04 April 2017 / Renungan Harian

Bukan Pemberi Harapan Palsu


media

Bukan Pemberi Harapan Palsu

2 Raja-raja 4:18-37

"Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." (2Raj. 4:30)

Dalam musim kemarau yang panjang, seorang petani harus ekstra keras mencari air agar padi yang ditanamnya tetap bisa hidup. Biaya yang dikeluarkan sering kali tidak sebanding dengan hasil panen yang diperolehnya. Meskipun demikian, ia tetap melakukan itu agar mereka - ia dan seisi rumahnya - bertahan hidup.

Segala upaya dilakukan orang agar dapat bertahan dan keluar dari segala krisis yang melandanya. Perempuan Sunem pun melakukan hal serupa ketika anak tunggalnya meninggal. Kematian anaknya bukan sesuatu yang ia harapkan. Beragam tanya berkecamuk dalam benaknya. Apakah Allah sungguh mengasihinya melalui peristiwa yang menyakitkan itu? Oleh karena itu, ia segera mengklarifikasi peristiwa itu kepada Elisa (ay.28). Tekad yang kuat didasari kepercayaan yang sungguh kepada Allah ditunjukkan perempuan itu demi menyelamatkan anaknya (ay.30). Setelah ia membawa anaknya ke Nabi Elisa, peristiwa yang menakjubkan kembali lagi terjadi. Anak yang telah meninggal itu hidup kembali dengan kuasa Allah.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, Allah yang tidak tinggal diam. Ia terus berkarya hingga saat ini. Ia mengetahui setiap detail peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Ketika kita dilanda pergumulan, ingat singkatan ini: PUSH (Pray Until Something Happens). Doa terletak pada tekad dan upaya kita untuk bisa bertahan di tengah persoalan hidup sampai Allah menyatakan kuasa-Nya kepada kita.

 


Doa:

Tuhan, nyatakanlah kuasa-Mu di tengah kesulitan dan pergumulan yang kami hadapi. Amin.

 

Mzm. 143; 2Raj. 4:18-37; Ef. 2:1-10

Latest ARTICLE