadi imam besar sekaligus kurban pendamaian itu sendiri. Itulah kesaksian Surat Ibrani. Berdasarkan kesaksian dan kabar baik itulah, penulis Surat Ibrani mengajak jemaat untuk datang kepada Allah. Jalan kepada Allah itu telah terbuka. Namun, untuk datang kepada Allah dibutuhkan keberanian. Mengapa? Sebab, datang kepada Allah berarti menjauhkan diri dari kejahatan dan berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Datang kepada Allah berarti berkomitmen untuk hidup dalam kekudusan yang sudah dikaruniakan-Nya.

Mungkin karena itulah orang enggan datang kepada Allah. Mereka enggan meninggalkan kebiasaan buruk yang telah melenakan mereka dan memberikan keuntungan tertentu. Kristus secara hakiki memang telah berkurban untuk mengubah kita. Namun, kalau kita tidak mau atau enggan mengubah hati kita, maka kita sendiri tidak akan berubah.



REFLEKSI
:
Kasih Yesus akan efektif memperbarui kita ketika kita sendiri berani untuk berubah dan mengandalkan pertolongan-Nya.

Mzm. 51:3-14; Kel. 30:1-10; Ibr. 4:14—5:4

Latest ARTICLE