02 March 2017 / Renungan Harian

Hati yang Terbuka


media

Hati yang Terbuka

Yunus 3:1-10

Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasannya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yun.3:6)

Kisah pertobatan Niniwe sungguh patut disimak. Niniwe adalah musuh Israel. Mereka tidak percaya kepada Allah Israel, apalagi kepada nabi-nabi-Nya. Namun, ketika Yunus berseru, "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan" (ay.3). Orang Niniwe percaya kepada seruan Yunus itu. Mereka tidak menganggap sepi berita itu dan percaya bahwa semuanya itu akan terjadi. Hati orang-orang Niniwe itu terbuka terhadap firman Allah. Kepercayaan terhadap firman itu membuat mereka melakukan tindakan konkret: sepakat puasa dan setiap orang, baik dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung (ay.5).

Raja Niniwe juga berhati terbuka. Penulis Kitab Yunus mencatat: "Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasannya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu." (ay.6). Ia sungguh merasa bersalah sehingga ia tidak membela diri. Ketika melihat rakyatnya memaklumkan puasa, sang Raja pun mengakui kesalahannya. Karena itu, ia memaklumatkan orang dan hewan ternak berpuasa, serta meninggalkan segala kejahatan dan berharap: "Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya" (ay.9). Allah pun mengabulkan permohonan mereka.

Hati terbuka, seperti ditunjukkan raja dan rakyat Niniwe, merupakan hal penting dalam hidup. Hati terbuka mendorong kita memohon maaf saat melakukan kesalahan.

 


Refleksi:

Jangan menutup pintu hati kita!

 

Mzm.51; Yun.3:1-10; Rm.1:1-7

Latest ARTICLE