01 May 2018 / Renungan Harian

Damai Sejahtera Yang Berkeadilan


media

Damai Sejahtera Yang Berkeadilan
Yesaya 32:9-20

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. (Yes. 32:17)

Di tahun 1970-an kelompok musik Koes Plus menciptakan lagu yang menggambarkan Indonesia sebagai “kolam susu” di mana “kail dan jala cukup menghidupi [kita]” dan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Semua orang bisa hidup makmur dan sejahtera. Lagu itu enak didengar, tetapi terasa menyayat hati di tengah-tengah kemiskinan yang merajalela di sekitar kita.

Nabi Yesaya mengingatkan bahwa damai sejahtera hanya bisa terwujud di tempat yang memiliki kebenaran. Ada masalah penerjemahan di sini. Istilah “tsedaqa” (bhs. Ibrani) sebenarnya lebih tepat jika diterjemahkan dengan “keadilan” karena ada kata lain untuk “kebenaran,” yaitu emet; dari kata itu kita mendapatkan kata “amin” (sesungguh-sungguhnya, sebenar-benarnya).

Firman Tuhan ini ingin menegaskan bahwa damai sejahtera hanya bisa terwujud ketika orang memberlakukan keadilan. Tanpa keadilan tidak akan ada damai sejahtera. Tanpa keadilan, “damai sejahtera” bisa dengan mudah dijadikan kedok untuk menutupi penindasan. Orang tidak diperkenankan mengajukan protes, tidak boleh menentang, apalagi melawan, agar “damai sejahtera” dan harmoni bisa dipertahankan. Manipulasi seperti itu bisa terjadi dalam keluarga, gereja, kantor, toko, atau di mana pun juga. Shalom jelas mensyaratkan keadilan karena damai sejahtera sejati adalah damai yang berkeadilan.



REFLEKSI: Keadilan adalah syarat utama bagi datangnya damai sejahtera sejati. Tidak ada jalur alternatif dan tidak ada jalan memutar.

Mzm. 80; Yes. 32:9-20; Yak. 3:17-18

Latest ARTICLE