12 March 2017 / Renungan Harian

Bukan Malam Biasa


media

Bukan Malam Biasa

Yohanes 3:1-17

"Dan sama seperi Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan..." (Yoh.3:14)

Malam itu bukan malam biasa bagi Yesus. Ia kedatangan tamu. Ia memang sering menerima tamu. Kebanyakan dari mereka memohon kesembuhan. Namun, yang datang kali ini bukan tamu biasa, ia tidak meminta kesembuhan. Ia ingin belajar dari Yesus. Namanya Nikodemus, seorang Farisi.

Yesus menerimanya dengan baik, meski banyak orang Farisi membenci Yesus. Yesus tahu Nikodemus hendak mengenal-Nya lebih dalam. Kepada Nikodemus, Yesus mempercakapkan hal yang penting dalam hidup ini, yaitu soal kelahiran kembali. Meski Nikodemus seorang Farisi, orang yang taat akan Taurat, Yesus tetap mengundangnya untuk "dilahirkan kembali". Dilahirkan kembali berarti percaya kepada Yesus. Apa yang dilakukan Yesus itu seperti ular tembaga yang dibuat Musa. Orang yang melihat ular tembaga itu langsung sembuh. Hanya melihat. Tetapi, itu pun bukan hal mudah. Orang yang hanya mengandalkan rasio tentu sukar mengarahkan pandangan ke ular tembaga itu. Memandang ular tembaga itu analog dengan mempercayai kematian Yesus disalib sebagai tebusan sempurna, menggantikan manusia berdosa.

Kelihatannya gampang. Masalahnya: apakah orang cukup rendah hati untuk percaya? Cukup rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya butuh keselamatan?

 


Refleksi:

Butuh kerendahan hati untuk percaya.

 

Kej.12:1-4a; Mzm.121; Rm.4:1-5, 13-17; Yoh.3:1-17/Mat.17:1-9

Latest ARTICLE