10 November 2017 / Renungan Harian

Berkalungkan Kasih dan Setia


media

Berkalungkan Kasih dan Setia

Amsal 3:1-12

Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu. (Ams. 3:3)

"Sewaktu Papi berpisah denganku, ia memberikan kalung salib ini. Kata Papi, aku harus memakai ini untuk mengingat Papi dan juga untuk mengingat Tuhan yang mencintai aku", kata Dea, seorang anak berusia 8 tahun. Kalung itu mengingatkan Dea kepada ayahnya. Saat Dea merindukan ayahnya di tempat yang jauh, ia memegang kalung itu dan membayangkan sang ayah yang mencintainya sekalipun ayahnya tidak hadir secara fisik. Kalung itu menjadi simbol cinta ayahnya kepada Dea.

Penulis Amsal memberi nasihat, "Kalungkanlah itu pada lehermu". Kalung yang dimaksud bukanlah benda nyata, melainkan kiasan dari kasih dan setia. "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau" (Ay. 3). Maksudnya, biarlah kasih dan setia selalu ada di dalam hati setiap orang percaya. Dengan demikian, kita akan mendapatkan penghargaan bukan hanya dari manusia, melainkan juga dari Allah (ay. 4).

Ada banyak tawaran di dunia yang dapat membuat kita jauh dari Tuhan. Apa yang sepatutnya kita kalungkan? Maksudnya, apa bekal atau pegangan kita sehingga kita tetap mendapat penghargaan dari Allah dan manusia? Hari ini kita belajar dari Amsal untuk memelihara kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama. Kalungkanlah itu pada leher kita, simpanlah selalu di dalam hati kita.

 


Refleksi:

Tuhan menghargai orang yang memelihara kasih dan kesetiaan.

 

Mzm. 70; Am. 3:1-12; Why. 9:13-21

Latest ARTICLE