29 March 2018 / Renungan Harian

Mimesis


media

Mimesis
Yohanes 13:1-17

Kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu ….” (Yoh. 13:14-15)

Tergetar! Itulah kesan saya ketika pertama kali mengalami pembasuhan kaki dalam acara inisiasi mahasiswa baru STT Jakarta. Kaki saya dan teman-teman mahasiswa baru dibasuh dan dicium oleh para dosen dan kakak tingkat yang hadir saat itu. Apa makna dari tindakan pembasuhan ini?

Mencuci kaki merupakan cara gereja “meniru” Yesus. Injil Yohanes mencatat peristiwa yang menggetarkan itu. Yesus adalah guru dan Tuhan, tetapi Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Lazimnya, kaki gurulah yang dibasuh para murid. Namun, bila Yesus melakukan yang tidak lazim, itu karena Ia sedang memberi teladan agar setiap orang saling melayani. Dengan membasuh kaki mereka, sesungguhnya Yesus sedang membasuh hati para murid-Nya dari egoisme dan kesombongan serta menunjukkan kepada mereka teladan dalam berbuat baik. Itulah teladan untuk saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka. Mengasihi berarti mau melayani dan mendedikasikan hidup kita bagi orang lain. Hal itu mesti dilakukan dalam terang kasih Kristus.

Di Kamis Putih ini, ketika kita mengingat hidup dan pelayanan Yesus Kristus, kita diajak untuk meniru (Yun. mimesis) apa yang sudah dilakukan Yesus. Itu berarti bukan sekadar mempraktikkan pembasuhan kaki di perayaan Kamis Putih, melainkan menghidupi jiwanya, yaitu merendahkan hati dan melayani dengan kasih. Itulah makna terdalam pembasuhan kaki.



REFLEKSI:
Pembasuhan kaki mesti disertai kerendahan hati dan kasih dalam melayani sehingga kita mendapatkan api dalam tradisi ini.

Kel. 12:1-4, (5-10), 11-14; Mzm. 116:1-2, 12-19; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-17, 31b-35

Latest ARTICLE