27 May 2019 / Renungan Harian

MENJADI ANAK ALLAH


media

MENJADI ANAK ALLAH

Wahyu 21:5-14

“Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.” (Why. 21:7)

Jemaat kitab Wahyu menghadapi dua tantangan sekaligus; dari dalam dan luar jemaat. Dari luar, mereka diancam hukuman mati karena iman dan kesaksian mereka (Why. 6:9; 11:7). Alasan ancaman ini adalah karena mereka menolak untuk menyembah kaisar (Why. 13:1-18), dan mereka juga menentang kebejatan moral masyarakat Romawi (Why. 9:20-21; 18:4-5). Sedangkan dari dalam, mereka terancam oleh masalah-masalah yang dihadapi oleh anggota jemaat, juga masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para penyusup di tengah-tengah jemaat (Why. 2).

Di tengah-tengah situasi yang penuh dengan tekanan inilah, Tuhan berjanji, “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku” (ay. 7). Di dalam Alkitab, janji semacam ini hanya pernah diberikan kepada tiga orang saja, yaitu Abraham (Kej. 17:7), Salomo (2 Sam. 7:14) dan Mesias (Mzm. 89:27). Ini adalah janji yang sangat terhormat.

Namun, janji tersebut tidak berlaku begitu saja untuk semua orang. Janji itu hanya berlaku bagi orang yang tidak takut untuk tetap beriman kepada Yesus, apa pun juga situasi yang dihadapi. Janji itu bukanlah untuk orang-orang yang meninggalkan Yesus di tengah jalan, atau orang-orang yang tidak berakhlak. Bukan karena Tuhan kurang anugerah-Nya, melainkan karena anugerah Tuhan bukan anugerah murahan. Anugerah Tuhan merupakan anugerah yang berisiko.

REFLEKSI:

Kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang hanya mau menerima anugerah Allah, tetapi tidak mau menanggung risikonya.

Mzm. 93; 1Taw. 12:16-22; Why. 21:5-14

Latest ARTICLE