27 May 2018 / Renungan Harian

Mengosongkan Hati Dan Pikiran


media

Mengosongkan Hati Dan Pikiran
Yohanes 3:1-17

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3)

Seorang murid datang kepada gurunya minta wejangan hikmat. Sejak datang, ia terus bercerita tentang dirinya dan persoalan hidupnya tanpa henti. Sang guru mendengarkan sambil menuang air teh ke dalam cangkir. Ia terus menuang teh itu hingga air teh meluap ke luar dari cangkir. Melihat hal itu, si murid segera menghentikan gurunya dan mengingatkan bahwa cangkir sudah penuh. Sang guru pun berkata, “Itulah pula yang terjadi dengan dirimu, Anakku. Hati dan pikiranmu sudah begitu penuh terisi dengan dirimu sendiri hingga tidak ada lagi ruang kosong. Oleh karena itu, aku tidak mungkin memberikan wejangan hikmat kepadamu karena pasti akan tertumpah ke luar.”

Yesus menegaskan kepada Nikodemus bahwa ia harus lahir kembali agar ia dapat melihat Kerajaan Allah. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama terkemuka. Selama hati dan pikirannya penuh berisi doktrin agama atau rancangan pikirannya sendiri, maka selama itu pula akan sulit bagi Nikodemus untuk mendapatkan hikmat dari Yesus. Nikodemus harus bersedia mengosongkan isi cangkirnya terlebih dahulu.

Kita pun juga demikian. Lahir kembali tidak hanya berarti bahwa kita meninggalkan kehidupan lama untuk masuk ke dalam kehidupan baru bersama Kristus. Lahir kembali juga berarti bahwa kita bersedia mengosongkan diri kita, hati dan pikiran kita, agar ada ruang kosong di mana Tuhan bisa mengisinya dengan hikmat-Nya untuk menuntun kita.


REFLEKSI:
Ketika hati dan pikiran kita penuh dengan diri kita sendiri, maka tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa untuk Tuhan.

Yes. 6:1-8; Mzm. 29; Rm. 8:12-17; Yoh. 3:1-17

Latest ARTICLE