01 March 2017 / Renungan Harian

Mengoyakkan Hati


media

Mengoyakkan Hati

Yoel 2:1-2, 12-17

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu... (Yl.2:13)

"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu..." (Yl.2:13). Demikianlah seruan Nabi Yoel kepada umat Israel. Di Israel mengoyakkan pakaian merupakan tanda kabung, yang menyiratkan pengakuan dosa. Itu bukan perkara gampang. Mengoyak berarti mencabik, merobek, dan membuat pakaian menjadi compang-camping. Bagaimanapun, banyak orang senang mengenakan pakaian yang bersih, rapi, bahkan licin. Dalam kasus itu, pengoyakan pakaian patut dipuji.

Namun, Nabi Yoel mengingatkan umat agar tidak hanya bertumpu pada pengoyakan lahiriah. Apalagi, jika pengoyakan pakaian itu malah menjadi ajang pamer kesalehan. Inilah bahaya tindakan kasat mata. Karena itu, Nabi Yoel menasihatkan umat untuk juga mengoyakkan hati. Pengoyakan hati tentu lebih sulit. Pakaian lebih gampang dikoyakkan karena berada di luar tubuh. Bagaimana dengan hati yang yang bersifat abstrak dan berada di dalam tubuh? Lalu, apa bukti bahwa seseorang telah mengoyak hatinya? Siapa pula yang menjamin bahwa hati itu telah terkoyak? Terkait dengan hati terkoyak, hanya dua pribadi yang sungguh tahu: diri sendiri dan Allah. Manusia tidak mungkin membohongi diri sendiri. Dan Allah, menurut Daud, "berkenan akan kebenaran dalam batin" (Mzm.51:8).

Dalam ibadah Rabu Abu, dahi umat diolesi abu. Janganlah tindakan itu juga menjadi ajang pamer kesalehan, melainkan setiap orang sepatutnya telah mengoyakkan hatinya.

 


Refleksi:

Pengolesan abu bukan ajang pamer kesalehan.

 

Yl.2:1-2, 12-17; Mzm.51:1-17; 2Kor.5:20b - 6:10; Mat.6:1-6, 16-21

Latest ARTICLE