26 September 2018 / Renungan Harian

Menjadi Utusan Tuhan


media

Menjadi Utusan Tuhan

Yeremia 1:4-10 “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yer. 1:7)

“Ah saya tidak punya waktu, mungkin Pendeta cari orang yang lain saja untuk menjadi calon penatua”, “jangan saya, saya tidak pandai berdoa di depan orang banyak”, merupakan alasan yang sering dikemukakan orang ketika diminta untuk terlibat melayani. Yeremia pun memberi alasan untuk menolak panggilan Tuhan sebagai nabi: “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (ay. 6). Yeremia tahu betul bahwa menjadi nabi itu tidaklah menyenangkan. Sering seorang nabi harus hidup berbeda dari kebanyakan orang. Tidak selalu perkataan nabi didengarkan, bisa jadi ia malah dimusuhi karena menyampaikan perkataan kebenaran di tengah-tengah bangsa yang hidup dalam ketidakbenaran. Bagaimana pun Yeremia menolak, tetapi Tuhan memiliki rencana atas Yeremia. Tuhan berketetapan menjadikan Yeremia sebagai nabi yang menyuarakan firman Allah kepada bangsa-bangsa pada zamannya (ay. 9-10), dan Yeremia tidak bisa lagi menolak rencana Allah atas dirinya. Dalam menjalankan perutusannya sebagai nabi, Allah berjanji akan selalu menyertai Yeremia (ay. 8). Menjadi utusan Tuhan pada masa kini tentu ada banyak macamnya. Kita bisa diutus untuk memberikan teladan yang baik di dalam keluarga, di tengah-tengah lingkungan pekerjaan kita, dan di mana pun kita berada. Yang diperlukan adalah hati yang bersedia menyambut panggilan perutusan-Nya.


 REFLEKSI:

Sudahkah kita memiliki hati yang terbuka terhadap panggilan perutusan dari Tuhan? Mzm. 139:1-18; Yer. 1:4-10; Yoh. 8:21-38

Latest ARTICLE