08 October 2017 / Renungan Harian

Menahan Diri


media

Menahan Diri

Yesaya 5:1-7

...dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. (Yes. 5:7)

Saat saya mengemudikan kendaraan, ada saja hal yang membahayakan saya. Ada kendaraan lain yang tiba-tiba berhenti sembarangan. Ada yang berbelok tanpa memberi tanda. Ada yang seenaknya menyalip dan sangat dekat dengan kendaraan saya.

Hati cepat sekali menjadi panas di tengah kericuhan lalu lintas. Umpatan seperti menggoda untuk meluncur dari mulut saya. Namun, saya sadar bahwa saya perlu memaksa diri untuk meredakan semua perasaan negatif tersebut. Satu hal yang saya renungkan adalah jauh lebih mudah untuk berbuat yang tidak benar. Menjadi marah, bersumpah serapah, atau membalas perbuatan buruk terasa seperti reaksi spontan yang alamiah. Sementara untuk menahan diri, tetap berada di jalur yang benar, sungguh-sungguh merupakan sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Banyak pergumulan serupa dapat kita alami dalam hidup sehari-hari. Berbuat dosa terasa jauh lebih mudah ketimbang menyangkal diri. Bukankah menyerobot antrian jauh lebih gampang daripada bersabar lama menunggu barisan panjang? Ada banyak naluri, refleks, dan reaksi spontan kita yang harus diredam dan ditahan agar kita bisa menjadi lebih seperti yang dikehendaki Tuhan. Tuhan menghendaki agar keadilan dan kebenaran dinyatakan dalam hidup umat-Nya. Kemampuan untuk menahan diri merupakan salah satu langkah pertama untuk mewujudkannya.

 


Doa:

Tuhan, mampukan kami untuk menahan diri dari reaksi spontan yang buruk. Amin.

 

Yes. 5:1-7; Mzm. 80:8-16; Flp. 3:4b-14; Mat. 21:33-46

Latest ARTICLE