09 January 2018 / Renungan Harian

Panik


media

Panik

Mazmur 69:1-6, 31-37

...aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang yang menghanyutkan aku. (Mzm. 69:3)

Bagaimana rasanya berada di dalam air yang makin lama makin tinggi menggenangi tubuh kita padahal kita tidak bisa berenang. Pasti kita akan panik, ketakutan luar biasa. Dalam kehidupan kita, ada banyak hal yang bisa membuat kita panik. Bisa karena penyakit kronis yang terus menggerogoti tubuh kita, keadaan ekonomi keluarga yang morat-marit, atau karena anak kita tiba-tiba mengalami kecelakaan lalu lintas.

Daud dalam kondisi panik. Ia melukiskan dirinya sedang tenggelam dalam rawa yang dalam dan tidak ada tempat lagi untuk bertumpu. Bagaikan orang yang dihempas gelombang, ia terbawa hanyut. Jelas itu bukan kondisi biasa-biasa saja. Musuh begitu banyak dan siap untuk melumatnya habis. Ia pun berteriak kepada Allah. Tampaknya bukan sekali dua kali Daud berteriak kepada Allah. "Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku" (ay. 4).

Bisa jadi dalam kondisi kritis, kita juga panik dan berseru kepada Allah. Mungkin juga kita merasa Allah diam saja, tidak peduli. Saat kita tak berdaya dan berseru kepada Allah, sering kali kita tidak sabar menanti pertolongan-Nya sehingga kita mencari jalan pintas yang alih-alih menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah baru. Belajarlah dari Daud, ia tidak putus asa, sebab Tuhan pasti menolong. "Kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!" (ay. 33).

 


Refleksi:

Bersabar dalam menanti pertolongan Tuhan adalah lebih baik ketimbang tergesa-gesa memaksakan diri mencari jalan pintas.

 

Mzm. 69:2-6, 31-37; Kel. 30:22-38; Kis. 22:2-16

Latest ARTICLE