21 May 2018 / Renungan Harian

Kasih Allah Bukan Untuk Dipermainkan


media

Kasih Allah Bukan Untuk Dipermainkan
Yoel 2:18-29

“… Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia … anak-anakmu laki-laki dan perempuan … orang-orangmu yang tua … teruna-terunamu …. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku ….” (Yl. 2:28-29)

Ketika bangsa Israel berada dalam kesesakan, Nabi Yoel mendorong para imam agar mereka berdoa, “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” (ay. 17).

Di dalam doa itu tersirat sebuah klaim bahwa jika umat Allah adalah milik Allah sendiri, maka mereka sudah seharusnya ditolong oleh Allah. Allah pun tidak berdiam diri melihat kesesakan umat-Nya. Ketika umat Allah menunjukkan pertobatan, maka Allah mengampuni dan menyelamatkan mereka. Allah bahkan berjanji mencurahkan Roh-Nya kepada semua orang: laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tuan maupun budak.

Persoalannya adalah, mengapa pertobatan sering kali kita lakukan hanya setelah kita benar-benar berada dalam kesesakan? Allah memang Mahakasih, tetapi tidak pantas jika kita mempermainkan kasih Allah tersebut.

Kita sering memperlakukan Allah seperti ban serep mobil. Selama ban-ban lainnya bagus dan tidak rusak, maka kita tidak pernah ingat pada ban serep. Baru setelah salah satu ban kita rusak, maka kita ingat dan membutuhkan ban serep. Namun, nanti setelah ban yang rusak bisa dipergunakan kembali, kita akan menyimpan ban serep di tempatnya dan dilupakan lagi sampai ban kita rusak lagi. Betapa menyedihkan.



REFLEKSI:
Allah Yang Mahakasih bersedia mencurahkan Roh-Nya kepada kita semua. Sudah sepantasnya kita tidak mempermainkan kasih-Nya.

Mzm. 104:24-34, 35b; Yl. 2:18-29; 1Kor. 12:4-11

Latest ARTICLE