22 October 2018 / Renungan Harian

Permohonan dan Konsekuensinya


media

Permohonan dan Konsekuensinya
1 Samuel 8:1-18

Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.” (1Sam. 8:18)

Sepasang suami istri hampir putus asa menantikan kehadiran anak di dalam perkawinan mereka. Setelah bertahun-tahun berdoa, berharap dan juga berkonsultasi dengan dokter, lahirlah beberapa anak bagi mereka. Beberapa tahun kemudian, cerita suami istri ini berubah. Mereka mengeluh merasa sangat kelelahan menghadapi anak-anak mereka yang sangat aktif dan nakal.

Bangsa Israel telah ditolong oleh Tuhan keluar dari tanah Mesir. Selanjutnya mereka berdiam di Kanaan dan dipimpin oleh para hakim. Terjadi masalah karena para hakim yang memerintah tidak selalu bersikap adil dan jujur. Karena itu mereka menuntut Samuel yang saat itu masih menjadi hakim, agar mengangkat seorang raja bagi mereka. Mereka beranggapan kehadiran raja akan menyelesaikan persoalan mereka sebagai sebuah bangsa. Samuel memperingatkan bangsa Israel bahwa akan ada konsekuensi yang diterima atas permintaan itu, namun mereka tetap berkeras meminta raja.

Setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan manusia memiliki berbagai sudut pandang. Karena itu jangan pernah melihat hanya dari satu sisi saja. Demikian juga pada saat berdoa dan memohon sesuatu kepada Tuhan, kita perlu membuka hati dan belajar untuk melihat maksud dan kehendak Tuhan bagi kita. Bertindak bijaksana, tidak dibutakan oleh keinginan yang dimiliki, tidak memaksa Tuhan mengabulkan keinginan kita dengan mengabaikan konsekuensi yang mungkin terjadi.


DOA:
Kiranya Engkau terus mengaruniakan kepada kami hikmat agar kami mampu memahami kehendak-Mu atas kami. Amin.

Mzm. 37:23-40; 1Sam. 8:1-18; Ibr. 6:1-12

Latest ARTICLE