08 March 2018 / Renungan Harian

Perjanjian Allah


media

Perjanjian Allah
Kejadian 9:8-17

Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.” (Kej. 9:13)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perjanjian adalah persetujuan, baik tertulis atau lisan, yang dibuat kedua belah pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang termuat dalam perjanjian itu. Alkitab juga berbicara tentang perjanjian (covenant), misalnya perjanjian Allah dengan manusia dan alam.

Allah membuat dan mengikat perjanjian dengan Nuh dan keturunannya sesudah peristiwa Air Bah. Allah berjanji tidak akan ada lagi hidup yang dilenyapkan oleh air bah. Sebagai tandanya, Allah menaruh pelangi di langit. Dengan melihat pelangi sebagai tanda di alam, Nuh dan keturunannya diingatkan pada kuasa dan kasih Allah bagi manusia dan alam semesta. Pelangi itu adalah tanda cinta Allah atas kehidupan. Bukan hanya manusia, melainkan segenap alam semesta mendapat kasih Allah. Allah berjanji untuk menjaga dan memelihara ciptaan-Nya. Dengan janji itu, manusia dan alam semesta mendapat kepastian akan masa depan kehidupan.

Suatu perjanjian seharusnya terjadi di antara dua pihak yang setara. Namun, dalam perjanjian antara Allah dan manusia itu, manusia tentunya tidak dalam posisi yang setara dengan Allah untuk menawarkan dan membuat perjanjian. Oleh karena itu, perjanjian itu adalah perjanjian anugerah, sang Pencipta dan Pemilik kehidupan mau merendahkan diri dan mengikat janji dengan manusia. Hal itu karena cinta Allah atas manusia dan seluruh ciptaan-Nya.


 

REFLEKSI:

Janji Allah adalah pegangan yang kokoh dan pasti untuk membangun kehidupan di tengah tantangan ketidakpastian.

Mzm. 107:1-3, 17-22; Kej. 9:8-17; Ef. 1:3-6

Latest ARTICLE