14 October 2017 / Renungan Harian

Diam Dalam Rumah TUHAN


media

Diam Dalam Rumah TUHAN

Mazmur 23

...dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mzm. 23:6)

Relasi antara domba dan gembalanya adalah relasi dua arah. Ada saatnya domba menyuarakan sesuatu dan sang gembala akan menyikapinya. Di lain kesempatan, sang gembala yang menyampaikan sesuatu agar dombanya mengikutinya.

Demikian pula halnya dalam relasi kita dengan Tuhan. Namun, sebagai dombanya, kita sering menuntut banyak hal kepada Sang Gembala sampai lupa bahwa Sang Gembala pun hendak menyampaikan sesuatu kepada kita.

"Aku akan diam dalam rumah TUHAN". Kata "diam" di sini sebenarnya bermakna "tinggal" atau "menetap". Namun, menarik juga jika kita memaknainya dalam konteks kehidupan beribadah karena dalam "rumah Tuhan" sekalipun, kita sering kali masih bising dan ribut. Banyak orang beribadah ke gereja dengan suara bising. Kita masih mendengar suara ringtone HP di tengah kekhusyukan kebaktian. Kita masih mendengar sas-sus orang bercengkerama di tengah ibadah. Selain itu, keributan juga tidak melulu berupa suara. Kegaduhan bisa datang dari berbagai agenda dan pikiran lain yang mengalihkan perhatian dalam benak kita saat ibadah di hari Minggu.

Pertanyaannya, kapan kita bisa diam dan mendengar suara Sang Gembala menyapa kita dengan jernih? Marilah kita belajar diam dalam rumah Tuhan, agar tuntunan Sang Gembala jelas terdengar dalam hidup kita.

 


Doa:

Tuhan, kami ingin belajar diam di hadapan-Mu. Amin.

 

Mzm. 23; Yes. 24:17-23; Mrk. 2:18-22

Latest ARTICLE