20 May 2017 / Renungan Harian

Tidak Bersama, Tapi Sukacita


media

Tidak Bersama, Tapi Sukacita ?

Yohanes 14:27-29

"Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku." (Yoh. 14:28)

Mungkinkah perpisahan orang-orang yang saling mengasihi mendatangkan sukacita? Jawabnya: mungkin saja, terutama jika perpisahan itu terjadi demi kebaikan, demi meraih cita-cita yang lebih luhur, dan ada jaminan bertemu lagi di lain kesempatan. Meski ada kesedihan yang dirasakan karena perpisahan itu, tetap ada kedamaian dan sukacita di hati.

Ketika para murid tahu bahwa Tuhan Yesus akan berpisah dari mereka, mereka sangat sedih. Terhadap situasi yang demikian, Tuhan Yesus menghibur mereka dengan penuh kasih. Ia justru meminta para murid agar bersukacita. Alasannya ada empat. Pertama, karena Tuhan mengaruniakan damai sejahtera-Nya kepada mereka (ay. 27). Damai sejahtera itulah yang memampukan para murid melanjutkan hidup dan karya mereka di dunia. Kedua, Tuhan akan datang kembali (ay.28). Kepergian Tuhan Yesus bukan perpisahan abadi. Mereka akan bertemu lagi dengan Tuhan dan Guru mereka. Ketiga, sukacita itu justru adalah bukti bahwa mereka sungguh mengasihi-Nya (ay. 28). Keempat, Tuhan Yesus pergi kepada Bapa. Kepergian kepada Bapa menjadi bukti bahwa Ia adalah Allah sejati, Penguasa Surga dan Bumi.

Apa yang disampaikan Tuhan Yesus kepada para murid itu kiranya juga menjadikan kita hidup dalam sukacita. Meskipun Tuhan Yesus secara fisik tidak bersama dengan kita di dunia, Ia tetap memberikan damai sejahtera-Nya kepada kita. Ia adalah jaminan keselamatan kita.

 


Refleksi:

Bersukacitalah dalam hidup ini karena Tuhan mengaruniakan damai sejahtera-Nya dan jamionan keselamatan kepada kita.

 

Mzm. 66:8-20; Kej. 8:13-19; Yoh. 14:27-29

Latest ARTICLE