05 November 2020 / Renungan Harian

BERTAHAN DALAM PENDERITAAN


media

Wahyu 8:6—9:12

Dan pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka. (Why. 9:6)

Harold S. Kushner bergumul dengan kenyataan bahwa Aaron, putranya yang berumur 14 tahun, meninggal karena penyakit genetik progeria yang tidak tersembuhkan. Banyak pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Jika memang alam semesta ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan yang baik dan pengasih, mengapa masih ada penderitaan dan kejahatan di dalamnya? Mengapa orang baik pun tidak lepas dari rasa sakit dan terluka? Semua pergumulannya itu ditulis Kushner dalam buku When Bad Things Happen to Good People

.

Mungkin pergumulan Kushner juga kita alami. Kitab Wahyu pun menggambarkan penderitaan manusia, termasuk umat Allah. Begitu beratnya penderitaan itu sampai orang pun lebih memilih untuk mati daripada hidup. Namun, di sisi lain, semua penderitaan itu tampaknya berada dalam kendali Allah. Sebab, sebelum penderitaan itu datang, malaikatlah yang terlebih dahulu meniup sangkakala. Dalam tradisi Israel, bunyi sangkakala adalah tanda dimulainya peperangan. Selain itu, Allah tampaknya juga memberi batasan terhadap kuasa-kuasa jahat yang muncul untuk menghancurkan. Batasan-batasan itu terkait dengan rentang waktu, proses, dan objek penderitanya.

Banyak hal tentang penderitaan yang tidak kita pahami dan membuat kita bertanya-tanya. Namun, keyakinan bahwa Tuhanlah Sang Pengendali segala sesuatu kiranya memampukan kita bertahan dalam penderitaan.

REFLEKSI:

Kesadaran akan keterbatasan kita memungkinkan kita menyadari ketidakterbatasan Tuhan.

Mzm. 78:1-7; Yos. 5:10-12; Why. 8:6-9:12

Latest ARTICLE