30 September 2019 / Renungan Harian

KEMANTAPAN HIDUP BAGI KEMULIAAN ALLAH


media

Wahyu 3:14-22

"Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Why. 3:16)

“Bagaikan air di daun talas.” Itulah sebuah peribahasa yang menggambarkan orang yang tidak memiliki sikap atau pendirian mantap. Orang seperti itu agaknya tidak benar-benar berjuang dalam hidupnya. Ia takut memikul risiko jika memilih sesuatu dengan kemantapan. Oleh karena itu, agar merasa nyaman, ia pun memilih secara longgar: tidak dingin dan tidak panas, suam-suam kuku saja. Sebab, jika ia memilih dingin saja atau panas saja, maka ia pun akan menanggung risiko pilihan mantapnya.

Jemaat Tuhan di Laodikia rupanya tergolong sebagai jemaat yang sejahtera secara ekonomi. Namun sayang, jemaat ini memilih untuk hidup tidak sungguh-sungguh sebagai murid-murid Kristus. Oleh penulis kitab Wahyu, mereka dikatakan sebagai suam-suam kuku, tidak dingin dan tidak panas dalam memuliakan Allah. Pasalnya, kemantapan hati mereka lebih terarah kepada harta kekayaan dunia daripada kepada Tuhan. Harta kekayaan telah membuat mata mereka buta terhadap jalan, kebenaran, dan hidup yang sejati di dalam Tuhan. Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada mereka agar mereka sungguh bertobat dan memantapkan hati untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

Kemantapan hati hidup bagi kemuliaan Allah berarti siap memikul risiko sebagai murid Tuhan. Memang, hal itu tidak mudah. Tantangan terbesarnya adalah diri kita sendiri, tepatnya nafsu keinginan kita. Hanya dengan mengundang Tuhan masuk ke dalam hati kita, kita pun mampu memantapkan hati: hidup memuliakan Allah.

REFLEKSI: Kemantapan hidup bagi kemuliaan Allah pertama-tama ditunjukkan dengan kerelaan hati memikul risiko hidup sebagai murid Tuhan.

Mzm. 62; Am. 6:8-14; Why. 3:14-22

Latest ARTICLE