16 June 2018 / Renungan Harian

Haus Kekuasaan


media
Haus Kekuasaan
2 Raja-raja 14:1-14
 
Memang engkau telah mengalahkan Edom, sebab itu engkau menjadi tinggi hati. Cukuplah bagimu mendapat kehormatan itu dan tinggallah di rumahmu.” (2Raj. 14:10)
Pernahkah Anda merasa haus terus-menerus? Baru saja minum, tak berapa lama kemudian haus lagi, minum lagi, haus lagi, demikianlah terus berulang. Sepertinya air yang kita minum itu tidak mampu memuaskan dahaga kita. Kalau hal itu sering terjadi, tentunya itu tidak wajar dan jangan-jangan kita sedang mengalami sakit tertentu.
Kehausan bisa juga terjadi secara mental, misalnya haus kekuasaan. Haus kekuasaan itu artinya kita sudah mempunyai kekuasaan, tetapi rasanya belum puas dan ingin terus menambah kekuasaan. Amazia adalah raja Yehuda yang ingin terus menambah kekuasaannya. Ia membunuh pegawai-pegawai yang dulu membunuh ayahnya. Amazia menambah kekuasaannya dengan mengalahkan Edom dan merebut Sela. Tidak puas dengan semua itu, ia menantang Yoas, raja Israel Utara, untuk mengadu kekuatan dengan harapan ia akan menang. Sebetulnya Raja Yoas sudah mengingatkan supaya Amazia tidak tinggi hati dan mencukupkan diri dengan kekuasaannya, tetapi Amazia tetap menantang Yoas. Akhirnya, Amazia, raja yang haus kekuasaan itu, kalah.
Kekuasaan seharusnya dihayati sebagai anugerah Tuhan untuk mengatur keluarga, pekerjaan, gereja, dan masyarakat agar menjadi lebih baik. Kekuasaan seharusnya dipakai untuk melayani Tuhan dan sesama, bukan untuk melayani diri sendiri dan membuat kita tinggi hati dan makin haus kekuasaan.

DOA:
Tuhan, ajar kami untuk bisa mengatur diri sendiri sebelum mengatur orang lain. Amin.
 
Mzm. 92:1-5, 13-16; 2Raj. 14:1-14; Mrk. 4:1-20

Latest ARTICLE