24 March 2017 / Renungan Harian

TUHAN Tak Dapat Disuap


media

TUHAN Tak Dapat Disuap

1 Samuel 15:22-31

"Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN?" (1Sam.15:22)

Di manakah letak kesalahan Saul? Bisa jadi ia memang ingin memberikan persembahan kepada Tuhan. Namun, masalahnya bukanlah persembahan itu sendiri, melainkan apakah Saul mengindahkan perintah Tuhan atau tidak. Mengindahkan perintah Tuhan berarti pula mengindahkan Tuhan. Lagipula, Tuhan tidak dapat disuap. Samuel menegaskan bahwa mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan dan memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan (ay.22). Itu berarti menjalani kehendak Tuhan ternyata lebih baik ketimbang segala perbuatan saleh yang tampaknya baik.

Kepada Jemaat di Efesus, Paulus menasihati, "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah" (Ef.5:1-2). Tentunya, kita hanya mungkin menuruti Allah ketika kita mau memperhatikan suara-Nya. Bagaimana mungkin kita dapat mengikuti kehendak-Nya jika kita tak pernah mau mendengarkan suara-Nya?

Yang pasti, Tuhan menegur Saul karena tidak menjalankan seluruh perintah-Nya. Saul telah menutup telinga terhadap perintah Tuhan. Ia lebih senang mendengarkan pendapat rakyat dan dirinya sendiri.

 


Refleksi:

Kadang kita menganggap pendapat kita sebagai suara Allah.

 

Mzm.23; 1Sam.15:22-31; Ef.5:1-9

Latest ARTICLE