26 December 2017 / Renungan Harian

Jangan Mengeraskan Hati


media

Jangan Mengeraskan Hati

Kisah Para Rasul 6:8-15; 7:51-60

"Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu." (Kis. 7:51)

Stefanus ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah menghujat Allah, menghina bait-Nya, dan melanggar hukum Taurat. Itu merupakan pelanggaran berat. Hukuman maksimalnya hukuman rajam: dilempari batu sampai mati. Itulah yang kemudian diterima Stefanus sehingga ia mati sebagai martir karena mempertahankan imannya.

Mengeraskan hati terhadap berita keselamatan Tuhan Yesus merupakan sikap yang diambil golongan elit umat Yahudi,seperti pemuka agama dan para tua-tua yang punya kedudukan tinggi. "Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus", seru Stefanus lantang. Pernyataan itu adalah pernyataan yang keras. Mereka disebut sebagai orang-orang yang tidak bersunat hati dan telinga. Padahal, ajaran tentang sunat merupakan ajaran Taurat yang sangat penting dalam agama Yahudi. Kritik Stefanus itu sangat keras bagi telinga mereka. "Mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi" (ay. 54). Mereka menjadi sangat marah kepada Stefanus.

Seringkali kita juga sudah tahu apa yang harus dilakukan seturut firman Tuhan, tetapi  kita tidak melakukannya. Bahkan kita menjadi marah jika ada orang lain yang mengingatkan kita tentang kesalahan kita. Sesungguhnya kemarahan itu tidak mengerjakan keselamatan bagi kita. Marilah kita melembutkan hati dalam mendengar kritik terhadap kita.

 


Doa:

Tuhan, kami bersedia mendengarkan kritik terhadap kami. Amin.

 

Mzm. 148; Yer. 26:1-9, 12-15; Kis. 6:8-15; 7:51-60x

Latest ARTICLE