09 July 2019 / Renungan Harian

POLITIK DAN BISNIS AGAMA


media

POLITIK DAN BISNIS AGAMA
Kisah Para Rasul 19:28-40

Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” (Kis. 19:28)

Kafir! Kata ini terdengar keras, tetapi lantang dan sering diucapkan dalam konteks politik di Indonesia akhir-akhir ini. Bersama istilah “pribumi,” “aseng” dan “asing,” kata “kafir” sedang naik daun, imbas dari praktik politik agama di negeri ini. Agama dijadikan sebagai komoditas, baik ekonomi maupun politik.

Dalam sejarah kekristenan mula-mula, praktik politik agama rupanya dipakai juga oleh para pengusaha untuk di satu sisi membatasi perkembangan kekristenan, dan di sini lain mengambil dan melanggengkan keuntungan. Politisasi agama ini dilakukan oleh Demetrius, seorang pengusaha yang memasok patung-patung ke kuil-kuil di kota Efesus. Perkembangan kekristenan rupanya memberikan dampak terhadap bisnis mereka. Karena itu, ia membakar emosi rakyat dengan mengatakan bahwa pemberitaan Paulus akan membahayakan eksistensi agama rakyat Efesus yang menyembah dewa-dewi. Bahkan, dewi Artemis, dewi besar mereka berada dalam bahaya. Provokasi ini berhasil membangkitkan kemarahan massa.

Cara mengambil untung dengan politisasi SARA seperti yang dilakukan Demetrius terus terjadi, termasuk di Indonesia. Istilah “kafir” terus direproduksi untuk menjatuhkan orang yang berbeda demi mendapatkan kekuasaan. Praktik politik ini sangat membahayakan masa depan bangsa. Karena itu, praktik ini mesti ditolak dan tidak boleh ditiru. Jangan biarkan kebersamaan dan persatuan kita hancur oleh politik pecah-belah.

REFLEKSI:

Politik dan laku hidup yang kotor, yang menghalkan segala cara untuk sukses adalah cerminan dari akhlak dan jiwa yang egoistis dan rakus.

Mzm. 119:73-80; Yer. 8:4-13; Kis. 19:28-40

Latest ARTICLE