18 July 2018 / Renungan Harian

Serba Salah


media
Serba Salah
Lukas 7:31-35
 
Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.” (Luk. 7:32)
Saya mendapat meme menarik dari seorang teman tentang hidup yang serba salah. Tulisannya begini, “Mengucap salam dianggap basa-basi, menegur sapa dibilang sok akrab, kalau diam-diam saja dinilai sombong, bersikap ramah disangka penjilat, kalau biasa-biasa saja dianggap tak gaul. Maunya apa sih?”
‘Serba salah’ juga dialami Yohanes Pembaptis dan Yesus ketika orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak mereka. Coba kita lihat alasan penolakan mereka akan Yesus dan Yohanes Pembaptis seperti yang dicatat penulis Injil Lukas pada ayat 33-34: “… Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum.” Artinya, selalu ada alasan untuk menolak kebenaran yang Yohanes Pembaptis beritakan dan kebenaran yang Yesus nyatakan. Alasan yang mereka kemukakan untuk menolak menjadi sebuah pertanda bahwa mereka bertindak kekanak-kanakan. Namun demikian, penolakan orang Farisi dan ahli Taurat kepada Yesus tidak membuat Yesus marah kepada mereka. Panggilan untuk percaya tidak terjadi dengan paksaan tetapi dengan ketulusan dan kejujuran.
Hidup yang serba salah selalu menjadi bentuk perjalanan hidup yang tidak enak. Dalam situasi yang tidak enak seperti itu, kita selalu dipanggil untuk menjalani hidup dengan berhikmat (ay. 35).

REFLEKSI:
Hidup yang berhikmat adalah hidup dalam ketulusan dan kejujuran.
 
Mzm. 142; Am. 9:11-15; Luk. 7:31-35

Latest ARTICLE