16 March 2017 / Renungan Harian

Iman Sebatas Perut


media

Iman Sebatas Perut

Keluaran 16:1-8

"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!" (Kel.16:3)

Kisah di padang gurun Sin ini mungkin membuat kita heran. Umat Israel telah merasakan pertolongan Tuhan: mulai dari sepuluh tulah di Mesir, penyeberangan Laut Teberau, hingga pengubahan air pahit menjadi manis di Mara. Namun, ini memang anehnya, mengapa mereka masih bersungut-sungut kepada Musa? Tampaknya, sungut-sungut umat Israel berkait erat dengan kondisi perut mereka. Penulis Kitab Keluaran mencatat bahwa umat Israel berhenti bersungut-sungut ketika semuanya serba baik. Sebagai contoh, saat mereka tiba di Elim, tak ada sungut-sungut yang keluar dari mulut mereka karena di Elim terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma.

Di padang gurun Sin mereka mengatakan bahwa mereka lebih memilih mati di Mesir sebagai budak ketimbang mati di padang gurun sebagai orang merdeka (ay.2). Bayangkan, mereka lebih senang mati sebagai budak asal perut mereka kenyang! Iman mereka agaknya hanya sebatas perut. Ketika perut lapar, mereka berseru, "Lebih baik kami mati saja!" Iman mereka tergantung kondisi perut mereka. Mereka agaknya lupa bahwa mereka adalah umat pilihan yang pasti akan dipelihara Allah sendiri - sekali lagi, karena mereka adalah umat kepunyaan Allah!

Janji akan hujan roti memperlihatkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan Israel mati kelaparan. Allah peduli.

 


Refleksi:

Allah tidak pernah meninggalkan umat pilihan-Nya.

 

Mzm.95; Kel.16:1-8; Kol.1:15-23

Latest ARTICLE