20 April 2018 / Renungan Harian

Lembah Kekelaman


media

Lembah Kekelaman
Mazmur 23

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku …. (Mzm. 23:4)

Oma biasanya bergerak lincah, tetapi kini ia hanya bisa berbaring di kamarnya. Pengapuran pada kakinya makin parah. Pada waktu ia terjatuh, ada bagian tulangnya yang patah. Ketika saya dan tim pelawat datang melawat, hati kami terenyuh melihatnya. Tubuh tuanya makin kurus. Suaranya terdengar lirih tetapi jelas. Ketika saya membacakan Mazmur 23, air mata mengalir ke pipinya. Dengan tersenyum, ia memegang tangan saya dan berkata, “Sekarang saya tidak takut meski harus melewati lembah kekelaman. Saya tahu, ada Tuhan beserta saya.”

Istilah “lembah kekelaman” mungkin mengacu pada suatu tempat yang pernah dilalui oleh Daud dan teman-temannya pada waktu mereka melarikan diri dari Saul. Tidak jelas di mana tempatnya. Namun, hal yang ingin disampaikan Daud melalui ungkapan itu adalah kekelaman yang mereka rasakan saat itu. Mereka tidak tahu lagi ke mana mereka harus pergi dan berapa lama lagi mereka harus terus berjalan. Apa yang nanti akan mereka jumpai di akhir perjalanan mereka?

Saat harus melewati lembah kekelaman, kita tidak tahu apa yang akan kita jumpai di sana, berapa berat medan yang harus kita tempuh, dan berapa lama kita harus melaluinya. Namun, seperti yang dikatakan Daud, kita tidak perlu takut di sana karena ada satu yang pasti bagi kita, yaitu ada Tuhan. Dia adalah Gembala yang baik, yang berjalan beserta kita. Ia dapat menjamin keselamatan kita.



DOA:
Tuhan, ketika kami harus melewati lembah kekelaman, tolong kami untuk melihat bahwa Engkau beserta kami. Amin.

Mzm. 23; Kej. 46:28—47:6; Kis. 4:1-4

Latest ARTICLE