12 March 2018 / Renungan Harian

Pengubah Kepahitan


media

Pengubah Kepahitan
Keluaran 15:22-27

Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. (Kel. 15:25)

Marah dan bersungut-sungut. Rasanya nyaris semua orang pernah marah dan bersungut-sungut. Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, orang lalu marah. Tatkala seseorang gagal, tidak meraih apa yang direncanakan atau diinginkannya, ia pun bersungut-sungut.

Bangsa Israel marah dan bersungut-sungut ketika dalam perjalanan mereka kehausan. Sedangkan air di oase yang mereka hendak minum rasanya pahit. Marah dan sungut-sungut mereka terasa wajar karena mereka sudah tiga hari tidak mendapat air. Bayangkan, tiga hari tidak minum. Kemarahan dan sungut-sungut mereka ditanggapi Allah dengan mengubah air yang pahit menjadi manis melalui sepotong kayu yang dilemparkan Musa. Momentum itu dijadikan sarana Allah mengajar Israel untuk bersungguh-sungguh mendengarkan suara-Nya. Suara Tuhan laksana madu yang manis bagi jiwa mereka di tengah kepahitan hidup yang dialami. Firman Tuhan adalah air yang sedap bagi jiwa yang haus. Dengan mendengarkan suara Tuhan, mereka akan disegarkan.

Pengalaman Israel cerminan bagi kita. Ketika kita marah dan bersungut-sungut karena pengalaman pahit yang kita alami, kita diingatkan untuk datang kepada Allah dan mendengarkan-Nya. Allah di dalam Yesus Kristus adalah mata air kehidupan. Siapa yang minum dari-Nya tidak akan haus lagi. Ia adalah penyegar jiwa yang telah mengubah kepahitan dengan sepotong kayu kasar di bukit Golgota.



REFLEKSI
:

Mendengarkan firman Allah di tengah masalah kehidupan kita laksana air oase bagi jiwa yang haus.

Mzm. 107:1-16; Kel. 15:22-27; Ibr. 3:1-6

Latest ARTICLE