09 April 2017 / Renungan Harian

Pada Jalan Salib


media

Pada Jalan Salib

Matius 27:11-54

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. (Mat. 27:50)

"Speech is silver, silence is golden". Aforisme itu mengungkapkan bahwa ada waktunya ketika menutup mulut adalah pilihan terbaik. Pilihan itulah yang tampaknya dilakukan Yesus menjelang kematian-Nya. Matius mencatat hanya dua kali respon Yesus, yang pertama di hadapan Pilatus dan yang kedua di atas kayu salib. Adegan demi adegan yang dilukiskan begitu dramatis dan peristiwa penyaliban merupakan klimaksnya. Yesus tidak membalas semua tuduhan, perlakuan kasar, dan olok-olok terhadap diri-Nya. Ia tetap setia menjalankan misi-Nya sampai tuntas.

Membaca ulang cerita itu dapat menghantar kita pada perenungan makna mengikut Yesus. Ada banyak peran dalam cerita itu yang dapat menjadi cermin diri kita. Apakah kita seperti pilatus yang lebih memilih mengikuti hasutan para imam? Apakah kita seperti orang banyak yang lebih memilih Yesus Barabas ketimbang Yesus yang disebut Kristus? Apakah kita seperti serdadu yang menyiksa Yesus ataukah seperti Simon dari Kirene yang membantu memikul Salib Yesus? Mari kita hayati ulang kisah penyaliban itu dengan kesadaran sebagai pengikut Kristus masa kini.

Menyatakan kebenaran di tengah situasi yang menekan memang bukan perkara mudah, tetapi tetap bisa dilakukan. Yesus telah membuktikannya. Giliran kita sebagai pengikut-Nya. Maukah kita tetap setia dan berdiri di pihak kebenaran meski harus menempuh via dolorosa atau jalan salib?

 


Doa:

Tuhan, mampukan kami untuk tetap melakukan yang benar dalam situasi yang sulit sekalipun. Amin.

 

Yes. 50:4-9a; Mzm. 31:10-17; Flp. 2:5-11; Mat. 26:14 - 27:66/Mat. 27:11-54

Latest ARTICLE