29 May 2018 / Renungan Harian

Hikmat Dan Kekuatan Allah


media

Hikmat Dan Kekuatan Allah
1 Korintus 2:1-10

Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1Kor. 2:5)

Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan yang sangat genius. Ia menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk menyelidiki asal mula Alam Semesta dan teori Lubang Hitam. Bukunya A Brief History of Time masuk dalam daftar bestseller London Sunday Times selama lebih dari empat tahun; rekor yang belum pernah tertandingi dalam sejarah penerbitan buku hingga saat ini. Namun, Hawking menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak percaya adanya Tuhan.

Dalam kisah tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, buah yang membuat manusia tergoda adalah buah dari pohon pengetahuan (Kej. 2:17). “Pohon itu menarik hati karena memberi pengertian” (Kej. 3:6) dan membuat manusia “menjadi seperti Allah” (Kej. 3:5).

Ketidakpercayaan seorang ilmuwan seperti Stephen Hawking bukanlah hal baru. Itu bukan berarti bahwa iman harus meniadakan pengetahuan. Tuhan Yesus sendiri meminta supaya kita mengasihi Allah dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Persoalannya tidak terletak pada ada atau tidaknya ruang bagi hikmat manusia dalam rumah iman kita, tetapi bahwa ada yang lebih utama daripada hikmat manusia, yaitu hikmat dan kekuatan Allah. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kalkulasi dengan hikmat manusiawi yang kita miliki. Kita harus memulai dengan langkah iman untuk percaya pada Allah dengan segala hikmat dan kekuatan-Nya sebagaimana yang bisa kita saksikan di dalam diri Yesus Kristus.


REFLEKSI:
Kita harus belajar untuk percaya dulu supaya mengerti, bukan mengerti dulu baru mau percaya.

Mzm. 20; Kel. 25:1-22; 1Kor. 2:1-10

Latest ARTICLE