23 March 2017 / Renungan Harian

Ketaatan Tanpa Syarat


media

Ketaatan Tanpa Syarat

1 Samuel 15:10-21

"Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." (1Sam.15:11)

Samuel kecewa. Saul, raja pertama Israel itu, tidak sesuai dengan harapannya. Samuel pantas kecewa sebab, ketika ada orang menolak Saul sebagai raja, hanya dirinyalah yang membela Saul. Dengan wibawa yang ada padanya, Samuel gigih menjadi juru kampanye Saul. Melalui undi, Saul akhirnya menjadi raja pertama di Israel.

Mulanya, Samuel beserta seluruh Israel menaruh asa besar pada diri Saul. Ia memang seorang panglima perang yang cakap. Atas pimpinannya, Israel menaklukkan orang-orang Amon yang mengepung orang Yabesh. Ia juga seorang pemimpin yang tegas sehingga  mampu mengonsolidasi kekuatan Israel. Namun, Saul tersandung ketika menangani orang Amalek. Bahkan, Agag, Raja Amalek, dibiarkannnya hidup. Saul beralasan bahwa semua ternak yang terbaik akan dipersembahakn kepada Tuhan (ay.15).

Apa pun alasannya, Saul telah melanggar perintah Allah. Itu jugalah yang ditegaskan Allah kepada Samuel: "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." (Ay.11). Allah menuntut Saul karena Dia adalah Tuhan dan Saul adalah hamba. Aneh rasanya jika hamba tidak taat kepada tuannya. Allah menuntut ketaatan Saul karena dia raja; pemimpin Israel harus menjadi teladan bagi rakyatnya.

 


Refleksi:

Menjadi pemimpin berarti menjadi teladan.

 

Mzm.23; 1Sam.15:10-21; Ef.4:25-32

Latest ARTICLE