14 September 2017 / Renungan Harian

Iri Hati


media

Iri Hati

Kejadian 37:12-36

Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. (Kej. 37:23)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "iri hati" berarti perasaan tidak senang melihat kelebihan orang lain. Hal itu muncul karena apa yang dicapai orang lain lebih baik dari apa yang kita capai, apa yang dimiliki orang lain tidak kita miliki, dan perasaan tidak ingin disaingi oleh orang lain. Iri hati adalah sifat negatif yang juga muncul dari ketidakhadiran rasa syukur atas apa yang sudah ada dan dimiliki saat ini. Sifat ini pada akhirnya dapat melahirkan sikap tidak menyukai orang yang melebihi dirinya. Parahnya, sifat iri hati ini bisa muncul dari kesadaran bahwa dirinya tidak mungkin bisa seperti orang lain itu.

Para saudara Yusuf jelas iri terhadap Yusuf yang adalah anak kesayangan Yakub. Belum lagi, mereka pada dasarnya sudah memiliki perasaan tidak suka kepada Yusuf yang dianggap sebagai pemimpi besar, pemimpi yang mimpinya seakan-akan menempatkan saudara-saudaranya lebih rendah kedudukannya dari dirinya. Peristiwa jubah maha indah itu agaknya menjadi semacam akumulasi kekesalan, kebencian, dan iri hati saudara-saudara Yusuf. Hasilnya, mereka melakukan tindakan yang jahat. Perbuatan mereka pun mendatangkan duka mendalam bagi Yakub, ayah mereka sendiri.

Belajar mensyukuri hidup dan juga bersukacita atas pencapaian yang diperoleh orang lain dapat menjauhkan kita dari perasaan iri yang tidak mendatangkan kebaikan apa pun.

 


Refleksi:

Iri hati hanya akan mendatangkan kehancuran. Baiklah kita bersukacita atas pencapaian orang lain.

 

Mzm. 103:[1-7] 8-13; Kej. 37:12-36; 1Yoh. 3:11-16

Latest ARTICLE