16 August 2018 / Renungan Harian

Saksi Palsu


media

Saksi Palsu
Kisah Para Rasul 6:8-14

Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat ….” (Kis. 6:13)

Pengadilan idealnya adalah tempat di mana orang mencari dan mendapatkan keadilan. Biasanya, untuk menyelesaikan sebuah perkara, pengadilan membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Agar dapat menimbang perkara dengan benar dan menghasilkan keputusan yang seadil-adilnya maka dihadirkan saksi-saksi. Seorang saksi harus memenuhi sejumlah kriteria, di antaranya: mendengar, melihat, mengalami dan merasakan sendiri kejadian di tempat perkara. Sebelum diminta menyampaikan kesaksiannya, seorang saksi pun akan diambil sumpah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kebenaran ucapannya.

Sayangnya selalu saja ada saksi yang menyampaikan kesaksian palsu. Mereka berbohong karena pelbagai alasan. Ada yang karena takut, benci, tetapi juga banyak yang sengaja “dibayar” agar lawan yang sedang beperkara dihukum seberat-beratnya.

Stefanus didakwa bersalah dengan tuduhan telah menista agama. Kepadanya disangkakan telah mengeluarkan kata-kata hujatan terhadap Musa dan Allah. Dakwaan itu tidak lepas dari rekayasa para pemimpin Yahudi yang dengan sengaja menghasut beberapa orang untuk mengungkapkan kesaksian palsu. Kesaksian palsu dan persidangan rekayasa berakhir dengan pembunuhan Stefanus. Bisa saja kita pun menjadi saksi dari sebuah perkara. Di situlah integritas kita diuji, beranikah kita menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah?


 

DOA:

Ya Bapa, kuatkan kami manakala kami harus menyatakan kebenaran. Amin!

Mzm. 34:10-15; Ayb. 11:1-20; Kis. 6:8-15

Latest ARTICLE