16 June 2017 / Renungan Harian

Keras Hati


media

Keras Hati

Kisah Para Rasul 7:35-43

Musa ini, yang telah mereka tolak, dengan mengatakan: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim? (Kis. 7:35)

Adalah seorang bapak yang mengasihi anaknya.  Ia memenuhi kebutuhan anaknya, merawatnya dengan cinta kasih, dan selalu menuntunnya pada kebaikan. Namun, sayangnya, si anak sering tidak melihat kebaikan hati ayahnya. Ia sering melukai hati ayahnya, mengeraskan hati, dan tidak mendengar didikan ayahnya. Tentunya, ayahnya memikirkan cara agar bisa menyadarkan anaknya.

Gambaran anak itu sama seperti gambaran Israel. Ketika Stefanus berdebat di hadapan Mahkamah Agama, ia memaparkan kekerasan hati orang Israel. Mereka telah diselamatkan Allah melalui kepemimpinan Musa, tetapi mereka menolak Allah. Mereka malah membuat patung anak lembu dan mempersembahkan persembahan kepada berhala itu. Melihat kerasnya hati bangsa Israel, Tuhan menghukum mereka ke pembuangan di Babel. Di tanah pembuangan, Tuhan mendidik umat-Nya untuk memahami kasih-Nya dan jalan kebenaran-Nya. Dengan demikian, umat tidak lagi mengeraskan hatinya dan bisa merasakan kasih Tuhan.

Apakah kita pernah mengeraskan hati? Apakah kita sulit menerima didikan Tuhan melalui siapa pun yang diberikan Tuhan dalam hidup kita, entah itu orangtua, guru, atau pendeta? Bila kita tidak mendengarkan sesama manusia, Tuhan bisa memakai cara-Nya sendiri untuk melembutkan hati kita. Tentu itu akan lebih berat bagi kita. Marilah kita tidak mengeraskan hati di hadapan-Nya.

 


Doa:

Tuhan, lembutkanlah hati kami dengan kasih-Mu. Amin

 

Mzm. 100; Kel. 4:27-31; Kis. 7:35-43

Latest ARTICLE