26 March 2018 / Renungan Harian

Tanda-tanda Cinta


media

Tanda-tanda Cinta
Mazmur 36:6-12

Ya TUHAN, kasih setia-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. … Manusia dan hewan kau selamatkan, ya TUHAN. (Mzm. 36:6-7)

“Apa sesungguhnya yang aku cintai ketika aku berkata ‘aku mencintai engkau, Tuhan’?” Tanya Agustinus pada dirinya. Pertanyaan Agustinus itu penting untuk mencegah kehidupan agama yang sarat kemunafikan. Banyak orang mengaku cinta Tuhan, tetapi hal itu tidak lebih dari cinta diri yang dibungkus rapi dengan jubah agama.

Pemazmur menunjukkan bagaimana Tuhan menyatakan cinta-Nya. Cinta Tuhan keluar dari diri-Nya tertuju kepada manusia. Bahkan, hewan pun mendapatkan cinta Tuhan. Ini menunjukkan bahwa cinta Tuhan terarah bagi semua ciptaan-Nya. Cinta Tuhan tak bisa disekat apalagi dibatasi. Dalam cinta Tuhan, manusia berlindung. Itu berarti cinta Tuhan meneduhkan dan menenteramkan. Tuhan menghendaki semua ciptaan-Nya sejahtera. Hidup itu baik sebab Tuhan adil. Keadilan Tuhan tegak laksana gunung dan terbagi luas seperti samudra. Kasih dan keadilan Tuhan itulah yang dipuji Pemazmur. Itulah juga yang kemudian digenapi dalam hidup dan karya Yesus.

Apakah “tanda-tanda” cinta yang terarah keluar, menenteramkan, menyejahterakan, dan adil yang dimadahkan Pemazmur mewarnai praktik cinta kita? Tanda-tanda itu mesti nyata dalam relasi kasih dengan sesama. Sebab, tidak mungkin kita katakan kita cinta Tuhan, tetapi tidak mencintai sesama. Itu namanya kemunafikan. Karena itu, Agustinus mengajukan pertanyaan di atas.


 

REFLEKSI: Saat berharap cinta untuk diri sendiri, kita akan kehilangannya. Saat memberi cinta, kita akan mendapatkannya.

Yes. 42:1-9; Mzm. 36:6-12; Ibr. 9:11-15; Yoh. 12:1-11

Latest ARTICLE