10 October 2017 / Renungan Harian

Debu yang Dikasihi


media

Debu yang Dikasihi

Mazmur 144

Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya? (Mzm. 144:3)

"Apakah Tuhan membutuhkan manusia?" Pertanyaan itu memenuhi kepala saya. Tuhan maha segalanya sehingga apa pun yang menjadi kehendak-Nya tentu bisa didapatkan-Nya.

"Apakah Tuhan butuh persembahan dari manusia?" Tentu tidak. Apalah arti persembahan itu dibandingkan dengan seluruh alam semesta yang diciptakan Tuhan.

"Apakah Tuhan butuh puji-pujian dari manusia?" Saya yakin Tuhan bukan sosok yang gila hormat dan pujian.

"Apakah Tuhan butuh pertolongan kita?" Buat apa? Dengan firman-Nya saja, ia bisa menciptakan alam semesta; apalah arti pertolongan yang bisa kita berikan kepada-Nya?

"Jadi, siapakah kita di hadapan-Nya?" Siapakah kita, sehingga Ia mau mengindahkan kita?"

Ketika manusia melakukan sesuatu untuk sesamanya, tidak jarang ada pamrih atau pertimbangan untung-ruginya. Banyak tindakan "baik" yang kita perbuat terhadap sesama sebenarnya merupakan bentuk balas jasa atau bahkan "investasi" untuk masa depan. Namun, jasa apa yang perlu Tuhan balas kepada kita? Keuntungan investasi apa yang bisa Tuhan dapatkan dari manusia? Sesungguhnya, itulah cinta kasih Tuhan kepada manusia. Manusia yang dari debu hina dijadikan mulia bahkan sampai Ia rela mati untuk menebusnya.

"Terima kasih Tuhan! Manusia yang dari debu hina, dijadikan mulia, bahkan Engkau sampai rela mati untuk menebusnya!"

 


Doa:

Tuhan, terima kasih untuk cinta kasih-Mu kepada kami. Amin.

 

Mzm. 144; Yes. 27:1-6; 2 Kor. 5:17-21

Latest ARTICLE