10 July 2019 / Renungan Harian

KOMUNITAS EKSEMPLARIS


media

KOMUNITAS EKSEMPLARIS
Yosua 23:1-16

Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri …. (Yos. 23:6)

Eka Darmaputera, dalam pergulatannya mengenai model kehadiran gereja di Indonesia, mengusulkan agar gereja menjadi komunitas eksemplaris. Tidak hanya ikut (-ikutan) berpartisipasi membangun bangsa, tetapi berdiri kukuh dengan identitas dan prinsip kekristenan. Menjadi contoh dan teladan, bahkan siap memikul risiko.

Dalam pidato perpisahannya, Yosua juga mengingatkan kepada orang Israel di Kanaan agar hidup sebagai komunitas perjanjian. Mereka harus memegang teguh perjanjian dengan Allah, menjalani hidup dengan berpedoman pada hukum Musa. Perjanjian itulah yang memberikan kepada mereka identitas sebagai umat Allah. Karena itu, mereka harus hidup kudus di antara suku bangsa Kanaan. Mereka tidak boleh menyimpang ke kanan atau kiri, mengikuti pola, gaya hidup, dan keyakinan orang-orang Kanaan. Ketaatan mereka terhadap perjanjian dengan Allah mencirikan mereka sebagai umat pilihan-Nya. Tanpa itu, bukan saja mereka kehilangan identitas, kehadiran mereka pun akan menjadi tidak signifikan dan relevan.

Refleksi Darmaputera dan pidato Yosua memberikan kita pesan penting, yakni jika ingin kehadiran kita sebagai gereja dan orang percaya menjadi bermakna, maka kita tidak boleh sekadar ikut-ikutan arus zaman, supaya tampak bahwa kita sedang berpartisipasi. Partisipasi itu justru harus didasarkan pada identitas kita, berpijak pada kehendak Tuhan, sehingga kita dapat menjadi komunitas eksemplaris.

REFLEKSI:

Memberi contoh mesti dimulai dari hal-hal yang kecil, juga berangkat dari unit kehidupan yang terkecil, yakni dari keluarga.

Mzm. 119:73-80; Yos. 23:1-16; Luk. 10:13-16

Latest ARTICLE