19 July 2018 / Renungan Harian

Hidup Dan Mati: Sebuah Realitas


media
Hidup Dan Mati: Sebuah Realitas
Mazmur 23
 
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku …. (Mzm. 23:4)
Renungan kita pada Sabtu, 14 Juli lalu adalah tentang keterbatasan sebagai manusia. Keterbatasan kita yang paling jelas adalah kematian. Siapa pun kita, akan mengalami dan menjalaninya.
Ketika pemazmur berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,” maka ia sedang berbicara tentang keterbatasannya sebagai manusia yang melihat bayangan kematian. Karena kata “lembah kekelaman” adalah terjemahan dari bahasa Ibrani tsalmaveth, yang artinya bayang-bayang kematian. Alkitab bahasa Inggris dengan tepat menerjemahkan dengan ‘the shadow of death.’ Dalam melihat bayangan kematian itu, kata pemazmur, dia tidak takut bahaya. Ketidaktakutannya melihat bayangan kematian karena ia sangat menyadari bahwa Tuhan akan selalu bersama dan menolongnya. Pertolongan dan penyertaan Tuhan itu sebagai kekuatan dan penghiburan baginya dalam menjalani dan menghadapi bayang-bayang maut.
Seperti kehidupan, bayangan kematian pun adalah sebuah realitas yang dihadapi setiap manusia. Bila dalam menjalani realitas kehidupan Tuhan mengajak kita untuk tidak takut maka dalam menjalani realitas bayangan kematian pun kita diajak untuk tidak takut. Karena baik dalam kehidupan maupun kematian ada kuasa Tuhan yang bersama kita. Ketika kita menjalani hidup dengan sebaik mungkin, sesungguhnya kita sedang mempersiapkan kematian dengan baik. Jalan terbaik menjalani hidup ini adalah bersama Sang Gembala Baik.

REFLEKSI:
Hidup dan matiku milik Kristus.
 
Mzm. 23; Yer. 10:1-16; Kol. 1:15-23

Latest ARTICLE