14 July 2018 / Renungan Harian

Damai


media
Damai
Mazmur 85:9-14
 
Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai …?” (Mzm. 85:9a)
Setiap orang, siapa pun itu, anak kecil atau orang dewasa, pasti selalu berharap akan kehidupan yang damai. Kita tidak menginginkan hidup dalam penderitaan. Sayangnya, banyak orang mengira bahwa damai itu, ketika kita memiliki harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi dan hidup yang populer. Bila hidup damai itu saat kita memiliki harta yang berlimpah, mengapa kita menyaksikan orang kaya yang bunuh diri? Bila jabatan dan popularitas yang membuat orang bahagia, mengapa kita sering menyaksikan pejabat atau artis yang terkenal kecanduan narkoba? Bukankah semua itu menjadi penanda bahwa harta dan kekayaan, jabatan dan popularitas yang tinggi tidak menjadi acuan tentang hidup bahagia! Bila semua itu bukan membuat orang bahagia, lantas, apakah yang membuat orang bahagia?
Dalam doanya, pemazmur berkata bahwa ia mau mendengar firman Tuhan. Ia mau mendengar firman Tuhan karena ia tahu, Tuhan selalu berbicara tentang damai, bahkan pemazmur percaya bahwa Tuhan adalah pusat dari damai itu. Mengabaikan firman Tuhan berarti hidup di dalam kebodohan dan hidup dalam kebodohan sangat dekat dengan hidup dalam penderitaan. Dengan demikian, pemazmur meyakini bahwa hidup damai itu, ketika kita mengalami persekutuan yang mesra dengan Tuhan. Kita selalu mendengar firman-Nya.
Saudaraku, hati yang damai bukanlah ketika kita memiliki benda-benda yang mati, melainkan ketika kita terarah kepada Tuhan yang hidup. Percayalah!

REFLEKSI:
Tuhan adalah sumber dan pusat segalanya, termasuk hati yang damai. Karena itu, datanglah kepada-Nya.
 
Mzm. 85:9-14; Am. 4:6-13; Luk. 1:57-80

Latest ARTICLE