07 March 2018 / Renungan Harian

Happy Ending


media

Happy Ending
Ezra 6:1-16

Maka orang Israel, para imam, orang-orang Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah Allah ini dengan sukaria. (Ezr. 6:16)

Orang cenderung menyukai film yang akhirnya bahagia atau happy ending. Kebahagiaan di ujung film itu memberikan kepuasan tersendiri. Hal ini bisa jadi menggambarkan hasrat kita yang memang menginginkan kehidupan yang bahagia. Karena itu, kita berusaha dan berjuang dalam hidup.

Israel juga berjuang. Status sebagai umat pilihan Allah tidak membuat mereka cukup duduk manis dan menikmati sukacita tanpa perjuangan. Mereka harus berjuang untuk membangun kembali kehidupan setelah pulang dari pembuangan. Bait Allah sebagai simbol kehadiran Allah pun perlu dibangun lagi dan itu terjadi melalui proses yang cukup pelik. Untunglah Allah membuka jalan dengan memakai Koresh, raja Persia. Itu artinya Allah dapat memakai siapa saja untuk menolong umat-Nya. Pertolongan Allah datang lewat berbagai macam cara yang tidak terduga. Kejutan itu juga terjadi dalam hidup orang Israel. Bait Allah dibangun kembali dan mereka menahbiskannya dengan sukaria. Happy ending.

Kisah ini mengajarkan kita tentang dua hal. Pertama, kebahagiaan itu hasil perjuangan dan bukan hadiah yang didapat begitu saja. Namun, perlu juga diingat bahwa Allah dapat menghadirkan kejutan bagi kita. Pertolongan Allah datang lewat perjuangan yang kita jalani dan hal itu memberikan sukacita tersendiri bagi kita. Kedua, kita harus berserah kepada Allah dalam setiap proses. Jika demikian halnya, niscaya kita akan mengalami happy ending.


 

REFLEKSI:

Proses hidup mendidik kita untuk sadar bahwa kehidupan dan kebahagiaan adalah anugerah Allah yang harus diperjuangkan.

Mzm. 84; Ezr. 6:1-16; Mrk. 11:15-19

Latest ARTICLE