20 September 2018 / Renungan Harian

Hikmat Manusia vs Hikmat Allah


media

Hikmat Manusia vs Hikmat Allah
1 Korintus 2:1-5

Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1Kor. 2:5)

“Wah, khotbah pendeta tadi sungguh mengesankan. Pemilihan kata-kata dan kalimatnya sungguh bagus. Banyak orang merasa diberkati oleh kotbahnya,” demikian kata salah seorang yang baru menghadiri kebaktian minggu di salah satu gereja. Sering orang terkesan pada pengkhotbah yang dilihat dan didengarnya menyenangkan, tetapi belum tentu isi khotbah orang itu dapat dipertanggungjawabkan secara benar. Bisa saja sang pengkhotbah jatuh ke dalam pengultusan pribadi dengan kesaksian yang sebagian besar menyangkut keberhasilan dirinya sendiri.

Di dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat Korintus, Rasul Paulus menuliskan bahwa dirinya mendatangi Jemaat Korintus tidak dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada mereka (1Kor. 2:1). Sebaliknya Rasul Paulus merasa lemah, takut, dan gentar berhadapan dengan Jemaat Korintus yang terkenal karena di dalamnya banyak terdapat orang cerdik cendekia, orang berhikmat, dan yang dapat berkhotbah seribu kali jauh lebih baik dari Rasul Paulus. Berhadapan dengan mereka, Rasul Paulus nampak sebagai orang biasa yang sepenuhnya bergantung pada keyakinannya akan kuasa Roh Kudus (1Kor. 2:4).

Hikmat manusia kerap tertuju pada pemujaan diri sendiri. Hikmat Allah nampak dari kerendahan hati, bahwa segala kesanggupan kita melayani hanyalah karena anugerah dan kekuatan dari Allah semata.


REFLEKSI:
Hikmat manusia mencari kemuliaan bagi diri sendiri, sementara hikmat Allah mencari kemuliaan bagi Allah.

Mzm. 54; Hak. 6:1-10; 1Kor. 2:1-5

Latest ARTICLE