11 February 2018 / Renungan Harian

Kebahagiaan yang Bermakna


media

Kebahagiaan yang Bermakna

Markus 9:2-9

Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Mrk. 9:5)

Rasa bahagia dapat dialami siapa pun, entah kaya, entah miskin. Rasa bahagia datang tanpa pandang bulu, sama halnya dengan rasa sedih. Rasa bahagia bisa cepat datang dan bisa terburu-buru pergi. Persis seperti rasa sedih. Datang tanpa diundang, pergi tanpa permisi.

Ketika di puncak bukit itu, Petrus melihat Tuhan dalam kemuliaan bersama Elia dan Musa, ia pun mengungkapkan kebahagiaannya. "Betapa bahagianya kami berada di tempat ini." Saking bahagianya, Petrus ingin mendirikan tiga kemah, satu untuk Tuhan dan dua lainnya untuk Musa dan Elia. Sepertinya Petrus punya harapan ingin mengalami kebahagiaan itu berlama-lama. Jika ia bisa menahan kemuliaan Tuhan di dalam kemah yang didirikannya, tentu perasaan bahagia itu selamanya akan berdiam. Namun, Petrus tidak lama berada dalam keterpesonaan itu. Sejurus kemudian Petrus dikejutkan dengan suara dari dalam awan: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia". Petrus kembali terkejut ketika melihat Yesus seorang diri lagi.

Hidup memberikan banyak kejutan. Beruntunglah, Petrus dan kawan-kawan selalu bersama Yesus. Kejutan itu pun kemudian dialami dalam iman. Petrus menceritakan hal itu dalam suratnya (2Ptr. 1:17-18). Rasa bahagia akan bermakna ketika direspon dengan iman. Iman kepada Tuhan dibutuhkan untuk dapat mencerna semua pengalaman bahagia maupun sedih sehingga menjadi pengalaman bermakna.

 


DOA:

Tuhan, kami ingin menghayati pengalaman hidup kami di dalam iman kami kepada-Mu. Amin.


2Raj. 2:1-12; Mzm. 50:1-6; 2Kor. 4:3-6; Mrk. 9:2-9

Latest ARTICLE