24 September 2017 / Renungan Harian

Orang Upahan di Kebun Anggur


media

Orang Upahan di Kebun Anggur

Matius 20:1-16

"Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Mat. 20:15)

Ada seorang ibu yang tetap bertahan dalam imannya kepada Tuhan Yesus. Padahal, suaminya yang dulu membawanya menjadi Kristen justru meninggalkan imannya untuk menikah lagi. Alasan ibu itu, "Saya jadi pengikut Tuhan Yesus bukan karena suami, tetapi karena saya yakin Tuhan sayang kepada saya".

Setelah berbicara tentang upah mengikut diri-Nya, Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya dengan keadaan yang mungkin terjadi bila mereka tidak dapat menjaga iman mereka. Perumpamaan Yesus tentang orang upahan itu adalah gambaran tentang Allah yang memiliki hak penuh dalam memberikan kasih karunia-Nya. Pekerja yang bekerja lebih dulu tidak bisa menuntut lebih dari sang tuan sekalipun sang tuan memberikan upah yang sama kepada pekerja yang bekerja belakangan. Semua sudah sepakat untuk menerima jumlah upah yang sama menurut kebesaran kasih karunia sang tuan.

Demikian juga halnya dengan hidup orang beriman. Baik kita yang sudah menjadi pengikut Tuhan sejak lahir atau mereka yang menjadi percaya belakangan sama-sama memperoleh upah karena iman berdasarkan kasih karunia Allah saja. Hal yang penting adalah bagaimana kita bisa tetap memperoleh upah itu karena kesetiaan kepada Allah Bapa. Jangan sampai upah itu hilang karena ketidaksetiaan kita.

 


Refleksi:

Kapan pun kita menjadi pengikut Yesus, tetaplah setia sampai akhir.

 

Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16

Latest ARTICLE